Negara dan Hukum di Mata Bachtiar Sitanggang

 Negara dan Hukum di Mata Bachtiar Sitanggang

WARTAWAN sekaligus advokat, Bachtiar Sitanggang, SH baru-baru ini meluncurkan bukunya, berjudul “Negara dan Hukum di Mata seorang Wartawan dan Advokat”. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang sudah dimuat di berbagai penerbitan seperti, Harian Umum Sinar Harapan, Buku Rekaman Peristiwa, Suara Pembaruan, Kompas, Suara Karya, Sinar Harapan (setelah reformasi), media online Netralitas.com, Independensi.com, dan SHNet yang semuanya terbit di Jakarta, serta Tegas.com yang terbit di Kendari.

Peluncuran buku tersebut diisi dengan bincang-bincang, kesan dan pesan narasumber terhadap penulis, dan ramah tamah. Adapun para narasumber yang hadir di antaranya  Dr. Albert Hasibuan, SH,  Dr. Luhut Pangaribuan SH, LLM, Nursyahbani Katjasungkana, SH, Ir. Jan Pieter Sitanggang ( Si Raja Napogos), Kris Kaban dengan moderator Ir. Sahat Marojahan Doloksaribu, M. Ing dan Palmer Situmorang. Acara sebagian besar dihadiri rekan-rekan seprofesi baik mantan wartawan istana dan wartawan serta karyawan Sinar Harapan maupun Suara Pembaruan, dan keluarga.

Buku ini diterbitkan oleh PT. Suara Harapan Bangsa bekerjasama dengan Kelompok Naringgas Manjaha yang artinya “Yang Rajin Membaca”. erkumpulan ini telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya kumpulan tokoh nasional, dan dalam rangka Perayaan Hari Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-70 telah menerbitkan “Antara Kenyataan dan Harapan” dan juga menerbitkan buku Benny J. Mamoto ”Bersih, jujur dan Merakyat”.

Mereka yang tergabung dalam Naringgas Manjaha adalah Ir. Sahat Marojahan Dolok Saribu, M Ing, Dekan Fakultas Tehnik Universitas Kristen Indonesia, Enderson Tambunan dan Apul D. Maharaja   keduanya mantan Wartawan/Redaktur Sinar Harapan dan Suara Pembaharuan, Drs. Ronald Sihombing mantan pimpinan Unit Sirkulasi Sinar Harapan dan Suara Pembaharuan, serta Djalan Sihombing, SH Advokat dan aktivis, Bachtiar Sitanggang, SH wartawan dan Redaktur Pelaksana Suara Pembaharuan, sebagai lanjutan dari Sinar Harapan.

Menurut Bachtiar Sitanggang, sebagian besar bukunya adalah Tajuk Rencana yang sudah dipublikasikan di Media Cetak maupun Media On-line. Katanya dia belajar menulis Tajuk Rencana   dari dua tokoh nasional salah satunya pejuang kemerdekaan dan pernah menjabat Kepala Staf angkatan Perang Republik Indonesia, Letnan Jenderal Dr. Tahi Bonar Simatupang, dan tokoh wartawan nasional Sabam P. Siagian yang terakhir Duta besar Luar Biasa dan berkuasa penuh Pemerintah RI untuk Australia.

Buku yang terdiri dari 412 halaman ini menurut Luhut Pangaribuan tampak sangat serius membahas peristiwa-peristiwa yang terjadi di Indonesia. Karena terlalu serius seharusnya dibuat lebih santai. Oleh karenanya ia menyarankan sebaiknya judulnya “Dari Ronggur Ni Huta Sampai Ke Istana”.

Sementara itu, Kris Kaban mengatakan bahwa Bachtiar Sitanggang adalah orang yang sangat konsisten dalam menulis Tajuk Rencana dan tidak mau terjebak dalam subjektifitas. Bahasa yang digunakan santun dan lembut, sehingga pembaca mengerti arah dan tujuan penulis. Menurutnya Bachtiar Sitanggang adalah penulis yang benar-benar menggunakan acuan kode etik jurnalistik, tidak condong sebelah, pemilihan kata-kata yang pas dan tepat, dan menggunakan data serta sumber yang akurat.

Acara peluncuran tersebut dimulai pukul 18.30 WIB dan berakhir pukul 22.00 WIB. Dalam kata sambutannya, penulis Bachtiar Sitanggang mengharapkan buku yang ditulisnya dapat memberi dampak positif bagi para pembaca. ***

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *