Komunitas Republik Ngapak, Yen Ora Ngapak Ora Kepenak

 Komunitas Republik Ngapak, Yen Ora Ngapak Ora Kepenak

Ken Setiawan, pendiri Republik Ngapak (foto Google.com).

JAYAKARTA NEWS—– ‘Durung dingapak-ngapakna wis mletek dewek’, ‘weteng inyong wis kencot’ dan seabreg percakapan lain dalam bahasa ‘ngapak’ khas Banyumas belakangan marak kembali. Bahkan, ada tagline ‘inyong yen ora ngapak ora kepenak’ mewarnai organisasi bahasa daerah Jawa Tengah yang menamakan dirinya Komunitas Republik Ngapak atau Paguyuban Wong Ngapak Republik Ngapak.

Paguyuban atau komunitas ini resmi dibentuk 1 Agustus 2010 dan sekretariatnya di jalan Pejaten Raya No 9, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Organisasi ini membawahi beberapa komunitas di Jateng yang orang-orangnya berdialek ngapak. Tercatat ada 15 cabang Republik Ngapak di 15 Kabupaten/Kota. Dan anggotanya di media sosial terdaftar sekitar 1, 4 juta, khusus di Jabodetabek ada 10.000an.

Anggotanya memang khas, ada di pinggiran Jakarta, Jaktim Jaksel, Bekasi, Cibinong dan Kerawang dan mereka mayoritas bekerja sebagai buruh dan pekerja proyek real estate. “Organisasi ini dari, untuk dan oleh kita semua,” lontar Ken Setiawan, pendiri Republik Ngapak.

Ditekankan oleh Ken, organisasinya tidak terbatas hanya untuk warga daerah yang berbahasa ngapak, misalnya Banyumas, Kebumen, Purbalingga, Wonosobo, Banjarnegara, Cilacap bahkan sampai Tegal, Slawi, Pekalongan, Pemalang dan Bumiayu. “Republik Ngapak juga untuk mereka yang peduli terhadap bahasa daerah khususnya bahasa Jawa yang lama terpinggirkan agar bisa berkembang dan jaya kembali,” cetus Ken yang pernah jadi aktivis radikal NII (Negara Islam Indonesia) dan kini telah insyaf dalam naungan NKRI.

Dengan kata lain, Republik Ngapak bertujuan melestarikan budaya Jawa yang kian menyusut dari gerusan modernisasi. “Kita mendidik anggota jadi wirausaha. Dari iuran wajib anggota 10.000 rupiah per bulan, alhamdullilah kita bisa mendirikan toko on line, mendirikan aplikasi, panti asuhan di Purbalingga, penjualan kaos Republik Ngapak rumah mini dan radio Wong Jawa.com,” tutur Ken lagi. Cekak aos : kita belajar bareng jadi wiraswasta.

Berusaha dan berbuat baik sedikit serta memberi manfaat bagi orang-orang sekitar. “Yang utama adalah komunikasi. Yuk anak muda berbuat dan berkreasi sesuatu. Jangan lagi tawuran, berantem, geng-gengan atau nyabu dan ngeganja. Wis ora njamani, kata wong ngapak,” imbuh Ken tersenyum.

Selama pageblug Covid-19, Republik Ngapak mengurangi kopi darat (kopdar) dan acara kumpul-kumpul serta bertukar pikiran sesama anggota. Namun, Ken dan pimpinan Republik Ngapak cukup peduli dengan menyisihkan kas untuk dana sosial, misalnya mereka yang terkena musibah, sakit dan yang sedang dirawat di RS. “Beberapa bulan lalu kita bagikan masker dan membantu pengungsi Gunung Merapi di Jogja. Enggak peduli yang kita bantu anggota atau bukan, yang penting inilah misi sosial kita,” papar Ken.

Bagi anggota yang aktif, akan mendapat kartu atau ID Card yang berfungsi sebagai kartu jaminan sehat dan bantuan hukum jika tertimpa masalah. Meski sudah banyak yang registrasi, toh di medsos ada juga netizen yang melontarkan pertanyaan dan usul. Misalnya Pardi Panerusan di Johor bertanya : “Nek daftar carane kepriwe, bro. Inyong ning Johor,”. “Rama biyung asli kang Banjarnegara. Boleh gabung?,” pertanyaan lain dari Abah Najwa. Atau ada pertanyaan menarik lain seperti ini : “Bapane inyong wong Landa. Biyunge inyong wong Jepang. Apa olih gabung, lur (sedulur), kie,”. Alhasil, bersatu kita kompak. Bicara kita ngapak. Yen ora ngapak ora kepenak. (pik)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *