• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Peta Baru Timur Tengah

Peta Baru Timur Tengah

August 11, 2026
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

October 17, 2026
TEI 2026 Buka Peluang Kerja PMI, Rusia hingga Timur Tengah Jajaki Penempatan Tenaga Terampil RI

TEI 2026 Buka Peluang Kerja PMI, Rusia hingga Timur Tengah Jajaki Penempatan Tenaga Terampil RI

October 17, 2026
Membaca Jejak Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BNPB

Membaca Jejak Letjen TNI Kristomei Sianturi, Kepala BNPB

October 16, 2026
Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Cerita Dampingi Doni Monardo dalam Satgas Penanganan Covid-19

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Cerita Dampingi Doni Monardo dalam Satgas Penanganan Covid-19

October 16, 2026
Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

October 16, 2026
Empat Petugas Meninggal di Karhutla Bromo, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

Empat Petugas Meninggal di Karhutla Bromo, Khofifah Sampaikan Duka Mendalam

October 16, 2026
Nyawa Warga Ukraina Jadi Taruhan di Tengah Taktik Tekanan Politik Donald Trump

Nyawa Warga Ukraina Jadi Taruhan di Tengah Taktik Tekanan Politik Donald Trump

October 16, 2026
Cetak Pengusaha Baru, Partai Gelora Luncurkan Program ‘Nusantara Bisnis Academy’

Cetak Pengusaha Baru, Partai Gelora Luncurkan Program ‘Nusantara Bisnis Academy’

October 16, 2026
KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

KP2MI Gandeng Kemenperin, Pelatihan Pekerja Migran Kini Berbasis Kebutuhan Pasar

October 16, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Sunday, October 18, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Gentengisasi Terus Didorong untuk Gerakan Industri Genteng

    Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

    Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kabar

Peta Baru Timur Tengah

by admin
August 11, 2026
in Kabar
0
Peta Baru Timur Tengah
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Mekkah, Sunni, dan Akhir Ilusi Payung Amerika

Oleh : Heri Mulyono

Mekkah, 7 Agustus 2026 mengubah wajah geopolitik Timur Tengah. Arab Saudi, Turki, dan Pakistan menandatangani Mecca Joint Defense Agreement, pakta pertahanan bersama bergaya Pasal 5 NATO, di tengah perang Iran-Israel-AS yang memorak-porandakan tatanan lama kawasan.

Perjanjian itu diteken di Istana Al-Safa, disaksikan langsung oleh Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Ketiganya datang ke kota suci itu bukan tanpa alasan simbolis: Sharif bahkan menyempatkan diri menunaikan umrah sehari sebelum penandatanganan, seolah menegaskan bahwa pakta militer ini lahir dari rahim solidaritas keislaman, bukan sekadar kalkulasi kekuatan.

Pernyataan resmi hasil pertemuan itu berbunyi tegas: sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara akan dianggap sebagai serangan terhadap ketiganya. Klausul pertahanan kolektif ini nyaris identik dengan semangat Pasal 5 Traktat Atlantik Utara yang menjadi fondasi NATO sejak 1949. Bedanya, Mecca Joint Defense Agreement tidak dilengkapi struktur komando terintegrasi, perencanaan militer bersama, atau mekanisme koordinasi respons kolektif yang jelas sebagaimana NATO. Para pejabat Turki menyebut pakta ini murni defensif, tidak ditujukan kepada negara mana pun, terbuka bagi negara kawasan lain yang ingin bergabung, dan tidak membatalkan perjanjian bilateral maupun multilateral yang sudah ada sebelumnya.

Akar Sejarah: Dari Riyadh-Islamabad ke Mekkah

Mecca Joint Defense Agreement bukan lahir dalam semalam. Ia adalah puncak dari rangkaian negosiasi hampir setahun, dan berpijak pada fondasi yang sudah lebih dulu diletakkan Arab Saudi dan Pakistan. September 2025, kedua negara menandatangani Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis, yang kemudian diwujudkan secara konkret di lapangan: sekitar 8.000 tentara Pakistan, lengkap dengan jet tempur, drone, dan sistem pertahanan udara, kini digelar di wilayah Kerajaan Saudi.

Turki, di sisi lain, membawa jaringan aliansi yang sudah terbentuk di Qatar, Suriah, dan Libya. Bergabungnya Ankara ke dalam kerangka pertahanan bersama ini pada dasarnya memperluas payung keamanan yang selama ini sudah dibangun Erdogan di kawasan, sekaligus menambah bobot industri pertahanan yang signifikan. Kedua negara juga telah lama saling bertukar kapal perang dan pesawat latih, sementara Riyadh dikenal sebagai salah satu pembeli terbesar drone buatan Turki.

Yang membuat pakta ini istimewa adalah komposisi kekuatannya. Turki menyumbang kekuatan militer konvensional terbesar kedua di NATO. Pakistan adalah satu-satunya negara berpenduduk mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir. Arab Saudi menghadirkan kekuatan finansial dan bobot diplomatik yang sulit ditandingi negara Teluk lain. Kombinasi ini oleh sejumlah analis dijuluki sebagai cikal bakal ‘NATO Sunni’, meski istilah itu sendiri masih diperdebatkan karena absennya struktur komando bersama.

Konteks kelahirannya tak bisa dilepaskan dari eskalasi regional yang berlangsung sejak akhir Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar terhadap Iran. Sejak saat itu, Iran dan sekutu-sekutunya membalas dengan menembaki Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain, memblokade jalur pengiriman energi, sementara milisi Houthi di Yaman turut melancarkan serangan rudal. Negara-negara Teluk yang selama puluhan tahun bersandar pada jaminan keamanan Washington mulai mempertanyakan keandalan payung itu, dan mencari opsi tambahan tanpa sepenuhnya meninggalkan hubungan dengan AS.

Perlu dicatat, klausul pertahanan kolektif dalam Mecca Joint Defense Agreement tidak merinci bentuk konkret tindakan militer yang wajib diambil masing-masing negara bila salah satu diserang. Ketiadaan spesifikasi ini oleh sejumlah pengamat dianggap sebagai kelemahan sekaligus kelenturan: kelemahan karena efektivitas pakta akan sangat bergantung pada kemauan politik saat krisis benar-benar terjadi, namun sekaligus kelenturan karena memberi ruang bagi ketiga negara untuk menyesuaikan responnya sesuai konteks, tanpa terikat formula baku seperti yang mengikat anggota NATO.

Analis pertahanan Mansoor Ahmed dari Australian National University menilai kekuatan pakta ini justru terletak pada saling melengkapinya kapasitas ketiga negara. Turki dan Pakistan membawa industri pertahanan yang sudah mapan dan teruji, sementara Arab Saudi menyumbang kekuatan finansial dan potensi investasi teknologi yang besar. Namun Ahmed juga mengingatkan bahwa orientasi nuklir Pakistan selama ini tetap terarah pada ancaman yang dipersepsikan dari India, sehingga masuknya Islamabad ke pakta ini tidak serta-merta mengubah doktrin pertahanan intinya, melainkan menambah satu lapis komitmen regional di atas kalkulasi strategis yang sudah ada.

Amerika Serikat: Diam yang Penuh Makna

Hingga beberapa hari setelah penandatanganan, pemerintahan Presiden Donald Trump belum memberikan pernyataan resmi mengenai pakta ini. Namun para analis di Washington menilai sikap diam itu sendiri adalah sinyal. Sejumlah pengamat di Atlantic Council memperkirakan pemerintahan Trump, yang selama ini mendorong sekutu-sekutu utamanya untuk berbagi beban pertahanan secara lebih adil, kemungkinan akan memandang pakta ini secara positif selama arahnya tetap pada penguatan pencegahan kolektif terhadap Iran.

Kalkulasi Pakistan pun tak lepas dari hubungan dengan Washington. Islamabad berpotensi menjadikan perjanjian ini, sebagaimana pakta bilateralnya dengan Riyadh sebelumnya, sebagai alat tawar untuk mengingatkan Trump akan peran strategisnya di Timur Tengah, baik sebagai mediator jika perang mereda, maupun sebagai mitra jika konflik justru meluas kembali.

Namun di balik nada hati-hati itu, tersimpan pertanyaan yang lebih mendasar bagi Washington: apakah pakta ini menandai awal dari kawasan yang, dalam istilah salah satu analis senior di King’s College London, mulai memasuki era ‘pasca-Amerika’—bukan berarti tanpa kehadiran AS sama sekali, melainkan kawasan yang keamanannya tak lagi sepenuhnya bergantung pada kekuatan Amerika.

Israel: Kegelisahan di Tengah Pemilu

Bagi Israel, kelahiran Mecca Joint Defense Agreement datang pada waktu yang sensitif, tepat ketika negeri itu tengah bersiap menghadapi pemilihan umum. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan tengah mempertimbangkan implikasi pakta ini, namun responsnya hingga kini belum menentu.

Analis Yoel Guzansky dari Institute for National Security Studies menilai pakta ini, meski jauh dari ideal bagi Israel, tidak sepenuhnya menutup pintu normalisasi hubungan antara Riyadh dan Yerusalem. Menurutnya, Arab Saudi kemungkinan bergabung dalam pakta ini justru untuk menambah daya tawar dan opsi strategis, di tengah menurunnya kepercayaan pada Washington. Ia juga mencatat bahwa reputasi Israel yang kian dipandang sebagai kekuatan hegemonik di kawasan, ditambah kesan keterlibatannya dalam rentetan perang tanpa akhir, membuat pelukan erat antara Teluk dan Israel menjadi semakin sulit terwujud, kendati serangan-serangan Iran sempat memunculkan spekulasi sebaliknya.

Kegelisahan Israel diperparah oleh sikap keras Pakistan. Hanya sehari setelah pakta diteken, Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Muhammad Asif menyerukan perlunya ‘front militer bersatu’ menghadapi Israel, yang ia sebut sebagai ancaman. Pernyataan semacam ini menegaskan bahwa bagi Islamabad, dimensi anti-Israel dalam pakta ini bukan sekadar isu pinggiran. Bagi Turki sendiri, bergabungnya kekuatan ekonomi Saudi dan kekuatan nuklir Pakistan ke dalam satu kerangka pertahanan turut memperkuat daya cegah Ankara terhadap Israel, negara tetangga yang belakangan kian lantang menyuarakan permusuhan, terutama sejak serangan udara Israel ke Doha tahun sebelumnya yang memicu kekhawatiran akan perlunya pertahanan udara kolektif di kawasan Teluk.

Iran: Sikap Tenang yang Kalkulatif

Berbeda dari dugaan banyak pihak, Teheran justru menampilkan sikap tenang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan pihaknya tidak melihat alasan untuk khawatir bahwa pakta keamanan baru antara Pakistan, Turki, dan Arab Saudi ini ditujukan untuk melawan Iran. Baghaei bahkan menilai pakta ini mencerminkan adanya ‘perubahan persepsi’ terhadap Amerika Serikat di kawasan.

Sikap serupa sebenarnya sudah muncul lebih awal, ketika media pemerintah Iran merespons pakta pendahulunya, Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis Saudi-Pakistan pada September 2025, sebagai langkah yang tidak mengancam dan berpotensi menjadi fondasi kerangka keamanan kawasan yang lebih luas. Kalkulasi Teheran tampaknya bertumpu pada fakta bahwa ketiga negara penanda tangan secara eksplisit menyatakan pakta ini tidak diarahkan kepada pihak mana pun. Sikap ini pun diperkuat langsung oleh Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, yang menegaskan pakta tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyerang atau melenyapkan Iran, dan semata-mata bersifat defensif.

OKI, China, dan Rusia: Sambutan dan Kalkulasi Diam-diam

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) menjadi salah satu pihak yang paling cepat dan paling terbuka menyambut pakta ini. Sekretaris Jenderal OKI Hissein Brahim Taha menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh, menyebut perjanjian ini sebagai langkah strategis penting yang mencerminkan komitmen ketiga negara untuk memperkuat kerja sama regional maupun internasional. Taha menyebut pakta ini sebagai pilar fundamental bagi keamanan dan stabilitas di kawasan sekaligus di dunia Muslim secara keseluruhan, dan menyatakan harapannya agar perjanjian ini turut menyumbang perdamaian dan kemakmuran, baik bagi kawasan maupun komunitas internasional yang lebih luas.

Sementara itu, China dan Rusia—dua kekuatan besar yang selama ini menjalin hubungan strategis erat dengan ketiga negara penanda tangan, terutama lewat kerja sama energi dan pertahanan dengan Arab Saudi dan Turki—belum mengeluarkan pernyataan resmi yang eksplisit menanggapi pakta ini. Ketiadaan reaksi terbuka dari Beijing dan Moskow ini konsisten dengan pola yang lebih luas: kedua negara cenderung memandang positif setiap langkah yang mengurangi ketergantungan kawasan Timur Tengah pada arsitektur keamanan yang selama ini didominasi Washington, karena hal itu selaras dengan visi mereka tentang tatanan dunia yang lebih multipolar. Analis Nawaf Obaid dari King’s College London menyebut kemunculan pakta ini sebagai awal dari ‘Timur Tengah pasca-Amerika’, sebuah kerangka yang secara tidak langsung juga membuka ruang lebih besar bagi pengaruh Beijing dan Moskow di kawasan, tanpa mereka perlu terlibat secara langsung dalam pakta itu sendiri.

Di sisi lain, respons yang lebih berhati-hati justru datang dari New Delhi. Sikap India terhadap pendahulu pakta ini pada 2025 sempat dijaga tetap netral secara terbuka, meski di balik layar Perdana Menteri Narendra Modi dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan membahas dampak keselarasan tripartit baru ini. Sejumlah analis di Jerusalem Post bahkan menilai kemunculan Mecca Joint Defense Agreement, yang menyatukan rival lama India yakni Pakistan dengan dua kekuatan besar dunia Muslim lainnya, justru akan mempercepat kemesraan strategis antara New Delhi dan Yerusalem, dua negara yang sama-sama merasa perlu mencari mitra baru di tengah tatanan kawasan yang bergeser.

Menyusun Ulang Papan Catur Kawasan

Yang membuat Mecca Joint Defense Agreement layak disebut titik balik bukan semata isi klausulnya, melainkan konteks kelahirannya. Pakta ini muncul di tengah perang yang belum sepenuhnya usai, di saat kepercayaan negara-negara Teluk pada jaminan keamanan Amerika sudah retak lebih dari satu dekade, sebagaimana dicatat peneliti Kristian Coates Ulrichsen dari Baker Institute for Public Policy, Rice University. Ia menegaskan pakta semacam ini pada dasarnya tidak dimaksudkan untuk menggantikan atau menyingkirkan Amerika Serikat, melainkan menyediakan opsi strategis dan kebijakan tambahan bagi negara-negara di kawasan.

Analis lain, Sina Toossi dari Center for International Policy, menilai signifikansi pakta ini tidak terletak pada wujudnya sebagai aliansi militer formal, melainkan pada apa yang direpresentasikannya: bagaimana negara-negara kawasan tengah menata ulang cara pandang mereka terhadap keamanan pasca-perang Iran. Toossi menyebutnya sebagai salah satu tanda pertama bahwa tatanan regional sedang dibentuk ulang oleh dampak perang AS-Israel terhadap Iran.

Bagi Indonesia dan dunia Muslim yang lebih luas, kemunculan pakta ini patut dicermati bukan sekadar sebagai berita militer, melainkan sebagai penanda pergeseran arsitektur kekuasaan global. Ketika tiga negara dengan bobot berbeda—kekuatan finansial-diplomatik Saudi, kekuatan militer konvensional Turki, dan kekuatan nuklir Pakistan—bersatu di bawah satu payung pertahanan yang lahir di kota tersuci umat Islam, dunia sedang menyaksikan babak baru: sebuah Timur Tengah yang mulai belajar berdiri di atas kakinya sendiri, sembari tetap menimbang dengan hati-hati setiap langkah di antara Washington, Teheran, Yerusalem, Beijing, dan Moskow.

Bagi dunia Islam yang lebih luas, termasuk Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar, pakta ini juga membuka perdebatan baru tentang arti solidaritas keislaman di abad ke-21: apakah cukup diwujudkan lewat forum diplomatik seperti OKI, ataukah kini mulai bergeser ke bentuk komitmen keamanan yang lebih konkret dan mengikat. Jalan yang ditempuh Riyadh, Ankara, dan Islamabad menunjukkan bahwa sebagian kekuatan besar dunia Muslim tidak lagi puas hanya menjadi penonton dalam pergolakan kawasan mereka sendiri, meski mereka tetap berhati-hati untuk tidak sepenuhnya memutus tali dengan Washington maupun terjebak dalam konfrontasi terbuka dengan Teheran.

Pada akhirnya, Mecca Joint Defense Agreement adalah cermin dari sebuah kawasan yang tengah mencari keseimbangan baru: antara ketergantungan lama pada Amerika yang mulai diragukan, kewaspadaan terhadap Iran yang belum sepenuhnya reda, kegelisahan Israel yang terus bertambah, serta ruang yang perlahan terbuka bagi China dan Rusia untuk memperluas pengaruh tanpa perlu ikut menandatangani satu pun klausul di Al-Safa. Sejarah geopolitik Timur Tengah pasca-Perang Dingin barangkali baru saja menuliskan salah satu babak paling menentukan dari Mekkah, kota yang selama ini dikenal dunia sebagai pusat spiritual, kini turut menjadi saksi lahirnya arsitektur keamanan baru kawasan. (*)

Tags: mecca joint defensepayung amerika di saudi arabiapeta baru timur tengah
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

Doll Ghawiah: Mitos Boneka yang Meneror Keluarga di Bandung

October 17, 2026
BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

BPBD dan BPSDM Jatim Gelar Uji Kompetensi Kebencanaan

October 17, 2026
KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

KPK Sisir Kantor BNPB hingga Ruang Kerja Mantan Kepala BNPB Suharyanto

October 17, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version