Ibadah Budaya di Pendopo Senthong

 Ibadah Budaya di Pendopo Senthong
Memet Chairul Saleh (kiri) saat performe di peresmian Padepokan Pendopo Senthong, Yogyakarta. (foto: gde mahesa)

JAYAKARTA NEWS – Yogyakarta, selalu bergeliat napas seni dan budaya. Tidak ada satu detik pun berlalu tanpa alinan seni dan budaya. Tidak ada ruang sejengkal pun yang menganga tanpa kiprah seniman dan budayawannya. Hal itu ditambah dukungan Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta. Tak heran jika di hampir setiap kecamatan, bahkan kelurahan di Yogya, memiliki kelompok seni dan budaya.

Bahkan, Yayasan Ash-Shomad International yang berkedudukan di Jatinom, Klaten selain memiliki sekolah, rumah sakit serta poliklinik, tak ketinggalan memberikan ruang bagi para seniman, budayawan serta kelompok seni di Yogyakarta untuk ibadah atau ngaji kesenian. Tempatnya di Padepokan Pendopo Senthong Yogya, yang diresmikan tanggal 27 Februari 2019, berlokasi di sekitar Gading, Alun-alun Kidul Kota Yogyakarta

Acara peresmian padepokan itu boleh dibilang sederhana, namun dimeriahkan oleh para pelaku seni yang tergolong senior. Di samping itu, juga ditampilkan kelompok pantomim oleh penyandang tuna rungu. Sungguh sebuah peristiwa budaya yang menyentuh, sebab nampak persatuan dalam keberagaman di dalamnya.

Dalam sambutannya Hariadi, mewakili Dr Titik Asmadi pimpinan Yayasan Ash-Shomad menjelaskan bahwa didirikannya Padepokan Senthong Yogya ini adalah sebagai ibadah melayani masyarakat dalam hal seni budaya. Selain, didedikasikan bagi para pelaku seni melakukan ibadah pada dunianya, agar terpupuk persatuan saling menghormati perbedaan. Ditekankan bahwa kegiatan apa pun akan didukung. “Satu hal yang patut dicatat, bahwa di sini diharamkan kegiatan berbau politik dan SARA,” tegas Hariadi.

Sementara itu, menurut komposer Kelompok Musik Etnik-Kontemporer Gang Sadewa, Dr Memet Chairul Saleh, padepokan seperti itu sangat besar artinya bagi pengukuhan kota Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya. Memet sendiri tampil dalam acara itu, dan tentu saja menjadi primadona acara.

“Saya mendukung dan mengapresiasi Pendopo Senthong ini, serta berharap lebih bisa mewarnai ekspresi para seniman dalam berkarya. Kalau memungkinkan tentu dalam setiap dua atau tiga bulan kita adakan acara, semacam Arisan Musik Nusantara. Grup-grup musik bisa tampil bersama agar Yogya lebih istimewa,” ujar Memet. (gde mahesa)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *