Feature
“Keset Rp10 Ribu, Dua Minggu Perjuangan: Kreativitas SLB Sumut Bicara di PRSU”
MEDAN, JAYAKARTA NEWS— Di sudut Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara di PRSU ke-50, sebuah keset kaki sederhana seharga Rp10 ribu tergeletak di atas meja. Sekilas tampak biasa, namun di balik anyaman kain itu tersimpan kisah dua minggu penuh kesabaran seorang siswa SLB Negeri Deli Serdang. Setiap jahitan adalah bukti perjuangan, setiap simpul adalah cerita tentang fokus yang harus dijaga dengan susah payah.
Tak jauh dari sana, lukisan penuh warna dan kerajinan tangan buatan pelajar SMA hingga SMK ikut menghiasi ruangan. Suasana tenang pada Kamis (30/7) sore membuat karya-karya itu seakan “berbicara” lebih lantang, menyampaikan pesan tentang harapan, ketekunan guru, dan semangat anak-anak yang tak pernah berhenti bermimpi.
Sore itu para pengunjung tampak mengamati setiap hasil karya dengan rasa ingin tahu, lalu mengabadikan momen melalui foto bersama teman-temannya. Di balik aktivitas sederhana itu, tersimpan rasa kagum terhadap hasil kerja keras yang dipamerkan.
Salah seorang siswi SMA Negeri 1 Percut Sei Tuan mengaku terkesan setelah mengunjungi Hall Dinas Pendidikan Sumatera Utara.
Menurutnya, pameran tersebut memperlihatkan potensi luar biasa dari berbagai sekolah di Sumatera Utara. Baginya, Hall Disdik Sumut ini menjadi salah satu lokasi yang paling menarik karena dipenuhi karya kreatif para pelajar.

“Senang lihatnya, keren-keren hasil karyanya. Begitu juga dengan karya dari teman-teman SLB,” ujarnya.
Kesan serupa juga dirasakan Nina yang datang bersama suaminya. Saat mengunjungi stan SLB, perempuan berhijab hitam itu mengaku kagum melihat hasil karya para siswa.
Perhatiannya tidak hanya tertuju pada produk yang dipamerkan, tetapi juga kepada para guru yang mendampingi proses pembelajaran.
“Saya salut dengan para guru SLB. Mereka mampu membimbing anak-anak SLB hingga termotivasi untuk punya kreativitas dan akhirnya bisa memiliki hasil karya,” ujar Nina.
Menyimpan Cerita
Di sudut Hall Dinas Pendidikan di event tahunan itu, stan-stan SLB tersusun rapi dengan berbagai hasil karya yang penuh warna.
Lukisan menghiasi di sekitar stan SLB. Di atas meja, berbagai kerajinan tangan dipajang dengan tertata. Ada pula aneka produk yang dapat dibeli langsung oleh pengunjung.
Setiap stan didampingi dua orang guru yang dengan sabar menjelaskan proses pembuatan karya kepada setiap pengunjung yang datang.
Beberapa sekolah yang berpartisipasi antara lain SLB Talenta Simalungun, SLB Negeri Deli Serdang, SLB Swasta Mendengar Bicara Medan, SLB ABC Melati Aisyiyah, dan SLB ABC TPI Medan.
Setiap karya yang dipamerkan bukan sekadar hasil keterampilan. Semua menjadi bukti perjalanan belajar yang berlangsung melalui proses panjang dan penuh kesabaran.
SLB Talenta hadirkan produk keterampilan siswa. SLB Talenta yang beralamat di Jalan Nenas, Perdagangan III, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun dengan membawa berbagai hasil keterampilan siswa ke Hall Pendidikan.
Guru SLB Talenta, Rusmini, S.Pd., menjelaskan stan mereka menampilkan rompi berbahan ulos, sarung bantal, keset kaki, tas, hingga aneka keripik singkong pedas dan lainnya.
Seluruh produk tersebut merupakan hasil pembelajaran keterampilan yang dilakukan di sekolah sebagai bekal kemandirian bagi para siswa.

‘Keset Kaki Perjuangan’
Di antara berbagai karya yang dipamerkan, sebuah keset kaki berbahan kain di stan SLB Negeri Deli Serdang menarik perhatian pengunjung. Harga yang tertera hanya Rp10.000.
Nominal itu terlihat sederhana. Namun, proses di balik pembuatannya menyimpan perjuangan yang tidak sederhana.
Guru SLB Negeri Deli Serdang, Rosmida Banjar Nahor, S.Pd., menjelaskan satu keset membutuhkan waktu hingga dua minggu untuk diselesaikan.
Keset kaki tersebut dibuat oleh siswa tuna grahita yang memiliki keterbatasan dalam mempertahankan fokus selama belajar.
Karena itu, setiap tahapan harus dilakukan secara perlahan.
Guru mendampingi siswa satu per satu. Potongan kain disusun sedikit demi sedikit sebelum akhirnya dibantu dalam proses menjahit hingga menjadi sebuah keset yang siap digunakan.
Kesabaran menjadi bagian penting dalam setiap proses belajar tersebut.
Selain membina siswa tuna grahita, SLB Negeri Deli Serdang juga mendidik anak-anak dengan autisme, tuna rungu, dan tuna daksa.
Mengenali Karakter
Menurut Rosmida, mengajar anak berkebutuhan khusus tidak dimulai dengan memberikan keterampilan langsung, melainkan secara bertahap (step by step)
Langkah pertama adalah mengenali karakter, sifat, dan bakat setiap anak. Setelah memahami karakter mereka, guru baru menentukan keterampilan yang sesuai.
Anak yang tidak memiliki kelenturan tubuh tidak dipaksakan belajar menari. Sebaliknya, guru mencari kemampuan lain yang lebih sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Bahkan ketika seorang anak belum mampu berbicara, guru tetap harus memahami bahasa tubuhnya.
Menurut Rosmida, guru SLB bukan hanya mengajar. Guru juga harus mampu membaca karakter, memahami bahasa tubuh, sekaligus menemukan potensi yang tersembunyi dalam diri setiap anak.
Kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari pengalamannya selama hampir enam tahun mengajar di SLB Negeri Deli Serdang.
Kesabaran Bekal Terbesar
Rosmida mengakui profesi guru SLB memiliki tantangan yang tidak ringan. Setiap hari guru harus mencari metode pembelajaran yang mudah dipahami oleh siswa agar mereka memiliki bekal untuk hidup mandiri di masa depan.
Di SLB Negeri Deli Serdang, anak-anak mulai mengikuti pendidikan sejak usia tujuh tahun.
Rosmida menilai akan lebih baik apabila sebelum masuk sekolah anak telah menjalani terapi di rumah sakit. Dengan begitu kondisi mereka dapat diketahui lebih awal dan pembelajaran menjadi lebih tepat sasaran.
Mengajar Menjadi Bentuk Pengabdian
Bagi Rosmida, menjadi guru SLB bukan sekadar pekerjaan. Ia memandang profesinya sebagai bentuk pengabdian. “Saya itu menabung sedikit untuk akhirat,” ungkapnya.
Ia meyakini tidak semua orang memiliki panggilan untuk mendidik anak berkebutuhan khusus dengan penuh keikhlasan.
Baginya, keberhasilan seorang murid menunjukkan bahwa guru mampu membangun komunikasi, memahami karakter, dan membimbing mereka hingga menghasilkan karya yang bernilai.
Keberhasilan itulah yang menjadi kepuasan terbesar dalam pekerjaannya.

Berharap Kesejahteraan Diperhatikan
Di balik dedikasi tersebut, Rosmida menyampaikan harapan agar kesejahteraan guru SLB mendapat perhatian lebih.
Menurutnya, perjuangan guru tidak hanya berlangsung di ruang kelas.
Ia mencontohkan dirinya yang setiap hari menempuh perjalanan dari Medan menuju Lubuk Pakam untuk mengajar sehingga membutuhkan biaya transportasi dan kebutuhan lainnya.
Ia berharap pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar kepada para guru yang telah mengabdikan diri mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.
Rosmida juga berharap pada penyelenggaraan PRSU berikutnya semakin banyak sekolah mengajak siswanya mengunjungi Hall Pendidikan.
Menurutnya, kunjungan tersebut akan membantu siswa memahami pendidikan reguler dan pendidikan di SLB sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus belajar.
Ia juga berharap harga tiket masuk bagi pelajar dapat dibuat lebih terjangkau dibandingkan tiket masyarakat umum.
Pesan Rosmida
Di akhir perbincangan, Rosmida menyampaikan pesan sederhana yang menjadi pegangan hidupnya selama mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Jangan putus asa. Orang yang berkebutuhan khusus bisa maju, yang penting semangat dan rajin.”
Kalimat singkat itu menjadi penutup yang menggambarkan semangat di Hall Pendidikan PRSU. Di balik setiap lukisan, kerajinan kerang, keset kaki, hingga rompi berbahan ulos, tersimpan perjuangan panjang, kesabaran guru.
Ada pula semangat anak-anak yang terus belajar melampaui keterbatasan serta harapan agar anak-anak berkebutuhan khusus terus mendapat kesempatan untuk berkarya, mandiri, dan dihargai oleh masyarakat. Seperti sebuah ungkapan yang selaras dengan semangat itu, “Anak berkebutuhan khusus tidak dikirim kepada orang tua yang spesial. Merekalah yang menjadikan orang tua menjadi pribadi yang spesial.” (Monang Sitohang)
