Saat Krisis, Bisnisnya Malah Booming

 Saat Krisis, Bisnisnya Malah Booming

kerajinan kayu jati disukai kalangan ekspatriat dan buyer asing

ali masrum tetap bertahan meski bisnis lesu

Ini cerita Ali Masrum tentang bisnisnya yang tetap survive meski krisis ekonomi menekan. Menurutnya, menjalankan bisnis di tengah perekonomian yang tengah sulit, bukan hal yang baru bagi Ali Masrum. Keadaan saat ini, ujar Ali, tidak seberapa dibanding dulu ketika krisis moneter melanda negeri.

Toh, ujarnya, bisnisnya tetap tegak berdiri. Bahkan, tutur Ali, dulu, di saat banyak bisnis ambruk, usahanya justru berkibar alias booming. Kenapa? Itu karena bukan hanya produk yang dijualnya memiliki kualitas jempolan tapi juga karena para pelanggannya adalah kalangan ekspatriat juga buyer asing. Saat sekarang, memang masalah perekonomian berbeda. Tapi katanya, dia tetap punya kiat untuk bertahan.

“Dulu,  saat Krismon saya justru sedang booming-booming-nya. Kenapa? Itu karena pelanggan saya terbanyak adalah kalangan ekspatriat seperti Korea, Jepang, Thailand, dll. Saat itu semuanya, baik toko, pameran, maupun bisnis retail juga ekspor semua jalan bagus,” ujarnya.

Padahal, tambahnya, kala itu bisnisnya bukannya tidak ada saingan. Justru banyak sekali ‘pemain’ yang juga menekuni bisnis kerajinan kayu jati. Hanya saja, banyak yang menyukai produknya karena finishingnya yang halus. “Yang jadi andalan produk saya selain kualitas adalah finishing produk. Itulah makanya produk saya terlihat berbeda. Jadi begini, saya membeli produk mentah dari sentranya, kemudian saya perkuat dengan finishing yang bagus.”

“Karena, terus terang saja, kalangan mapan  suka sesuatu yang perfect. Itu semua saya kerjakan sendiri. Finishing itu saya belajar dari pengalaman puluhan tahun menggeluti bisnis ini, akhirnya ketemu formulanya. Meski ini kerajinan tapi saya menggunakan finishing mebel, makanya tampak beda,” ungkapnya.

Bisnis yang berkembang juga membuka kesempatannya untuk memulai mendesain sendiri sejumlah

produknya. “Kebahagiaan terbesar, kepuasan tak terkira ketika produk desain kita digemari konsumen. Jadi saya membuat beberapa desain, tidak semua. Alhamdulilah banyak yang suka,” katanya.

Berbicara tentang persaingan, salah satunya dengan pencurian desain, ternyata Ali telah beberapa kali mengalaminya. Tapi itu tidak membuatnya kapok, dia tetap tak sungkan memamerkan produk desain terbarunya. “Wah kalau soal pencurian desain, sering. Ada saja cara mereka. Misalnya, suatu ketika ada orang datang ke saya minta dibuatkan desain meja dengan ukiran, dia memberi foto kemudian minta saya mendesain ulang.”

“Saya buat desain itu sampai tiga hari tidak tidur. Setelah desain saya dibawa, tak terdengar lagi kabarnya. Ternyata orang itu mengambil desain saya dan memesan pada orang lain. Wahhh! Tapi begitulah, saya bisa apa. Ya sudah, saya alhamdulilah saja. Rejeki tak lari kemana. Ada juga yang minta saya bikin desain, tapi kemudian tidak diambil. Akhirnya saya produksi sendiri, dan ternyata laris manis,” ungkapnya.

Jadi, kata Ali lagi, menyikapi berbagai permasalahan termasuk soal pencurian desain atau sikap-sikap curang orang lain, dirinya tak mau terlalu memusingkan. “Saya santai saja, biar saja. Rejeki sudah diatur Yang Di Atas,” katanya.

JANGAN MENYERAH, TETAP OPTIMIS

Bicara tentang kelesuan bisnis seiring dengan lemahnya perekonomian dalam negeri, Ali mengaku bisnisnya pun ikut terdampak, bahkan gejala itu sudah dirasakannya sejak 2012. “Yang namanya bisnis pasti up-down. Sudah biasa. Asal bisa bertahan saja sudah bagus. Yang penting kita jangan menyerah, tetap optimis dan mencari strategi bagaimana meningkatkan penjualan produk,” kata Ali.

Dulu misalnya, karena pemesanan dari pabrik cukup tinggi, ia menerapkan sasaran 50% pabrik 50% retail. Namun ketika perekonomian lesu, pemesanan dari pabrik-pabrik menurun drastis. “Akhirnya saya banting setir. Sekarang saya fokus di retail dengan memperbanyak jumlah gerai di berbagai daerah. Ternyata strategi ini cukup manjur karena penjualan ikut terdongkrak,” ungkap Ali yang sebentar lagi akan membuka dua gerai di Bandung, Jawa Barat.

Dia berharap perekonomian segera pulih sehingga para pengusaha, khususnya UKM seperti dirinya, bisa tetap bertahan. “Di usia sekarang saya tidak punya niat untuk pindah ke bisnis lain. Asal usaha ini bisa berjalan stabil saja sudah bagus, kok,” kata anak kesembilan dari 11 bersaudara ini. ***

 

 

 

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *