Nggowes Boleh, Sehat Harus!

 Nggowes Boleh, Sehat Harus!

Sekit mendadak di saat sedang bersepeda. Karenanya, kenali diri Anda sebelum memulai nggowes. (ist)

Jayakarta News – Tiap bulan ada saja berita duka yang menyebutkan goweser meninggal saat sedang mengayuh pedal. Paling hangat terjadi Minggu lalu di bilangan Alam Sutera, Tangerang. Pesepeda terkena serangan jantung ketika sedang nge-loop bersama kawan-kawannya. Inalalihi Wainailaihi Rojiun.

Karenanya, untuk kesekian kali saya posting kembali testimoni adik saya ini. Semoga bermanfaat dan membuat kita semua dalam kondisi prima saat bersepeda. Memang agak panjang. Namun jika kita baca sampai habis orang menjadi paham kenapa ada saja musibah goweser yang kemudian menyebabkan kematian.

Selamat membaca.

Bersahabat dengan Penyakit

Vonis dokter itu saya sambut dengan hamdalah. Sungguh saya merasa bersyukur mengetahuinya setelah aktifitas olahraga outdoor yang saya lakukan belakangan. Mulanya hanya keluhan soal lambung (gastro), siapa sangka merembet kemana-mana.

Saya pasti menduga temen-temen — akan mengatakan, “tidak mungkin.” Tapi apa yang tidak mungkin jika sudah Qadurallah. Meminjam ungkapan Prof. Dr. dr. Idris Idham, Sp.JP(K), FIHA, FESC, FACC, FAsCC ketika saya berkonsultasi, “jangan banyak bertanya kenapa? Itu tandanya Allah masih sayang kamu.”

***

Saya menyenangi aktifitas olahraga outdoor sejak SMP dan akhirnya tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam. Terakhir saya naik gunung tahun 1991 —setelah bekerja. Tahun 2006 saya mulai tertarik dengan sepeda (MTB) dan tahun 2007 mulai kena racun B2W. Sampai 2017 masih rutin B2W Rabu-Jumat dengan rute Tangerang-Salemba Jakarta.

Sabtu atau Minggu saya gunakan untuk rute ‘agak’ jauh atau bermain cross country. Istilahnya kalau ada trek XC pasti kita jajal. Setidaknya Serang, Cilegon, Puncak, Cipanas, UI, Bandung dan Sukabumi serta beberapa trek diseputaran Jabodetabek. Akhir tahun 2017 sampai pertengahan 2019 aktifitas B2W berkurang seminggu sekali dan terkadang tidak B2W. Namun setidaknya sabtu atau minggu masih gowes. Lumayan masih bisa dapat jarak 30an km.

Sepanjang periode 2017-2019 saya selalu membawa sepeda lipat (seli) setiap tugas keluar kota. Alasannya sederhana agar bisa kemana-mana. Setidaknya; Ke Pantai Derawan (Berau), Banjar Baru (Kalsel), Sorowako (Bukit Cinta), Kuta-Uluwatu-Pendawa, Malang-Bromo, Tomohon (Menado), Kelok 44, Kelok 99, Bukit Tinggi, Painan (Padang), Pos 1 Gn Rinjani (Lombok), Giribangun (Solo), Kali Kuning (Gn Merapi), dan beberapa kota lain.

Awal tahun 2018 anak-anak mulai mengusik hoby lama saya: trekking. Jadilah saya membersihkan keril dan perlengkapan mendaki. Diawali dengan Gn Papandayan, lalu Gn Prau, Gn Gede, Gn Pangrango, Gn Cikurai, dan terakhir Gn Batur. Semuanya happy. Demikian juga dengan anak-anak yang banyak bertanya soal tips bermain dialam.

Semua aktifitas itu saya lakukan tanpa ada keluhan berarti …..

***

Kenali diri Anda sebelum nggowes, agar tidak terjadi sakit mendadak. (ist)

Sabtu, 24 Agustus 2019 saya merasa perut sangat penuh dan tidak nyaman. Sekitar pukul 16.00 saya minta antar istri ke UGD disalah satu RS Swasta di Tangerang. Setelah diobservasi saya divonis dispepsia. Namun hasil EKG menunjukkan ada masalah di jantung sehingga harus observasi.

Ketika hasil EKG saya tunjukkan kepada Prof Idris, beliau meminta saya melakukan serangkaian test untuk memperkuat diagnosa. Hasilnya peran jantung 27%, ada gangguan lever dan fungsi hati. Guru Besar UI ini meminta saya melakukan kateterisasi agar bisa diketahui posisi penyumbatan. Hasilnya: penyumbatan total 100% dan dua penyumbatan intermediate 80% di posisi jantung sebelah kiri.

Tindakan dilakukan pada Rabu 28 Agustus 2019. Hamdalah ketiga penyumbatan mampu digelontor dengan sempurna dan untuk menjaga elastisitas dipasanglah stent untuk memperkuat laju darah. Selanjutnya tinggal memperbaiki beberapa penyakit lain. Sungguh saya menjalani semua itu tanpa beban (ikhlas) dan justru bersyukur.

***

Rasa ikhlas dan syukur di picu oleh: seandainya saya terkena serangan jantung pada saat sedang melakukan aktifitas outdoor di 2 bulan terakhir July-Agustus 2019. Karena 17 Agustus masih Gowes di Jalur Naga, 25 July  gowes di Pekanbaru, 21 July Hikking ke Gn Batur, dan 6 July Gn Cikurai.

Saya tidak bisa membayangkan jika terjadi accident di Gn Cikurai atau Gn Batur. Karena saya hikking bersama anak-anak. Dan bagaimana traumatisnya kelak. Itu yang membuat saya bersyukur dan ikhlas menerima penyakit. Laa ba’sa thohurun insyaallah.

***

Lantas bagaimana saya divonis Jantung padahal aktifitas olahraga saya cukup baik. Meskipun makan terkadang tidak terkontrol. Beberapa dokter pun bingung ketika saya tanyakan. Kok bisa. Apalagi dalam dua bulan terakhir saya mampu melakukan hikking dua gunung dan mampu bersepeda lebih dari 30km. Kolega kantor dan beberapa teman pun mengatakan tidak mungkin.

Saya mencoba menarik kesimpulan sendiri; ternyata satu hari sebelum naik Gn Batur saya mengalami batuk-batuk yang disertai keringat dingin. Kejadian sama juga saya alami di salah satu sepuluh hari terakhir ramadhan 1440 H. Jika itu dikatakan sebagai serangan jantung. Wallahualam bishawab.

Lalu saya memiliki sugesti memiliki darah tinggi, sehingga suka mengkonsumsi obat hypertensi tanpa konsultasi dokter. Lalu, ternyata saya juga punya riwayat keturunan penyakit jantung. Saya juga lemah dalam memahami signal keluhan tubuh. Bahwa serangan jantung tidak harus disertai nyeri dada, kram tangan, ataupun nafas sesak. Karena ketiga hal tersebut tidak saya alami.

Mengutip jawaban salah satu dokter yang menangani saya, “Penyakit melakukan adaptasi terhadap tubuh. Karena bapak sangat aktif berolahraga.”

Jadi all sahabat;

1. Mari kita perkuat pemahaman signal tubuh. Sekecil apa pun…

2. Kenali dulu penyakit anda kemudian bebas menentukan kuantitas dan kualitas olah raga

3. Lakukan kontrol dokter secara kontinu jika anda memiliki riwayat penyakit.

4. Jika anda berumur lebih dari 40th ada baiknya melakukan medical check-up setidaknya setahun sekali.

5. Sehat penting tapi jauh lebih penting mengetahui kualitas tubuh (fisik)

Semoga bermanfaat…. (Catur Prasetyo)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *