Resensi Buku: Kemewahan Diksi dalam Kisah Gelap

 Resensi Buku: Kemewahan Diksi dalam Kisah Gelap
  • Judul               : Dari Humba ke Santiago
  • Penerbit          : Padmedia
  • Tebal buku      : 222 halaman
  • ISBN                : 978-623-5654-00-3

JAYAKARTA NEWS – Pencinta diksi perlu membaca ini. Antologi cerpen ini sesuai deskripsi dari pengantar mentor, Wina Bojonegoro. Menjalin kata-kata dengan catatan peristiwa. Begitulah kurang lebih cerita pendek dalam kumpulan ini. Humba dan Santiago pantas menjadi judul. Nama tempat yang seolah mengajak pembaca dalam perjalanan. Namun bukan buku tentang destinasi, bukan. Ini memang buku tentang perjalanan, perjalanan kehidupan.

Memuat 22 cerpen dari 21 penulis, kekayaan diksi tampak hampir di setiap tulisan. Pemilihan diksi dipilih dengan hati-hati, dan memberi kesan mewah. Kata-kata yang jarang digunakan bertebaran di dalam antologi. Kemewahan menyantap diksi yang terasa kaya rasa, tapi tak berlebihan. Rasanya alami lahir dari bahan bermutu dan cara pengolahan yang tepat. Bukan sekadar menambahkan penyedap rasa ke dalamnya.

Meski begitu, hidangan ini tidak disajikan dengan gaya resto. Tak seperti layaknya menikmati hidangan kelas Michelin, hidangan tidak dimulai dengan appetizer. Buku langsung masuk ke dalam aneka main course. Hidangan dari pelbagai sudut, tengah, hingga tepian beragam tempat. Langsung berkelindan dengan persoalan manusia. Persoalan keseharian tapi membuka tabir hingga ke relung gelap. Dari kenangan kanak tentang bapak di awal hingga permainan proyek dan dendam sekawan di akhir buku. Hampir semua mampu melahirkan sisi liar imajinasi dibalut cerita mengalir.

Penyuka cerita mendayu dan klise yang banyak hadir bahkan viral, akan terpenjara di sini. Buku ini meski ditulis dalam kelas penulisan, memiliki keberanian berbeda. Para penulis, tampaknya cukup pandai meriset dan menata deskripsi yang baik. Pembaca mampu diajak berselancar ke pelbagai tempat dengan karakter yang berbeda dari satu cerita ke cerita lainnya. Pun mampu hadir dengan karakter dari kelas masyarakat yang beragam. Kisah kultural potong rambut gimbal, justru menjadi satire ketika dikawinkan dengan realitas sosial akibat pilihan tokoh. Cerita soal pilihan sederhana antara dua kekasih, harus digantung karena kematian berdarah. Hingga kisah reuni yang dikira berujung manis ternyata menjadi jembatan dendam.

Buku ini menjadi sebuah bukti bahwa sastra tak harus berat. Bahasa indah tak melulu hanya kisah romansa.  Diksi yang dipilih dengan baik, mampu menyempurnakan cerita tentang apa saja. Perjalanan kecil manusia dalam satu sisi hidup, bisa mempengaruhi sepanjang kehidupannya kemudian.

Meski begitu, apa yang dikhawatirkan Wina Bojonegoro dalam pengantar, kita jumpai juga. Tulisan-tulisan masih tampak memiliki gaya yang mirip. Kisah yang disajikan beberapa masih terasa klise. Meski dibungkus keunikan deskripsi tempat, kultur, dan ragam kelas sosial terutama kaum marginal kota, cerita masih kesulitan mengajak pembaca ikut merasakan. Cerita masih menjadikan pembaca penonton lakon. Tapi memang perlu jam terbang untuk membagikan kisah dengan kedalaman rasa. Tetapi jam terbang bagi penulis kelas akselerasi ini, jam terbang cuma soal kesempatan. Modal kemampuan sudah sangat luar biasa. Tabik. (dw)

admin

1 Comment

  • Natur nuwun ulasannya akan membuat murid2 belajar lebih keras dan berlatih lebih giat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *