Kunci Bergaul Cara Hanifah

 Kunci Bergaul Cara Hanifah

M. Hanifah (67) sosok pria ini, semasa bekerja berkecimpung di bidang bangunan sebagai drafman, estimator, dan lainnya, terakhir di 2007 di perusahaan India. (Foto. Monang Sitohang)


Jayakarta News – Manusia merupakan makhluk sosial yang hidupnya saling membutuhkan satu sama lainnya, baik secara pribadi maupun berkelompok. Kodrat itu yang mendorong manusia untuk bergaul atau berinteraksi dalam menjalin hubungan sosial antar sesama

Hanya saja ketika menjalin suatu hubungan antar sesama tidak semua mampu bergaul secara baik. Walaupun manusia itu makhluk sosial tetap akan mengalami kesulitan merajut kebersamaan dan persahabatan yang penuh kelanggengan.

Terkait hal tersebut beberapa hari lalu ada sosok pria bernama M. Hanifah asal Bantul, Yogyakarta ini berbincang-bincang kepada awak Jayakarta News di Cibubur, Jakarta Timur. Ada lima tips penting cara bagaimana bergaul dengan baik.

Antara lain; Pertama rendah hati. Maksudnya orang itu tidak boleh sombong, tidak boleh merasa angkuh, perasaan paling kaya, pintar, dan sebagainya. Walaupun kita mampu atau bisa menjangkau luas, tetaplah biasa saja dalam arti low profile. Dan penting untuk disadari bahwa kita adalah manusia biasa, memiliki sikap menyadari keterbatasan kemampuan diri, dan ketidakmampuan diri sendiri.

Kedua sopan santun, ini merupakan bagian dari etika. Maka dalam bergaul harus beretika baik berucap, berbahasa bahkan gerakan body language harus sopan santun. Jadi kalau di Jawa itu ada istilah unggah ungguh (sopan santun, tata krama).

Jadi jika dilihat anak-anak saat ini di dalam bergaul banyak yang kurang sopan santun, dan poin keduanya pemerintah harus mencanangkan pelajaran budipekerti, yang termasuk di dalamnya sopan santun, cara bergaul, berkomunikasi antara yang tua dan muda sebaliknya, atau sejawat dan lainnya.

Ketiga ramah tamah. Di sini kita sesama harus menegur atau menyapa. Lebih-lebih yang muda ke tua begitu sebaliknya, yang tua menyapa duluan ke muda juga tidak apa-apa. Dan tidak terlepas dibarengi dengan senyu, hormat, jangan jutek, istilahnya kita familiar ke sesama. Apa lagi negara luar banyak yang mengenal ramah tamah rakyat Indonesia.

Apalagi di era digital pergaulan bisa juga dibina melalui alat komunikasi seperti handphone. Tetapi jangan sampai bertemu dengan teman atau sesama tidak ramah tamah lagi karena keasikan main hp. Jadi kalau ketemu, berkumpul harus ramah dan bertegur sapa.

Keempat toleransi. “Kita sebagai makhluk ciptaan Allah, tak peduli suku, agama, kepercayaan, wajib saling tolong, memberi dan menerima sesuai situasi dan kondisi atau permasalahan tertentu yang disesuaikan individunya. Baik itu toleransi berwujud mengingatkan tutur kata, tenaga, pikiran, mungkin materi.

Jadi saling mengasihi dan saling menyayangi antar sesama tanpa melihat siapa dia atau jabatannya. Kecuali untuk toleransi kerusakan, permusuhan. Untuk hal itu katakan bukan toleransi, bahkan dapat merusak hubungan, seperti saat ini untuk menyebarkan hoax jangan bertoleransi dengan hal itu.

Kelima tidak diskriminasi. Kembali lagi bahwa kita manusia ciptaan Allah. Jadi disini kita tidak boleh melakukan sikap atau tindakan yang membeda-bedakan, antara suku, agama, kepercayaan bahkan tidak punya agama. Jadi kita harus sama dalam memperlakukan individu. Dan jangan meremehkan sesama intinya saling menghormati dan tidak pilih kasih. Itulah kunci pergaulan dalam hidup. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *