Kita Harus Responsif terhadap Perubahan

 Kita Harus Responsif terhadap Perubahan
Wapres Jusuf Kalla sebagai keynote speach diskusi “smart business” yang diselenggarakan PWI Pusat, (foto: ist)

Jakarta News – Setiap perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi harus direspon dengan cepat dan bijak. Jika tidak, akan terlindas oleh perubahan itu sendiri, atau gagap dan tidak akan nyaman menjalani hidup, apalagi memenangkan persaingan.

Demikian antara lain pesan yang dapat dipetik dari diskusi Smart Business, Making Indonesia 4.0 vs Super Smart Society 5.0, diselenggarakan PWI Pusat, Kamis (11/7) di Jakarta.  Diskusi ini menghadirkan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan pebisnis Chairul Tanjung.

Perkembangan industri di era ini antara lain ditandai dengan prinsip efisiensi, misalnya dengan menggunakan tenaga robot. Namun di sisi lain, efek perkembangan demografi juga memerlukan pemikiran tatanan sosial baru yang juga pelik guna terwujudnya smart society.

Meski sebagai keynote speach, Jusuf Kalla tak banyak bicara tentang industri 4.0 (empatzero/kosong). Sebenarnya, kata JK, seminar, pertemuan atau diskusi masalah industri 4.0 ini sering  dilakukan. Sebelumnya ia juga bicara dalam suatu konferensi di Jepang membahas hal serupa.

Ia mengatakan, dalam industri-industri itu banyak tenaga manusia bisa digantikan robot.  Namun, kalau banyak orang tidak berpendapatan, lantas siapa yang beli barang.  Padahal jika tidak ada yang membeli barang-barang tersebut, perekonomian akan hancur .

“Jadi, gambaran ke depan, tidak seperti itu,“ kata JK. Kebijakan ekonomi 4.0 itu tidak berlaku untuk semua negara. Banyak jenis pekerjaan yang harus dilakukan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan teknologi pada industri  tujuannya agar kita bekerja lebih efisien. “Prinsipnya itu, jadi tidak sama sekali menghilangkan tenaga manusia,” tambahnya.

Diakui, setiap perubahan dan perkembangan teknologi mengubah society. Dicontohkan, dulu banyak toko-toko, namun setelah muncul mal-mal, banyak toko tutup. Keberadaan mal kemudian terganggu/ atau berkurang setelah muncul e-commerce. Jadi semua ada tahapannya.

Sementara itu, sebelumnya Chairul Tanjung menekankan agar kita responsip menghadapi perubahan.  Revolusi 4.0 sudah sering dibicarakan, dan kini yang sering dihembuskan revolusi 5.0. karena pengaruh digital dan teknologi itu berdampak baik dan juga buruk.

Khusus di Indonesia, juga dipicu perubahan demografi yang sangat signifikan.  Generasi milenila memiliki cara hidup dan cara pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya, dan ini juga dibarengi dengan perkembangan teknologi.

Mereka menyukai pekerjaan yang menantang kreativitas, dan membuat inovasi-inovasi. Tidak tergantung tempat, yang penting ada internet, laptop dan ponsel atau gatget. Ketergantungan terhadap internet lebih banyak, dan penggunaan teknologi itu pun lebih lama, dan prinsipnya dalam bekerja pun harus hepi.

Mereka juga  sangat konsen terhadap kesehatan. Efek dari semua itu akan memberikan harapan hidup lebih panjang, dan jumlahnya pun meningkat.  Karena itu society-nya menjadi pemikiran pula, bagaimana selanjutnya, bagaimana melahirkan smart society dari revolusi digital yang demikian melesat yang telah mengubah banyak sisi kehidupan. Itulah yang acap dibahas dalam revolusi 5.0.

Dengan harapan usia hidup yang lebih lama, antara lain yang mendasar dipikirkan meliputi koneksitas sosialnya, kesehatannya dan fasilitas transportasinya. “Itulah yang harus dipikirkan bagaimana perkembangan teknologi itu memberikan kebaikan pada umat manusia, “  kata Tanjung

Mengakhiri paparannya, Chairul Tanjung menekankan dengan mengutip sebuah ungkapan bijak, bahwa bukan yang kuat dan pintar yang akan menang dalam persaingan, melainkan mereka yang responsif terhadap perubahan itulah yang akan jadi pemenang(isw/nanang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *