Hikayat Kerajaan Jin Gunung Merapi

 Hikayat Kerajaan Jin Gunung Merapi
Panorama Gunung Merapi.

DARI sekitar 150 gunung berapi di Indonesia, nama Gunung Merapi laksana selebriti. The one of famous mountain. Menjulang di tengah-tengah Pulau Jawa, kakinya mencengkeram empat kabupaten sekaligus: Sleman (Yogyakarta), Magelang, Boyolali, dan Klaten.

Gunung dengan ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut itu memang memenuhi banyak syarat untuk menjadi terkenal. Yang utama dan terutama adalah catatan sebagai gunung berapi paling aktif. Dalam dua sampai lima tahun sekali, Merapi “batuk”. Batuk dahsyat yang kemudian melahirkan istilah wedus gembel. Gumpalan abu berwarna putih yang bergulung-gulung, mirip wedus gembel.

“Aksi” dahsyat Merapi tahun 2010, bahkan nyaris membuat daerah di sekitar lumpuh. Status Siaga-1 Merapi ketika itu, benar-benar menyedot perhatian publik di seluruh Indonesia, bahkan dunia. Bukan saja karena Merapi yang terkenal, tetapi ditambah atensi media massa, terutama televisi nasional yang turun meliput langsung ke lokasi, serta melaporkan secara langsung erupsi Gunung Merapi.

Kala itu, muncul sosok Mbah Maridjan, juru kunci Gunung Merapi. Lelaki yang juga dikenal sebagai Mas Penewu. Di lingkungan keraton Yogyakarta, ia dipanggil Surakso Hargo yang berdiam di Kinahrejo, tatar Yogyakarta. Wajah Mbah Maridjan menjadi begitu familiar, karena hampir sehari-hari nongol di televisi. Makin ngetop ketika sebuah perusahaan minuman energi mengontraknya sebagai bintang iklan, bersama selebriti lain.

Kisah tragis wafatnya Mbah Maridjan 26 Oktober 2010 pun kembali viral. Ia keukeuh tidak mau meninggalkan pos penjagaannya sebagai juru kunci. Petugas tidak mampu membujuk Mbah Maridjan turun, mengingat tingkat aktivitas Merapi yang menjadi-jadi. Baginya, menjaga Merapi adalah titah raja. Hanya Kanjeng Sultan saja yang bisa menggesernya beranjak dari lereng Merapi.

Belum turun titah Sultan, letusan Merapi yang menyemburkan lava panas telah merenggut nyawa Maridjan. Jasadnya ditemukan dalam posisi telungkup seperti sedang berwujud. Foto-foto jazad mbah Maridjan yang meninggal dalam posisi bersujud pun kembali viral mendampingi aktivitas Merapi.

Waktu terus bergulir, catatan sejarah Merapi pun kian berderet-deret. Jika kita runut ke awal mula catatan tentang Merapi dibuat, tentu akan sangat panjang. Makin panjang jika kita gabungkan dengan hal-ihwal dunia ghaib yang menyertai hikayat Merapi.

Masyarakat zaman dulu, bahkan sebagian masyarakat masa kini, percaya bahwa di Gunung Merapi juga bercokol kerajaan ghaib yang kekuasaannya meliputi seluruh wilayah Nusantara. Keraton Merapi, begitu jamak disebut. Keberadaan mereka dipercaya ada bersamaan berdirinya Kerajaan Mataram Kuno.

Keraton Merapi ini mempunyai hubungan erat dengan Keraton Mataram. Legenda yang dikenal banyak kalangan adalah Keraton Merapi kala itu membantu Kerajaan Mataram mengalahkan Kerajaan Pajang dengan cara menewaskan pasukan Kerajaan Pajang lewat letusannya. Karena jasa yang diberikan para penghuni Gunung Merapi itulah, masyarakat setempat selalu memberi sesaji dalam bentuk upacara-upacara ritual selamatan atau wilujengan.

Para penghuni Merapi yang tersohor dan dipercaya keberadaannya oleh sebagian masyarakat sekitar adalah Eyang Merapi, raja alias pemimpin para makhluk gaib yang mendiami Keraton Merapi. Kemudian ada yang disebut Eyang Sapu Jagad, penunggu kawah Merapi yang mengatur kapan lava panas disemburkan. Eyang Sapu Jagad memiliki dua panglima bernama Kyai Grinjing Wesi dan Kyai Grinjing Kawat.

Nama lain yang menghuni Gunung Merapi adalah Eyang Megantara yang bertugas mengendalikan cuaca dan mengawasi daerah sekitar Merapi. Lalu ada sosok perempuan yang dipanggil Nyi Gadung Melati. Dialah pimpinan para pasukan wanita Keraton Merapi dan bertugas menjaga kesuburan tanaman dan juga menjaga binatang ternak di sekitar Gunung Merapi.

Punggawa Keraton Merapi lain adalah Eyang Antaboga yang ditugaskan menjaga keseimbangan gunung agar tidak sampai tenggelam ke dalam bumi. Lalu Kyai Petruk bertanggung jawab terhadap keselamatan penduduk Merapi. Ia ditugaskan memberi tahu warga ketika akan terjadi letusan sehingga mereka dapat menyelamatkan diri.

Sosok ghaib lain, Kyai Sapu Angin merupakan salah satu pimpinan roh halus yang bertugas untuk mengatur arah angin. Kemudian Kyai Wola Wali yang tugasnya menjaga dan membersihkan teras Keraton Merapi.

Selain cerita di atas sebagian masyarakat Kejawen meyakini jika gunung Merapi terbentuk melalui proses rumit. Syahdan Pulau Jawa masih hutan belantara, hanya dihuni binatang buas dan golongan lelembut. Kala itu pulau ini boleh dibilang miring ke barat dikarenakan banyak gunung hingga bebannya terlalu berat. Hal ini membuat para Dewa resah. Dalam persidangan para dewa, yang dipimpin oleh Dewa Krincingwesi disepakati untuk meletakkan penyeimbang tepat di tengah-tengah pulau Jawa agar pulau ini tak miring ke barat. Diputuskanlah Gunung Jamurdwipa yang terletak di Laut Pantai Selatan dipindah ke tengah, menjadi penyeimbang.

Gunung Jamurdwipa adalah gunung asri dijaga dan dihuni sepasang kakak beradik sebagai pembuat keris (Mpu). Mpu Permadi dan Mpu Rama, mereka sangat sakti. Kalau membuat keris, mereka hanya membutuhkan perapian dan bahan baja. Untuk memipihkan, dipukul-pukul dengan tangan. Untuk membuat luk (lekuk), digunakan pula dengan tangan kosong.

Hasil pertemuan para Dewa dan kedua Mpu adalah meminta agar kedua mpu pergi dari tempat itu karena gunung yang mereka diami akan dipindahkan ke tengah pulau Jawa. Keduanya menerima, namun dengan syarat menunggu proses pembuatan keris selesai. Sebab, jika mereka pindah dalam keadaan keris belum selesai dibuat, bisa mengakibatkan malapetaka.

Para Dewa tidak punya waktu lagi untuk menunggu proses pembuatan keris kedua mpu itu selesai. Melalui keputusan spihak, para dewa mencabut Gunung Jamurdwipa dengan kedua mpu terbawa serta. Gundukan tanah gunung, cikal-bakal Merapi pun telah berada di tengah pulau Jawa. Di atas gundukan tanah itulah Gunung Jamurdwipa diletakkan.

Kontan pulau Jawa menjadi datar-lurus adanya. Sebagai akibatnya, dasar laut ujung barat muncul menjadi daratan, sedangkan ujung timur Jawa, tenggelam. Dus, Madura dan Bali, dulunya adalah daratan pulau Jawa paling timur.

Kembali ke kisah dua empu penjaga Gunung Jamurdwipa. Ketika gunung diletakkan, keduanya terkubur hidup-hidup bersama perapian pembuatan keris, serta keris-keris yang belum lagi selesai dikerjakan. Roh kedua mpu itu yang kemudian menjadi penguasa Gunung Merapi. Perapian tersebut kini diyakini berubah menjadi lahar panas yang letaknya tepat di pusat gunung. Jika si keris ini tergoyang sedikit saja, maka akan tercipta gempa bumi, sedang lahar panas yang dulunya adalah perapian, akan keluar karena tekanan hebat dari kesaktian si keris.

Lambat-laun, nama Gunung Jamurdwipa berubah menjadi Merapi. Nama Merapi berasal dari Perapian Keris dan seringnya gunung tersebut mengeluarkan lahar api.

Al Ustadz H. Djoko Susilo, sesekali masih mendaki Merapi.

Cerita di atas, tak ditepis mantan pendaki Merapi yang lahir dan dibesarkan di lereng gunung itu, Al-Ustadz H. Djoko Susilo. Ia naik-turun gunung Merapi sejak usia remaja. “Benar, cerita tadi berkembang luas di tengah masyarakat. Belakangan, ada yang masih percaya, ada yang menganggap mitos,” ujar H. Djoko Susilo kepada Jayakartanews.

Mereka yang tidak percaya dengan cerita ghaib di atas, biasanya mendasarinya dari sisi ilmiah. Ia memberi contoh, terjadinya suara riuh di Pasar Bubrah saat malam. Warga percaya, saat itu adalah pasaran para jin. Para jin bertransaksi di malam buat, sehingga suara gaduhnya terdengar oleh masyarakat di sekitarnya.

Dari sisi ilmiah, pendapat itu ditepis dengan terjadinya efek tiupan angina kencang. Angin yang bertiup kencang melewati lereng-lereng, menerobos pepohonan, menghasilkan fenomena suara seperti keadaan gaduh di pasar.

“Juga keberadaan tempat yang dianggap angker menurut saya itu adalah sanepo pesan dari para leluhur. Dengan berpesan, ‘awas… di situ angker…’, maka anak-keturunannya tidak akan melakukan perusakan alam. Otomatis lingkungan tetap terjaga, tetap asri, dan tidak sampai mengganggu ekosistem,” papar ustadz Djoko Susilo.

Ihwal kerajaan jin yang ada di Gunung Merapi, Ustads Djoko berkata, bahwa berbagai ajaran agama, termasuk Islam, mengakui keberadaan makhluk bernama jin atau lelembut. “Jin adalah salah satu makhluk ciptaan Allah SWT. Namun kewajiban kita hanya mempercayai keberadaannya, dan tidak boleh meminta pertolongan, apalagi memuja dan menyembah,” tegasnya. ***

Foto-foto koleksi al-ustadz H. Djoko Susilo

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *