Jatuhnya Nilai Rupiah – Déjà vu 1998

 Jatuhnya Nilai Rupiah – Déjà vu 1998

Foto: CNBC

Foto: CNBC

Tulisan dibawah adalah artikel yang ditulis oleh Steve Hanke — mantan penasehat ekonomi Presiden Soeharto pada masa krisis ekonomi 1997 – 1998. Artikel ini disadur untuk menjadi pengetahuan bagi kita semua.

Saya tahu permainan ini karena saya pernah duduk di kursi terdepan sebagai Penasehat Khusus Presiden Soeharto. Kala itu, pada intinya, untuk menstabilkan rupiah dan menghentikan inflasi, saya mengusulkan dan Soeharto setuju, membangun sistem Dewan Mata Uang (bisa diartikan: Suatu otoritas moneter yang menerbitkan uang kertas dan koin yang bisa ditukarkan ( convertible ) terhadap suatu mata uang asing atau komoditas acuannya (yang juga disebut sebagai reserve currency atau mata uang cadangan) berdasarkan pada suatu nilai tukar yang benar-benar pasti dan berdasarkan pada permintaan) dengan acuan dolar Amerika. Cara ini akan membuat rupiah menjadi seperti kloning dolar AS.

Namun ide Dewan Mata Uang mendapat serangan keras dari Gedung Putih dan IMF. Mereka menyadari sistem ini mampu bekerja (menstabilkan rupiah sehingga tidak ada krisis ekonomi dan Soeharto tidak tergusur), dan Presiden AS Bill Clinton tetap berurusan dengan Soeharto. Pesan kepada Soeharto dari Clinton dan Michel Camdessus, Managing Director IMF, sama: Jika anda meneruskan ide Prof. Hanke mengenai Dewan Mata Uang, Indonesia tidak akan menerima bantuan 43 miliar dolar. Pada akhirnya, Soeharto mengesampingkan ide Dewan Mata Uang dan Krisis Keuangan Asia menyingkirkannya.

Juli lalu, Gedung Putih memutuskan menerbitkan dokumen-dokumen mengenai Indonesia sekitar periode 1997 sampai 1999. Penerbitan ini lebih cepat dari jadual sebenarnya sebgai antisipasi pemilihan presiden April 2019 nanti. Dalam dokumen – dokumen ini terlihat jelas peran pemerintah AS kala itu untuk membuat dan mempercepat kejatuhan Soeharto dengan krisis moneter.

Beberapa saat setelah dokumen dikeluarkan, wartawan mendatangi kantor saya di Universitas John Hopkins, satu pertanyaan yang terus-menerus muncul pada saat wawancara adalah kemana arah pelemahan rupiah. Tentu saja ada kecemasan cukup besar karena pelemahan rupiah. Saat itu, saya hanya mengatakan rupiah akan melemah sampai akhir tahun, dibanding pada awal Agustus. Melihat tren kurs dolar – rupiah itulah yang paling mungkin terjadi. Namun saya tidak tahu berapa cepat rupiah akan melemah.

Sejak wawancara Agustus lalu, rupiah telah menjadi ‘penarik turun’ dalam pasar berkembang (emerging market). Nilai rupiah sudah mencapai titik yang belum pernah terlihat sejak 1998. Tapi apakah kejatuhan rupiah sama seperti tahun 1997 – 1998? Jawabnya; Tidak.

Salah satunya, pertumbuhan uang beredar (M2). Pada tahun 1997 M2 tumbuh secara tajam 25,35% pertahun. Hari ini, pertumbuhannya hanya 6,4%.

Untuk mengukur ini, saya menerapkan pendekatan moneter pada pendapatan nasional untuk melakukan diagnosa. Seperti yang dikatakan oleh Milton Friedman dalam bukunya yang terbit 1997 lalu, ‘New Palgrave Dictionary of Economics’. “Quantity Theory of Money (QTM), QTM adalah perubahan besar dalam harga atau pendapatan nominal hampir selalu sebagai hasil dari perubahan nominal pasokan uang. Melalui rumus QTM — tidak disadur disini untuk mempersingkat — ditemukan angka yang disebut sebagai ‘pertumbuhan emas’ pasokan uang. Berdasarkan kalkulasi pertumbuhan nyata GDP selama masa pemerintahan Joko Widodo, sejak November 2014 sampai Juli 2018, adalah 5,5% setahun. Perputaran uang meningkat 1,17%. Menggunakan angka ini, target Bank Indonesia untuk inflasi adalah 3,88%. Saya menghitung ‘pertumbuhan emas’ pasokan uang adalah 7,17%.

Sekarang, pertumbuhan nyata pasokan uang selama pemerintahan Jokowi adalah 7,22%, yang sangat dekat dengan tingkat ‘pertumbuhan emas’ 7,17%. BI juga masih tetap mencapai targetnya. Tidak heran, angka inflasi sangat dekat dengan target inflasi BI.

Lalu, apa masalahnya? Kenapa orang Indonesia begitu kuatir dengan rupiah? Ada tiga alasan; Pertama, adalah fakta Indonesia masih mengingat krisis keuangan Asia dan sangat kurang yakin akan kurs mengambang rupiah. Kedua, sangat kurang yakin akan kemampuan pemerintahan Jokowi dalam mereformasi ekonomi. Sebenarnya, meski ada proyek-proyek besar infrastruktur tapi semua berjalan lambat. Ketiga, meski kelihatan tenang, pemerintahan Jokowi sempat memencet tombol panik ketika rupiah mendapat serangan beberapa bulan lalu. Pemerintah memberi pernyataan, yang sukar dipertanggung-jawabkan, akan ‘menyelamatkan rupiah’ dengan segala cara dan tidak akan menaikkan suku bunga. Pernyataan ini, yang saling bertentangan, telah memberi pasar impresi bahwa pemerintah tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Kesimpulanya, kejatuhan rupiah baru-baru ini adalah kejatuhan kepercayaan (kepada pemerintah). Dan seperti dikatakan John Maynard Keynes, dalam The General Theory: Kepercayaan kepada negara, merupakan hal sangat penting dan jadi perhatian utama. Sekali hilang, kepercayaan itu sangat sukar diperoleh kembali. Jadi, seperti saya katakan pada bulan Agustus lalu, rupiah akan melemah sampai akhir tahun ini.

Sumber informasi: forbes.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.