Meski Ilegal Kepemimpinan Majelis Sinode GPIB 2015-2020 Arogan Tetap Lakukan Sertijab Ketua Majelis Jemaat GPIB

 Meski Ilegal Kepemimpinan Majelis Sinode GPIB 2015-2020 Arogan Tetap Lakukan Sertijab Ketua Majelis Jemaat GPIB

Sertijab KMJ GPIB Petra ke PLt KMJ Pdt. Febrioala Waluyo Pierits oleh MS GPIB Penatua Ronny Wayong

JAYAKARTA NEWS—– Meski Ilegàl tak sesuài Peraturan/Tata Gereja GPIB, akhirnya setelah bersoal jawab selama 4 jam tentang legitimasi kepengurusannya, kepemimpinan Majelis Sinode 2015-2020 arogan tetap melakukan serah terima jabatan (Sertijab) KMJ.

Sertijab yang dilakukan Ketua Majelis (KMJ) GPIB Petra DKI Jakarta kepada PLT KMJ Pdt. Febriola Waluyo Pierits, Sabtu (7/11/20) dalam Sidang Majelis Jemaat ( SMJ) khusus di Graha Petra Jl Jampea Jakarta Utara itu tampak sekali MS ini tak peduli dengan 86 Presbiter dan sedikitnya 100 jemaat GPIB Petra DKI yang mempertanyakan legitimasi MS yang telah berakhir Sabtu (31/10/2020) lalu.

Hal tersebut disayangkan sejumlah Penatua dan Diaken yang berupaya menolak sertijab tersebut karena kepemimpinan MS GPIB itu sudah berakhir (31/10/2020) minggu lalu. ‘’Jadi karena sudah berakhir kami mempertanyakan legiitimasi kepemimpinan MS ini legal kah melakukan sertijab ini. Seharusnya itu tidak dibolehkan sampai kepengurusan yang sah terpilih dalam Persidangan Sinode sesuai tata gereja Peraturan Pokok No. 3 ayat 1 dan 2 serta Pasal 7 tentang masa tugas 1,2, 3,’’ urai Penatua GPIB Jemaat Petra Tonny Manuputty

Menurut utusan MS yang diwakili Bendehara MS Penatua Ronny Wayong, pihaknya sudah mengirim surat kepada 2/3 anggota GPIB di seluruh Indonesia dan mendapat jawaban bahwa Persidangan Sinode ditunda hingga Oktober tahun 2021 karena sudah konsultasi kepada pemerintah da pihak terkait MS ditunda karea adaya pandemi Covid-19 ini. ‘’Itu kan yang dikirim ke jemaat anggota GPIB lainnya hanya hak angket yang mempertanyakan penundaan Persidangan Sinode (PS). Seharusnya PS bisa dilakukan dengan cara virtual bukan dengan mengirim surat. Ini arogansi MS tetap melakukan sertijab meski tidak punya legalitas lagi,’’ tambah Penatua Tonny Manuputty.

Sebelumnya kepemimpinan Majelis Sinode GPIB 2015′-2020 membantah berita yang menyatakan pemutasian KMJ GPIB Petra DKI tanpa konfirmasi kebenaran dengan KMJ Petra.”Tidak benar kalau dikatakan tanpa konfirmasi kebenaran Majelis Sinode GPIB langsung memutasikan pendeta-pendeta salah satunya KMJ GPIB Petra DKI Jakarta dipindahkan hanya mendengar dari tiga presbiter dan tiga orang jemaat yang membawa ketidakbenaran dan tidak prosedur tata gereja yang berlaku,” tegas Ibu Sheila Salomo mewakili Kepemimpinan Majelis Sinode 2015-2020 menjawab berita MS GPIB 2015-2020 tidak Peduli Ratapan Jemaat yang diberitakan, Sabtu (24/10/2020).

Selaku Sekretaris II Majelis Sinode GPIB Sheila mengatakan, pihaknya sudah prosedural melakukann pemutasian pendeta sesuai tata gereja GPIB. Menurut Jaconias Sekretaris I Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GPIB Petra surat yang dikirim MS ke anggota GPIB lainnya itu merupakan hak angket yang menyoal penundaan Persidangan Sinode (PS) karena pandemi Covid-19. Bukan surat pengganti PS memperpanjang atau meligitimasi kepemimpian MS GPIB. Jadi kami mempertanyakan legitimasi MS ini legal tidak melakukan sertijab ini. ‘’Kami berharap sertijab ini tidak dilaksanakan menunggu sampai ada PS melegitimasi kepemimpinan MS GPIB ini,’’ tambah Penatua Teddy Prank.

Secara terpisah Penatua Teddy Prank dari GPIB Jemaat Petra menyatakan, baginya Majelis Sinode GPIB hanya menutupi kelemahannya. ‘’Seharusnya Majelis Sinode GPIB tidak hanya mendengar dari sepihak saja (dari 5 orang di antaranya 2 Presbiter) tetapi harus juga mengajak Pdt. Adriano Wangkay selaku KMJ GPIB Jemaat Petra bersama istri untuk dikonfirmasikan apa yang telah disampaikan 5 perempuan yang memberi masukan menurut kepentingannya itu. Begitu juga harus mendengar PHMJ GPIB Jemaat Petra.’’Tapi hal ini tidak dilakukan Majelis Sinode,’’ ucap Teddy Prank.

Majelis Sinode, tambah Teddy Prank , langsung mengirimkan Surat Pembritahuan ke Majelis Jemaat GPIB Petra. Lantas selang waktu sekitar 1 bulan terbitlah SK Mutasi untuk Pdt. A. Wangkay tanpa memperhatikan Tata Gereja. Buntutnya, KMJ GPIB Petra dimutasikan.
Ditambahkan Rismauli Penatua dari Pos Pelayanan Bulak Turi, ada keanehan. Sudah lima kali aspirasi Jemaat yang disampaikan sebagian besar jemaat dan presbiter GPIB Jemaat Petra tidak pernah diperhatikan MS. ’

’Hanya target tetap Mutasikan dan sertijab Pdt. A. Wangkay dari GPIB Jemaat Petra. Bagaimana sebenarnya hati para pelayan Tuhan di MS ini, kok tidak peduli jeritan hati kami. Kami bersama jemaat dari jauh Marunda sana datang ke kantor Sinode,’’ tapi tidak diperhatikan MS. Ke mana hati nuraninya para hamba Tuhan di MS ini. Masa lebih mendengar 5 orang ketimbang kami yang ratusan datang,’’ katanya menyoal ketidakpedulian MS terhadap jeritan jemaat Petra.

Menjawab hal itu, Penatua Ronny Wayong dalam sambutannya usai melakukan sertijab , ini bukan soal kalah dan menang tapi lebih kepada keberlangsungan pelayanan yang melihat pada kemulian Tuhan Yesus. Sementara itu, menurut Diaken Fonny Pagala. ‘’Kami melihat penderitaan KMJ kami, Pdt. A Wangkay, meski berat hati kami ijinkan sertijab dilaksanakan tapi kami mempertanyakan legitimasi kepemimpinan MS GPIB ini yang sudah berakhir 31 Oktober minggu lalu. Kalau pimpinan tertinggi MS saja tidak bijak menyikapi dan menyelesaikan masalah mau di bawa ke mana GPIB ini ke depannya oleh para MS ini,’’ kata Diaken Fonny Pagala lagi.

Akhirnya setelah 4 jam bersoal jawab tentang legitimasi ilegal kah MS melakukan sertijab, dengan berat hati dan lebih menghargai permintaan Pdt, Adriano Wangkay, para presbiter yang menolak serta 100 anggota jemaat yang siap masuk ruang SMJ khusus untuk menolak sertijab mengijinkan sertijab dilaksanakan dengan catatan. Legalkah sertijab ini dilakukan MS yang masa tugas kepemimpinannya sudah berakhir Sabtu, 31 Oktober 2020 minggu lalu. Pihak Jemat Petra mengimbau jemaat – jemaat lainnya mempertanyakan hal ini sudahkah sesuai tata gereja yang berlaku. ‘’Kalau saja ini diaminkan legal, harusnya tata gereja ini diubah atau diperbaiki dulu dalam PS’’.

Apa pun itu kepemimpinan MS 2015-2020 sudah meninggalkan catatan akhir ketidakmampuannya dalam mengelola GPIB. Bukan menyelesaikan masalah malah cendrung memecah belah jemaat. ‘’Buntutnya setiap pndeta di GPIB Petra pergi dengan hati yang terluka. Anehya lagi MS lebih berpihak pada oknum tertentu. Ketimbang jemaat yang banyak untuk menghindari kejjadian buruk ini, kami usulkan selama menunggu PS jangan tempatkan KMJ yang baru dulu di Jemaat GPIB Petra,’’ harap Penatua Agus Halundaka. Hal senada juga dinyatakan Penatua Josep Jacobs. (ks)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *