Debat Capres: Siapa yang Menguasai Panggung?

 Debat Capres: Siapa yang Menguasai Panggung?

Pangi Syarwi Chaniago, Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting –foto istimewa

Pangi Syarwi Chaniago, Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting –foto istimewa

JAYAKARTA NEWS—Debat keempat menjadi penampilan terbaik dari kedua kandidat capres, meskipun begitu masih ada beberapa catatan bagi penyelenggara terkait teknis debat. Demikian disampaikan Pangi Syarwi Chaniago, Analis Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, lewat rilis yang diterima redaksi.

“Debat keempat Prabowo sudah bisa “menyerang” gagasan dan kebijakan Jokowi, beliau menyerang gagasan tanpa menyerang “personal”. Prabowo kali ini berhasil mengambil ‘panggung’  debat yang mahal dan megah ini,” ujar Pangi.

Dalam debat, Jokowi juga kerap menggunakan istilah-istilah yang yang belum bersahabat dengan telingga seperti memakai istilah “dilan”. Meski maksudnya adalah “digital dan melayani” termasuk mengunakan istilah “Mal Pelayanan Publik” Jokowi mengunakan istilah di atas untuk menyasar kaum pemilih melenial, apakah Jokowi cukup berhasil menggaet suara melenial? Bedanya di mana?

Prabowo menyampaikan istilah tersebut disertai maksud dan artinya sementara Jokowi tidak menjelaskan maksud istilah tersebut seperti pada debat sebelumnya menyebut istilah “unicorn”.

Penampilan Jokowi maupun Prabowo dalam debat kali ini bisa dibilang sukses memainkan perannya masing-masing, debat sebelumnya seperti peran aktor yang tertukar.

Kedua kandidat tampil dengan karakter aslinya, Jokowi terlihat santai dan lebih kalem dibandingkan debat sebelumnya. Sebaliknya Prabowo tampil “garang” sejak menit awal debat dimulai, genuine Prabowo ini sepertinya sudah dinanti-nanti lama oleh para pendukungnya dalam panggung debat.

Prabowo kembali ke jati dirinya yang keras dan “tegas”, sementara Jokowi kembali ke jati dirinya yang “kalem” dan tenang, tidak menggebu-gebu menyampaikan capaian-kesuksesan pemerintahannya selama ini.

“Penampilan debat dari kedua kandidat lagi-lagi hanya akan menguatkan pendukungnya sendiri (strong voters). Saya pikir belum terlalu efektif daya pikat jangkauannya menarik pemilih rasional yang belum menentukan pilihan dan mengambang (undecided voters),” ujarnya.

Sebagai petahana paparan Jokowi terkait tema debat masih terlalu datar, kata Pangi, seharusnya  tampil lebih baik dengan asupan data dan “success story” pemerintah di bawah kepemimpinannya 4.5 tahun terahir. Hal ini tentu akan berdampak negatif terutama bagi pemilih rasional yang menilai pemerintah lemah atau malah dinilai gagal dari beberapa bidang strategis dalam tema terkait.

PRABOWO SANGAT AGRESIF

Sementara Prabowo tampil sangat agresif bahkan cenderung ofensif. Emosi tak terkontrol di tengah debat membuat citra positif diawal debat menjadi buyar. Imajinasi dari pemilih rasional akan mulai menerawang liar, dan ini sangat tidak menguntungkan. Kontrol emosi yang buruk ini membuat struktur sentimen yang awalnya mulai positif membuat pemilih swing voter resistensinya kembali menguat.

Kedua kandidat seharusnya lebih jeli membaca situasi, kondisi dan mampu memposisikan diri. Kedua kandidat harus menyadari bahwa dukungan yang mereka dapat hari ini sudah mulai mengkristal.

Sehingga segmen pemilih yang menjadi target debat adalah pemilih yang belum memutuskan pilihan politiknya “undecided dan swing voters” sebagai dewa elektoral “penentu” kemenangan. Dibutuhkan “maintenance” sentuhan khusus yang berbeda, tampilan debat semalam belum terlalu meyakinkan terutama untuk pemilih pada segmen ini.

Masih ada satu kesempatan debat lagi, kedua kandidat harus mempertimbangkan ini jika ingin memaksimalkan mendapatkan dukungan tambahan asupan dari dewa elektoral.***/ebn

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *