Connect with us

Kesehatan

Penelitian: Konsumsi Air Kemasan tak Picu Gangguan Hormon, Risiko kanker dan Reproduksi

Published

on

JAYAKARTA NEWS— Mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) dari galon polikarbonat (PC) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan gangguan sistem hormon, gangguan reproduksi, maupun kanker. Hal tersebut terungkap berdasarkan penelitian Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga (Unair).

Penelitian menganalisis pola konsumsi AMDK, kandungan Bisphenol A (BPA) pada 10 merek air kemasan yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, serta kaitannya dengan berbagai keluhan kesehatan yang dialami responden. Hasilnya, tidak ada hubungan antara gangguan hormon dalam bentuk apapun akibat mengonsumsi air dari galon guna ulang PC.

“Penelitian ini tidak menemukan hubungan yang signifikan antara paparan BPA dari konsumsi air minum dalam kemasan dengan risiko kanker, gangguan reproduksi, maupun gangguan hormon,” bunyi kesimpulan penelitian tersebut dikutip InfoPublik, Jumat (3/7/2026).

Dalam pembahasannya, peneliti menjelaskan rendahnya risiko gangguan hormon akibat BPA yang ditemukan pada seluruh sampel air minum. BPA yang terdeteksi masih berada di bawah nilai ambang aman yang ditetapkan BPOM maupun batas Tolerable Daily Intake (TDI) dari Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA).

Dalam penelitian tersebut, seluruh sampel AMDK yang diuji mengandung BPA pada kadar yang masih jauh di bawah ambang batas aman. Konsentrasi BPA tertinggi tercatat sebesar 0,099 μg/L, sedangkan yang terendah 0,080 μg/L. Nilai tersebut masih jauh di bawah batas aman yang ditetapkan BPOM, yakni 0,6 mg/kg.

Analisis risiko kesehatan juga menunjukkan seluruh merek AMDK yang diteliti masih berada dalam kategori aman. Baik risiko non karsinogenik, risiko karsinogenik, maupun hasil evaluasi aktivitas estrogenik (EEQ) seluruhnya masih berada dalam batas aman.

“Penelitian juga tidak menemukan hubungan yang signifikan antara penggunaan air minum dalam kemasan dengan riwayat penyakit yang berkaitan dengan paparan BPA pada responden,” bunyi hasil penelitian tersebut.

Artinya, masyarakat perlu khawatir apalagi panik saat menggunakan galon PC karena air di dalamnya terbukti masih aman secara nyata dan ilmiah. Meski demikian, konsumen tetap harus memperhatikan dan lebih bijak dalam menyimpan serta memperlakukan galon PC guna lebih meminimalisir migrasi yang terjadi.

Terkait migrasi BPA, dokter spesialis penyakit dalam Laurentius Aswin Pramono mengungkapkan bahwa BPA akan keluar dari tubuh apabila terkonsumsi. Dia menjelaskan, , tubuh memiliki mekanisme super canggih untuk mengeluarkan zat-zat berbahaya yang secara tidak sengaja masuk ke dalam badan.

Konsultan subspesialis di bidang endokrinologi, metabolisme, dan diabetes ini melanjutkan bahwa tubuh akan mendetoksifikasi atau mengurai partikel BPA yang masuk melalui liver atau hati, lalu mengeluarkannya melalui urine dan keringat. Detoksifikasi ini membuat paparan BPA tidak sampai terakumulasi dalam tubuh sehingga tidak akan menyebabkan gangguan terhadap kesehatan.

“Dalam berbagai studi tentang BPA, paparan bahan kimia yang tidak kita konsumsi secara sengaja kecil sekali kemungkinan untuk mencapai kadar yang mengganggu kesehatan,” katanya.

Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga mengatakan bahwa semua BPA yang masuk bisa diekskresikan atau dikeluarkan secara alamiah dari dalam tubuh. Hal tersebut disampaikan WHO dalam forum panel yang beranggotakan 30 pakar dari Kanada, Eropa dan Amerika Serikat.

“Kadar BPA di dalam darah teramati sangat rendah. Ini menunjukkan BPA tidak terakumulasi di dalam tubuh dan dengan cepat akan diekskresikan melalui urin,” tulis WHO dalam keterangan resmi. (*/di)

Advertisement