Flight Insight, Cermin Buruk Maskapai Kita

 Flight Insight, Cermin Buruk Maskapai Kita
Diskusi dalam launching buku “Flight Insight: Buruk Maskapai, Pilot Dibelah”. Dari kiri: Alvin Lie (pengamat penerbangan), Oky Wiratama (pengacara publik LBH), Capt. Hasan Basri (The Eagle), dan moderator Eddy Burmansyah. Foto: Andi

TAK kurang dari sembilan orang captain pilot hadir di kantor LBH Jl. Diponegoro, Jakarta Pusat, Jumat (26/1) lalu. Mereka menamakan diri “The Eagle” yang ternyata sedang punya hajat peluncuran buku: Flight Insight, Buruk Maskapai, Pilot Dibelah. Acara peluncuran buku dibarengi diskusi menganai problematika dunia penerbangan, yang menghadirkan pengamat penerbangan dan juga anggota Ombudsman RI, Alvin Lie, Capt. Hasan Basri mewakili “The Eagle”, dan pengacara publik YLBHI, Oky Wiratama, dipandu moderator Edy Burmansyah.

Buku tentang aviasi atau dunia penerbangan, termasuk langka. Terlebih jika yang dimaksud adalah buku penerbangan yang disusun oleh para pelaku bisnis airline itu sendiri. Buku yang narasinya ditulis oleh Decy C. Widjaya itu, kemudian tidak saja menghadirkan hikayat dunia kedirgantaraan dunia dan Indonesia, tetapi masuk lebih dalam ke dalam ceruk bisnis dengan segala persoalannya.

Cover buku “Flight Insight: Buruk Maskapai, Pilot Dibelah”.

“The Eagle” ini terdiri dari setidaknya 18 pilot dan co-pilot eks Lion Air, lebih tepat sebagai para penerbang yang didepak Lion karena tudingan aksi mogok terbang, dan mengakibatkan berantakannya jadwal terbang Lion, tahun 2016. Aksi yang oleh The Eagle dinamakan “slow down” itu, berbuntut panjang. Bukan saja dampak PHK, beberapa di antara mereka bahkan dikriminalisasi. Singkatnya, mereka kemudian berseteru dengan Lion.

Nah, buku Flight Insight: Buruk Maskapai, Pilot Dibelah ini tak pelak menjadi semacam otokritik terhadap dunia penerbangan di Tanah Air. Betapa banyak regulasi yang ditabrak oleh maskapai, dengan banyak dalih yang ujung-ujungnya adalah profit. Buku ini banyak menyajikan data-data tingginya kasus kecelakaan, dari yang ringan sampai yang fatal, akibat diabaikannya aturan demi meraup keuntungan. Tingkat kewaspadaan akan keselamatan berhadapan langsung dengan penghematan.

“Pemotongan prosedur menjadi hal biasa. Padahal itu berakibat pada pengabaian keselamatan. Misalnya, waktu turnaround sering kali menjadi tidak realistis. Padahal, waktu minimum untuk turnaround harus dihargai dengan benar. Penumpang turun, pembersihan catering dimulai, pengisian bahan bakar, inspeksi keliling, pemeriksaan troubleshooting dan pengisian slot takeoff memiliki standar waktu yang tak bisa dipotong hanya demi biaya lalu mengompromikan keselamatan. Padahal sudah banyak terbukti bahwa ketergesaan akan meningkatkan peluang human error”. (hlm. 123)

Buku yang sangat bagus, karena tidak saja menampilkan sisi idealisme penerbang dengan menapak jejak sejarah penerbangan Indonesia dan dunia. Lebih dari itu, buku ini juga mencatat dan mengangkat problematika industri penerbangan Indonesia. Sudah selayaknya, buku ini sampai ke tangan pemerintah selaku regulator, para pelaku bisnis penerbangan, dan masyarakat yang peduli terhadap dunia kedirgantaraan. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.