Bebas Gaya, Santun dalam Rupa Digelar Oktober 2019

 Bebas Gaya, Santun dalam Rupa Digelar Oktober 2019
Pameran Seni Rupa Offline-Online (PSROO)

Jayakarta News – Pameran seni rupa offline-online (PSROO) bertema “Bebas Gaya, Santun Dalam Rupa” akan digelar di Yogyakarta pada 5-14 Oktober 2019. Pameran dikemas dalam dua versi yakni online dan offline. Versi online bisa diakses pengunjung lewat media sosial (IG, FB, Youtube, Website) sedangkan versi offline akan berlangsung di nDalem Djayaningratan, sebuah bangunan kuno peninggalan zaman Hamengku Buwono VII yang terletak di sisi barat Malioboro, tepatnya di Jalan Dagen, Sosrodipuran, Gedong Tengen, Yogyakarta.

“Pameran akan dibuka oleh Presiden Original Rekor Indonesia Guruh Susanto,” kata Sukoco Hayat DP, ketua panitia penyelenggara. Sukoco menyatakan PSROO terlaksana berkat kerja bareng PSRO (Pameran Seni Rupa Online) dan komunitas perupa Jogja yang tergabung dalam Sedulur Nyeni. “Kolaborasi pameran online-offline ini dipilih sebagai tindak lanjut Pameran Seni Rupa Online (PSRO) yang telah diselenggarakan selama dua kali. Para perupa PSRO menginginkan jumpa darat, karena itu pameran PSROO menjadi ajang yang tepat untuk meresponnya,” tambahnya. Sejumlah 150 perupa dari seluruh Indonesia, diantaranya anak-anak ikut ambil bagian dalam PSROO ini.  Beberapa pelukis papan atas rencananya juga akan ambil bagian.          

Sukoco Hayat bersama Tim panitya PSROO mempersiapkan Pameran Di nDalem Djayaningratan. (foto: nina)
Panitia pameran bersama manajemen nDalem Djayaningratan merembug soal teknis pelaksanaan PSROO.

Dua versi pameran yang akan digelar, online-offline ini, dimaksudkan agar ruang pamer menjadi lebih luas, di gedung dan di media sosial. Dengan demikian jangkauan publikasinya pun akan kian lebar. Waktu dan tempat untuk menikmati karya perupa menjadi lebih leluasa karena lewat dunia maya, kapan pun dan di mana pun pameran PSROO ini bisa diakses dengan bantuan hape cerdas. Para penikmat yang kebetulan berada di Jogja dan sekitarnya bisa menyaksikan karya para perupa secara langsung.  “Para kolektor atau penikmat seni yang menyaksikan secara online dan berniat melihat karya aslinya, bisa dengan mudah menjumpainya di nDalem Djayaningratan,” papar Sukoco.

Tema “Bebas Gaya Santun Dalam Rupa” ini diambil karena dua alasan. Pertama, “Bebas Gaya” memberi keleluasaan perupa untuk berkreasi sebebas-bebasnya. Perupa dari seluruh tanah air  dipersilahkan mengeksplorasi diri sejauh dan seluas mungkin. Kedua, “Santun Dalam Rupa” menyampaikan pesan bahwa karya visual yang tercipta tetap mengedepankan unsur etika, santun dan tidak berpotensi  menimbulkan konflik. “Unsur kebebasan yang tidak lepas dari etika dan budaya santun itu mencerminkan jati diri kita sebagai manusia Indonesia,“ kata Sukoco. (Ernaningtyas)

Sukoco Hayat dan Zen pelukis remaja yang ikut ambil bagian dalam PSROO. (foto: nina)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *