Merindu Chrisye, di Bilangan Kesebelas

 Merindu Chrisye, di Bilangan Kesebelas
Ferry Mursyidan Baldan. Ketua Umum Kelompok Kangen Chrisye (K2C) didampingi beberapa wartawan, di antaranya Nini Sunny, Edo dan Eri berziarah ke makam Chrisye. Foto: Ist

JUMAT pagi hari itu, 30 Maret 2018, beberapa orang tampak sedang melayangkan doa di depan makam penyanyi legendaris, Chrismansyah Rahadi alias Chrisye di TPU Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Mereka adalah penggemar setia dan fanatik Chrisye. Ferry Mursyidan Baldan. Mantan Menteri ini sekarang adalah Ketua Umum Kelompok Kangen Chrisye (K2C) yang didampingi beberapa wartawan, diantaranya Nini Sunny, Edo dan Eri.

Terkenang kembali ingatan ke masa lalu, ke 11 tahun silam, juga hari Jumat, 30 Maret 2007. Kabar duka tiba-tiba terdengar pukul 04.08 di rumahnya, jalan Asem Dua Nomor 80, Cipete, Jakarta Selatan : sang pelantun Merpati Putih telah meninggalkan kita semua.

Segera berita duka tersebut menyebar dan menyambar ke seantero Indonesia, bahkan dunia. Pagi itu, rumah duka sang almarhum Chrisye tak sepi dari tamu yang berdatangan, terutama kalangan artis musik, artis film, produser, event organizer, televisi dan juru warta.

Pemakaman Chrisye.

Hingga pukul 12 siang, puluhan karangan bunga tanda duka cita terus berdatangan. Keluarga menggelar pengajian mulai pukul 07.30 sampai pukul 09.00 pagi. Jenazah Chrisye kemudian dimandikan di tempat yang sudah disediakan, di halaman depan rumah. Lalu diadakan salat jenazah sebanyak tiga kali.

Kemudian, jenazah Chrisye dibawa ke masjid Al Karomah, yang terletak dekat rumah duka. Jemaah masjid yang meluber menyalatkan jenazah Chrisye sebelum dan sesudah salat Jumat. Imam Masjid Al Karomah mewakili keluarga dalam sambutannya mengatakan, Chrisye adalah jemaah tetap di masjid itu ketika masih sehat. “Almarhum sempat berwasiat kepada keluarga, dirinya akan meninggal hari Jumat. Almarhum Chrisye juga ingin disalatkan di masjid ini,” ucapnya.

Pukul 12.45, jenazah diberangkatkan ke TPU Jeruk Purut untuk dimakamkan. Siang itu, langit Jakarta mendadak mendung. Suasana bertambah haru ketika sesaat jenazah dibawa ke lubang kubur, gerimis turun. Ratusan pelayat banyak yang berteduh di bawah pohon kamboja dan membuka payung.

Isteri almarhum, Gusti F. Damayanti Noor (mantan penyanyi Noor Bersaudara) terus menerus meneteskan air mata. Ke empat anak Chrisye yaitu Anisa, Risty, si kembar Pasya dan Masya mendampingi sang ibu seolah tak ingin lepas dari genggaman dan pelukannya. Pasya dan Masya tampak lebih tegar dibanding dua kakaknya, Anisa dan Risty.

Firzi Noor, adik ipar almarhum, mewakili pihak keluarga memohon maaf jika Chrisye ada kesalahan semasa hidup. Teman dekat almarhum, Erwin Gutawa didaulat memberikan sambutan.

“Kami, para musisi Indonesia merasa bangga akan sosok Chrisye. Yaitu semasa hidupnya, Chrisye menghelat konser sebanyak tiga kali di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta. Enggak ada musisi lain seperti dia. Chrisye adalah pahlawan musik Indonesia. Meninggalnya di hari suci, Jumat, sesuai wasiat almarhum. Semoga khusnul khotimah. Selamat jalan sahabat, selamat jalan teman,” ujar Erwin Gutawa menahan tangis.

Kematian H. Chrisye – setelah lama mengidap penyakit kanker tulang belakang – tak hanya meninggalkan duka bagi isteri, Gusti F. Damayanti Noor dan ke empat anaknya, tetapi juga bagi sahabat dan teman sesama musisi. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara khusus mengirimkan karangan bunga sebagai tanda duka cita. Sebagaimana kita tahu, SBY juga seorang musisi dan lihai bermain gitar dan kerap memainkan lagu-lagu ciptaan Chrisye dan artis musik lain.

Rasa Kangen Ferry Mursyidan Baldan

Ferry Mursyidan Baldan, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Ketua BPN dikenal sebagai pecinta dan pengagum Chrisye. Ferry mengoleksi puluhan piringan hitam, kaset dan CD Chrisye di rumahnya.
“Saya mengoleksi semua album Chrisye dan semuanya sudah ditandatangani Chrisye,” papar Ferry dalam acara terbatas mengenang Chrisye.

Ferry Mursyidan Baldan Ketua Kelompok Kangen Chrisye IK2C) di acara Mengenang Chrisye, 2015. Foto: Ist

Beliau juga mendirikan Kelompok Kangen Chrisye (K2C) dan Ferry adalah Ketua Umumnya.
Sebagai bukti kecintaannya terhadap almarhum Chrisye, Ferry menerbitkan 2 buku berkaitan dengan Chrisye. Pertama tahun 2005 bertepatan dengan 5 tahun meninggalnya Chrisye berjudul ‘CHRISYE: Kesan di Mata Media, Sahabat dan Fans’. Dan kedua, bertepatan 10 tahun meninggalnya sang legendaris, Ferry dibantu Nini Sunny sebagai manajer produksi dan Dudut Suhendra Putra sebagai fotografer menerbitkan lagi buku berjudul ’10 Tahun Setelah Chrisye Pergi, Ekspresi Kangen Penggemar’.

Tak sampai disitu saja. Ferry juga menggelar Lomba Lagu Chrisye antar wartawan dan menghelat temu kangen K3C di kota-kota di luar Jakarta. Terakhir, Ferry dibantu banyak penggemar setia Chrisye juga mengajak nonton bareng (nobar) film bertajuk ‘Chrisye’ di Jakarta dan Bandung. Film ‘Chrisye’ diproduksi oleh MNC Pictures dan disutradarai Rizal Manthovani. Berperan sebagai Chrisye adalah Vino G. Bastian Film ini cukup sukses di bioskop dan seusai pemutaran film, banyak penonton dan penggemar Chrisye meneteskan air mata, tak kuat menahan haru. Film Chrisye dianggap sebagai film biopic (biography picture) yang tersukses dan terlama tayang di bioskop. Bahkan, banyak penggemar Chrisye menilai, Chrisye seakan-akan hidup kembali di layar bioskop.

Ferry mengaku semasa hidup Chrisye, dia bertemu beberapa kali dengan sang idola. “Hubungan saya dengan Chrisye berkembang menjadi hubungan pertemanan. Jujur, yang mengatur pertemuan adalah Nini Sunny sewaktu Konser Fariz RM di JCC, tahun 2004. Dan uniknya, saya bisa duduk disamping Chrisye. Karena gembira dan gugup, saya justru lupa memotret peristiwa bersejarah itu dengan kamera saya,” kenang Ferry tergelak.

Setiap tanggal 30 Maret, Ferry pasti berziarah dan berdoa di makam sang legenda di TPU Jeruk Purut. “Setelah berziarah, biasanya saya mengajak teman-teman dari K2C mapun teman lain untuk duduk-duduk bersama, sambil minum kopi lami saling bercerita dan mengenang kepergian almarhum Chrisye dengan menyanyikan lagu-lagu almarhum. Kegiatan seperti ini sebagai ekspresi kami dalam menyalurkan rasa kangen pada Chrisye,” ungkap Ferry.

Secara pribadi, lagu-lagu Chrisye yang selalu kami dendangkan – seperti Lilin Lilin Kecil, Kisah Cintaku, Badai Pasti Berlalu, Selamat Jalan Kekasih dan lagu lainnya – juga untuk mengekspresikan perasaan saya dalam membangun rumah tangga bersama isteri tercinta, Hanifah Husein. Dia menjadi pengagum Chrisye bukan karena terpaksa, melainkan betapa dari lagu-lagu Chrisye, dia bisa memahami suaminya.

Ferry mengaku, sosok Chrisye wajib kami kagumi, Karena sikap ‘low profile’ dan kesederhanaannya. Padahal, ia adalah seorang musisi besar yang dimiliki Republik ini. “Kami tidak mengultuskan Chrisye, tetapi kami enggak rela jika Chrisye hilang begitu saja ditelan perjalanan waktu. Kami ingin berbicara, bagaimana bangsa ini menghargai dan menghormati seorang musisi meski dia sudah tidak lagi bersama kita. Kita tetap mengenang dan mengingat dengan suara, karya dan sikapnya sebagai seorang musisi,” jelasnya lagi.

Hal lain adalah agar lagu-lagu Chrisye tidak hilang begitu saja, kami coba melakukan hal kecil dan sederhana. Misalnya, kami selalu meminta kepada pengamen di warung-warung makan, home band di hotel, atau bahkan dalam acara resepsi pernikahan, agar melantunkan lagu-lagu Chrisye. Tujuan kami adalah ingin menjaga agar lagu-lagu Chrisye tetap hidup di berbagai tempat dan disepanjang waktu.

Terus terang, mungkin cara kami agak aneh dan tidak biasa. Tetapi bisa jadi, sikap ini lahir karena kuatnya pengaruh lirik lagu Chrisye dalam batin kami. Lebih dari 30 tahun lirik lagu-lagu Chrisye telah demikian kuat dan melekat di jiwa kami. Jika dirangkaikan, seluruh lagu Chrisye seakan seakan mewakili perjalanan hidup manusia : mulai dari rasa cinta antarmanusia, rasa peduli terhadap sesama, potret sosial yang sedang terjadi, rasa cinta negeri, rasa ditinggal kekasih, rasa keindahan alam, sampai rasa sebagai makhluk Tuhan dan tentang adanya hari akhir,

Simak saja pada lirik lagu ‘Ketika Kaki dan Tangan Bicara’ yang liriknya ditulis oleh penyair Taufiq Ismail. Isi lagunya diambil dari ayat suci Alquran tentang hari akhir. Di film ‘Chrisye’, dimana banyak penggemarnya belum tahu, ketika merekam lagu religi ini, Chrisye berkali-kali gagal. Lalu ia menelepon isterinya, Gusti F. Damayanti Noor dan Taufiq Ismail. Tenangkan pikiranmu, Chrisye dan salatlah sebelum menyanyikan lagu ini, saran Taufiq Ismail. Juga, isterinya menyarankan hal seperti itu. Ajaib, setelah merenung dan hening sejenak dan bersalat, Chrisye baru bisa merekam lagu ini di studio Musica.

Simal lirik lagu “Ketika Kaki dan Tangan Berkata”

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lagi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba…

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina

Sejenak, kita dengarkan bersama lantunan merdu nan syahdu suara Chrisye menyanyikan tembang religi tersebut:

Kesetiaan pada profesi itulah yang menjadikan sosok Chrisye menjadi menarik dan inspiratif.
Kini, Chrisye telah tiada. Tapi karya-karyanya akan tetap abadi dan dikenang sepanjang masa. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *