Skizofrenia: Lebih Disebabkan Masalah Fisik Daripada Mental

 Skizofrenia: Lebih Disebabkan Masalah Fisik Daripada Mental

Studi di King’s College London menyatakan skizofrenia bukan hanya gangguan kesehatan mental, yang terjadi di otak, tapi juga berkaitan dengan perubahan fisiologis diseluruh tubuh. Studi ini berhipotesa bahwa gejala-gejala fisik ini bukanlah akibat sekunder dari penyakit, tetapi, ternyata, memberi indikasi bahwa Skizofrenia adalah ganguan kesehatan bagi seluruh tubuh manusia.

Sudah cukup lama para ahli mengamati ada kaitan kuat antara skizofrenia dengan kondisi kesehatan tubuh yang buruk. Mereka, yang didiagnosis penyakit ini, cenderung mengalami kematian lebih cepat sampai 20 tahun dari rata-rata harapan hidup pada umumnya. Hal ini disebabkan banyak hal seperti penyakit jantung, diabetes dan lainnya.

Kondisi kesehatan ini biasanya dipandang sebagai faktor kedua isu kesehatan mental. Kemiskinan, tuna wisma, merokok, dan masalah-masalah sosial lain, merupakan faktor-faktor utama, yang sering terjadi akibat skizofrenia, sehingga orang mengalami kemunduran kesehatan tubuh dan harapan hidup yang lebih pendek.

Namun makin banyak bukti-bukti bermunculan dengan kesimpulan kesehatan tubuh, yang buruk, dari penderita skizofrenia bukanlah dampak ikutan (faktor kedua) tetapi merupakan gejala fundamental dari penyakit tersebut.

Laporan dari tim peneliti di King’s College London mengumpulkan data kasus dari 165 penelitian untuk meneliti kondisi fisik subyek, yang diteliti, ketika mereka didiagnosa skizofrenia. Hipotesanya adalah jika banyak dampak fisiologis dipandang ikutan dari kondisi (penyakit skizofrenia) maka bukankah akan terlihat dengan jelas pada tingkat dini penyakit tersebut.

“Kami mengumpulkan data dari banyak penelitian, melihat faktor-faktor resiko berupa tanda-tanda peradangan, tingkat hormone, dan penyakit jantung, termasuk tingkat gula darah dan kolesterol,” jelas Toby Pilinger, peneliti di proyek itu. “Kami juga mengumpulkan data dari dari penelitian-penelitian yang meneliti struktur otak, tingkat perbedaan cairan kimia di dalam otak, dan tanda-tanda aktivitas otak.”

Dari subyek penelitian, 13.000 orang, disimpulkan ada perubahan besar secara fisiologis yang bisa diidentifikasikan, dengan istilah peneliti, ‘psikosis episode-pertama’. Hal itu termasuk kelainan metabolism jantung dan parameter imun dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sehat.

Pandangan bahwa skizofrenia merupakan kondisi di seluruh tubuh, bukanlah hal baru. Meski di beri label sebagai penyakit mental disepanjang abad 20. Lebih dari 100 tahun lalu dokter psikiatri Emil Kraepelin, dari Jerman, merasa yakin bahwa kondisi tersebut jauh lebih besar, dia menyebutnya sebagai ‘seluruh tubuh sakit’.

Di akhir abad 19, kondisi yang sekarang kita sebut sebagai skizofrenia dinamakan ‘dementia preacox’. Pada buku, yang ditulis Kraepelin, manual psikiatri (Psychiatrie), dia mengkategorikan kondisi dementia praecox secara lengkap. Belakangan, dia mendesakkan pemikiran bahwa kondisi ini bukanlah penyakit otak tetapi penyakit metabolisme, yang lebih luas, dan mempengaruhi seluruh fungsi tubuh, organ-organ, dan lainnya. Kraepelin juga memandang dampak psikologis dari kondisi dementia praecox merupakan gejala-gejala dari penyakit yang lebih luas. Dia juga, pada tahun 1919, menyebutkan kita akan menemukan jejak-jejak penyakit ini di dalam darah.

“Penelitian hati-hati mengenai proses metabolism dan kimia darah akan memberi kita tanda yang penting dari karakterisasi dan penggambaran secara lengkap dari kelompok penyakit,” tulis Kreapelin, sekitar 100 tahun lalu.

Pada era tahun 1920-an, studi psikiatri berkembang pesat dimana teori Freud dan Jung memengang peranan utama, sementara hasil karya Kraepelin dilupakan. Pandangannya mengenai fisiologi dalam kesehatan mental disisihkan oleh interpretasi psikoanalisis modern. Istilah skizofrenia pelan-pelan mendominasi penamaan kondisi tersebut.

Kraepelin, yang meninggal tahun 1926, dilaporkan, dia secara terbuka mengkritik pedas Freud dan Jung. Dia juga terobsesi dengan riset ilmiah serology, analisa diagnostik melalui darah. Satu abad kemudian, ide Kraepelin terbukti sangat menarik dan riset-riset mulai memperlihatkan bahwa kondisi skizofrenia memiliki gejala secara fisik dan bisa di identifikasi.

Sebuah penelitian, yang dipublikasikan tahun 2014, menemukan pasien-pasien yang menderita pertama kali ganguan psikotik memperlihatkan tingkat sitokin pro-inflamasi yang signifikan pada darah mereka. Hal ini memberi pertanda bahwa skizofrenia bisa dikaitkan dengan ketidak-seimbangan sistem kekebalan tubuh manusia, yang juga berarti ada potensi biomarker di dalam darah untuk melacak penyakit ini.

Bahkan beberapa penelitian, sekarang ini, mulai menemukan koneksi antara ganguan mental dengan pembengkakan, yang makin memperkuat hipotesa bahwa kondisi penyakit ini, yang sebelumnya dipandang sebagai masalah psikologi, mungkin punya akar kuat pada masalah fisiologi atau fisik. Penelitian tahun 2015, menemukan kaitan antara depresi dengan pembengkakan syaraf. Bahkan penelitian lebih baru menemukan kaitan kuat antara pembengkakan di otak dengan pikiran-pikiran bunuh diri.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah gejala-gejala fisik ini sebagai penyebab atau akibat? Untuk menjawab pertanyaan ini masih diperlukan riset-riset lanjutan. Toby Pilinger menyatakan kemungkinan ada tiga hipotesa yang bisa diteliti untuk melihat kaitan antara otak dan kondisi fisik dalam skizofrenia.

Kemungkinan pertama, kondisi skizofrenia bisa dimulai di otak dan kemerosotan kondisi fisik terjadi karena kelainan neurologis. Pilinger menjelaskan stres bisa membuat peningkatan hormon kortisol di dalam tubuh sehingga menyebabkan dampak negatif.

Kemungkinan kedua, mengikuti ide Kraepenin, disfungsi berasal dari tubuh sehingga terjadi kekurangan (hormon kortisol) di dalam otak. Bukti-bukti terbaru mengkaitkan antara bakteri di dalam perut dengan kondisi-kondisi psikologis, seperti depresi. Dan ini bisa mengarah pada sebab ganguan mental bisa berasal dari luar otak.

Kemungkinan ketiga, yang disebut Pilinger, adalah gejala kondisi di otak dan tubuh berasal dari beberapa faktor resiko. Contohnya, skenario hipotetis berupa ibu hail yang menderita kelaparan. Kondisi kekurangan nutrisi akan menyebabkan terjadi disfungsi sistemik terhadap anaknya, yang berdampak pada tubuh dan otaknya.

Meski sudah 100 tahun lalu disampaikan, ide-ide penjelasan tentang metabolism yang lebih luas dibelakang isu kesehatan mental dan baru sekarang mulai diteliti. Kemajuan pesat dalam teknologi riset dan tehnik diagnosa selama beberapa dekade terakhir telah memungkinkan para ahli membuka adanya kaitan antara tubuh dan otak. Kita berharap riset-riset baru ini akan berkembang dan membuat perawatan kondisi skizofrenia lebih efektif.

Sumber informasi: newatlas.com

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *