Smart City, Keinginan Versus Kebutuhan

 Smart City, Keinginan Versus Kebutuhan
Bupati Madiun berdiskusi tentang Smart City. (foto: ist)
Oleh: Joko Intarto

JAYAKARTA NEWS – Walikota baru Madiun berencana membangun Smart city. Konsep kota pintar itu keinginan atau kebutuhan?

Tiga jam sudah kami ngobrol. Di lobi Hotel Aston Madiun, Selasa siang. Sebenarnya masih kurang lama. Tapi kami harus segera ke Bandara Juanda. Pulang ke Jakarta.

Berbincang dengan Pak Maidi memang membuat kami hampir lupa waktu. Saking asyiknya. Saking serunya.

Walikota baru Madiun itu memang kaya gagasan. Terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam meningkatkan pelayanan publik dan kinerja aparat Pemkot. “Madiun harus bisa menjadi smart city,” kata Pak Wali.

Smart city akan menjadi back bone berbagai program Pak Wali yang akan dilantik 29 April nanti. Smart city diharapkan bisa menjadi jawaban atas keinginannya meningkatkan kualitas pelayanan publik untuk warga kota Madiun.

“Smart city bukan untuk gagah-gagahan. Tapi ini sudah menjadi kebutuhan. Masyarakat menuntut kami bekerja lebih baik. Melayani lebih cepat. Lebih aspiratif,” jelas mantan Sekda itu.

Pak Wali memang punya obsesi memajukan Kota Madiun. Agar bisa seperti Surabaya, Bandung dan Makassar. Yang sudah bergerak jauh mengimplementasikan teknologi informasi dalam pelayanan publik.

Pak Wali terkesan dengan berbagai layanan berbasis digital yang telah berjalan di kota-kota itu. Misalnya, pelayanan rumah sakit, pendidikan, perizinan, subsidi dan pelayanan sosial lainnya yang semakin baik. “Madiun harus bisa,” katanya.

Untuk itu, Pak Wali rajin bertanya. Berbelanja ide. Dari siapa saja. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang kota pintar yang dicita-citakan. Yang cocok dengan budaya dan memberi nilai tambah tinggi bagi kota Madiun. Terutama di mata warganya.

Kegiatan berbelanja ide ia lakukan jauh hari sebelum menjadi walikota resmi. Agar bisa langsung tancap gas begitu selesai dilantik. “Lima tahun itu pendek. Kita harus ngebut dalam membangun Madiun,” katanya.

Kapan akan diimplementasikan? “Smart city akan masuk dalam program kerja 100 hari pertama. Tahapannya cukup panjang. Bidangnya pun luas. Saya sudah membuat skala prioritas bidang apa saja yang akan didahulukan,” tegasnya.

Berdiskusi tiga jam dengan Pak Wali, saya menyimpulkan bahwa Pak Wali memahami Smart city bukan karena keinginan tetapi kebutuhan. Keinginan dan kebutuhan merupakan dua hal yang berbeda.

Anda boleh punya keinginan membeli mobil. Tapi mobil apa yang Anda butuhkan? Itulah rasionalitas. Itulah akal sehat. (*)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *