Hanapi Nurmawan Membawa Plating Modern dari Birmingham

 Hanapi Nurmawan Membawa Plating Modern dari Birmingham
Hanapi Nurmawan diwawancarai sesaat usai deklarasi Asosiasi Plating Industri Indonesia, di Jakarta pada tanggal 9 Februari 2010. Foto: Nasrul Sitohang

ELEKTROPLATING, adalah proses pelapisan menggunakan prinsip pengendapan logam dengan cara eletrokimia. Benda kerja yang akan dilapisi dijadikan katoda, sedangkan logam yang melapisi benda kerja dijadikan sebagai anoda. Penemunya adalah ahli kimia Italia, Prof Luigi Valentino Brugnatelli, tahun 1805.  Nah, ini kisah tentang Hanapi Nurmawan, ilmuwan kita yang mendalami disiplin elektroplating.

Sejalan dengan meluasnya pengetahuan elektrokimia dan hubungannya dengan proses elektroplating maka proses elektroplating pun menjadi lebih dikenal. Jenis-jenis elektroplating logam lainnya yang bukan hanya untuk keperluan dekoratif juga mulai diteliti dan dikembangkan menjadi industri. Seperti lapis nikel kilap, lapis kuningan, timah putih,  dan seng mulai dikomersialisasikan pada tahun 1850-an.

Industri elektroplating mendapat dukungan kuat setelah ditemukannya generator listrik (electric generator) pada akhir 1850, sehingga memungkinkan untuk memproses pelapisan logam pada barang-barang dalam jumlah lebih banyak. Pada periode 1840-1870 merupakan periode peningkatan secara bertahap bagi industri elektroplating yang ditandai adanya perbaikan prinsip anoda, formula/komposisi terus mengalami perubahan dan juga proses manufakturnya.

Menurut Hanapi Nurmawan, industri plating di Indonesia sudah dimulai sejak pra kemerdekaan atau era tahun 40-an, hanya saja pengerjaan pelapisan logam pada benda padat kondutif tersebut, masih cenderung manual atau konvensional dan skala usahanya juga masih industri rumahan. Dan bahkan hingga tahun 60-an, pelapisan logam di Indonesia yang umumnya berada di Pulau Jawa masih pakai cara lama atau konvensional.

Terinspirasi ingin melakukan perubahan pada proses pelapisan logam konvensional, Hanapi Nurmawan bertekad mendalami pengetahuan tentang industri plating. Atas saran dan dukungan mitra usahanya di Singapura, dalam kurun waktu 1973-1975, ia berangkat ke salah satu perusahaan plating yang sudah berdiri lebih dari 200 tahun di Birmingham, berjarak tempuh sekitar 2,5 jam dari London.

Selain menimba ilmu plating di Birmingham, Hanapi Nurmawan juga mengunjungi sejumlah negara industri plating modern seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Belanda. Berbekal pengalaman ilmu plating modern yang diperoleh dari sejumlah negara tersebut, secara perlahan Hanapi Nurmawan mulai memperkenalkan dan menerapkan plating modern kepada para pelaku usaha plating.

“Boleh dibilang, industri pelapisan logam modern masuk ke Indonesia yang dimulai dari Pulau Jawa, sekitar 1976. Sejak itulah, secara perlahan dan pasti, terjadi perubahan atau pembaruan proses pelapisan logam konvensional menjadi electroplating modern, menyebar dan berkembang di tanah air,” kata Hanapi Nurmawan, mengawali usaha pelapisan logam di Hans Elektroplating pada 1969.

Secara singkat dijelaskan, perbedaan plating konvensional dengan plating modern setidaknya terdapat pada tiga bagian yaitu, sistem proses, pengendali mutu dan manajemen. Cara konvensional, sistem proses tidak searah/sejalur/se-line, pengendali mutu tidak stabil karena tidak terlalu ketat, dan manajemen tidak mengikuti struktur/sistem atau agak “koboi”, sedangkan cara modern sebaliknya.

Sementara manfaat dasar plating terhadap suatu benda memiliki tiga tujuan yang menjadi keunggulan dengan memiliki dua sifat, sifat fungsional (proses basah) dan sifat dekoratif (proses asam). Pertama tujuannya, mengendalikan korosi logam akibat berinteraksi dengan lingkungan sehingga usia pakai material lebih lama. Kedua, sebagai dekoratif untuk menaikkan kualitas material logam sehingga lebih menarik, indah dan lebih cantik. Seperti pelapisan logam mulia untuk perhiasan, asesoris (mobil, sepeda motor, dll), yaitu gold plating, brass plating dan nikel chrom plating.

Ketiga, agar material lebih tahan terhadap gesekan atau goresan sehingga tidak mudah aus. Seperti, zinc plating dan hard chrom plating. Dengan demikian, material yang telah diplating mempunyai nilai ekonomis dan nilai jual lebih tinggi.

Lanjut Hanapi Nurmawan, plate-plating atau elektroplating merupakan salah satu cabang dari ilmu kimia (elektrokimia) tentang pelapisan logam dengan energi atau arus listrik sehingga menyebabkan suatu reaksi atau perubahan kimia serta energi listrik yang dihasilkan melalui suatu reaksi kimia, hasil reaksi-rekasi pada suhu cukup tinggi lewat perubahan energi listrik menjadi panas.

Cerita pengalaman lain, pengusaha yang tergolong sukses itu, bukan saja membawa perubahan plating modern ke Indonesia tetapi juga hingga ke pabrik shock breaker, GYFU di salah satu daerah yang tidak begitu jauh dari Nagoya, Jepang. Sekalipun sudah memiliki 13 line dan produknya termasuk modern, namun GYFU masih konvensional dalam  proses plating.

Sekitar tahun 1993-1994, Hanapi Nurmawan diajak meeting di Jepang oleh KAYABA, perusahaan shock breaker milik pengusaha asal Jepang di Indoensia. Di situlah ia memperkenalkan ilmu baru plating yang didapat dari Eropa, dan ditambah dengan ilmu katalis. Sejak itu terjadi perubahan proses plating modern bagi GYFU, dan KAYABA di Indonesia. “Dengan perubahan itu, penghasilan KAYABA bisa meningkat 100%,” cerita pendiri Asosiasi Plating Industri Indonesia tersebut.***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *