Perayaan HUT Kemerdekaan RI, GPIB Petra Suka Cita Berbagi

 Perayaan HUT Kemerdekaan RI, GPIB Petra Suka Cita Berbagi

GPIB Petra gelar upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 73 dan ibadah syukur di Gereja Bethesda, Jumat (17/8/2018)–dok Petra

GPIB Petra gelar upacara peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 73 dan ibadah syukur di Gereja Bethesda, Jumat (17/8/2018)–dok Petra

Kondisi terbatas tidak menghalangi gereja untuk menggelar upacara HUT Kemerdekaan RI ke-73 serta ibadah syukur pada Jumat pagi 17 Agustus 2018.  Itu yang dilakukan GPIB Petra  yang gedung gereja utamanya di Jl Jampea Jakarta Utara masih dalam proses pembangunan.  Untuk upacara dan ibadah syukur, jemaat melakukannya di dalam Gereja Bethesda, cabang GPIB Petra, di JL Pepaya, Kramat Jaya Semper, Jakarta Utara.

Sedikitnya 300 anggota Jemaat GPIB Petra ikut ambil bagian dalam acara ini. Jemaat terdiri dari keenam Pelayanan  Katagorial (Pelkat) Pelayan Anak (PA), Pelayanan Teruna (PT), Gerakan Pemuda (GP), Pelkat PKP (Persekutuan Kaum Perempuan), Pelkat PKLU (Pelayanan Katagorial Lanjut Usia), Pelkat PKB (Pelayanan Katagorial Kaum Bapak) dan Komisi Pramuka Gugus Depan 03.213-03.214 Petra. Bertindak selaku Inspektur Upacara Ketua Majelis Jemaat (KMJ) Pdt. Adriono Wangkay, S.Th  dengan Komandan Upacara Edwin Poluakan, Ka Gudep Petra. 

Usai Upacara dan ibadah syukur, panitia menggelar aneka lomba sebagai ungkapan syukur jemaat atas 73 tahun Kemerdekaan RI. Yang menarik, di hari yang penting ini, GPIB Petra mau berbagi suka cita dengan warga setempat yang tidak memiliki lokasi yang memadai untuk menggelar lomba. Warga diizinkan menggunakan halaman depan gereja untuk  menggelar lombanya, sementara jemaat menggelar lomba di halaman belakang.

Bentuk solidaritas dan kebersamaan yang ditunjukkan Gereja Petra ini sebenarnya bukan baru sekali ini saja. Namun setiap kali dan dalam berbagai momen seperti misalnya saat Ramadhan, Idul Fitri, dll.

“Ini merupakan salah satu bentuk solidaritas sesama anak bangsa. Kami memberikan izin penggunaan halaman gereja untuk acara mereka. Kami juga berharap,  suatu saat nanti kegiatan kami pun diberi izin menggunakan halaman rumah ibadah mereka sebagai bentuk kebersamaan. Semoga saja!” Kata Pdt Adriano Wangkay.

 GEREJA BERDOA

Pendeta  Adriano Wangkay mengingatkan warganya dalam kotbah Ibadah Syukur untuk Berdoa.  ‘Gereja Berdoa’, bukan mengkristenkan warga Indonesia yang belum percaya. ‘Gereja Berdoa’ untuk mendukung pemerintah dan semua komponen bangsa yang berkarya dan berprestasi. Karena gereja adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

NKRI adalah milik bersama. Gereja bukan warga kelas dua tapi bagian yang ikut mendirikan bangsa ini dalam doa dan konsep nasionalisme yang digaungkan para pendiri Republik ini.

Dalam kesempatan itu Adriono juga mengingatkan agar umat Kristen  waspada agar tidak terjebak pada bentuk-bentuk pemujaan apa pun  selain pemujaan kepada Tuhan. Prinsipnya, jangan ada alah lain selain Tuhan yang kita sembah.

“Nasionalisme Kristen harus dibangun dalam rangka menjalani panggilan untuk membangun dunia seperti ditugaskan  Tuhan pada kita. Menjalani panggilan  mengasihi dan melayani jiwa-jiwa yang ada di bangsa ini.  Menjalani panggilan untuk melayani masyarakat (komunitas) di mana Tuhan menempatkan kita,” katanya.

Namun, katanya lebih jauh, nasionalisme Kristen pada bangsa/negeri di tempat mana ia tinggal tidak boleh menjadi sebuah chauvinisme (nasionalisme ekstrem) yang menyebabkan kita tidak peduli dengan bangsa lain, atau warga lain di NKRI ini.

Sebab, kewargaan orang percaya bukan hanya di dunia ini  saja tetapi  yang utama  di sorga. ‘’Fokus kasih Kristen adalah pada jiwa-jiwa (manusia). Semua manusia di seluruh dunia. Makanya Tuhan menegur Yunus yang chauvinistic dan anti bangsa lain (tidak suka Niniwe diselamatkan) – Tuhan cinta semua bangsa,’’ tutur  Adriono Wangkay.

‘’Kalau kita semua kompak, sehati dan merendahkan hati,  berdoa di dalam nama Tuhan Yesus, Indonesia pasti sejahtera. Kita berdoa bukan untuk mengkristenkan bangsa tapi demi kesehjateraan, keadilan dan persatuan bangsa yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan,’’ ujar Pendeta Adriono yang dalam kesempatan itu memuji kinerja Forum Kebersamaan Umat Beragama (FKUB) Jakarta Utara.

FKUB Jakarta Utara, kata Pdt. Adriono Wangkay, adalah contoh organisasi keagamaan yang sangat baik di wilayah Provinsi DKI Jakarta ini. Forum ini responsif dan mendukung sekali urusan-urusan yang berhubungan dengan kegiatan keagamaan di wilayah Jakarta Utara.

‘’Luar biasa FKUB Jakarta Utara ini, dan kabarnya menjadi pola dan tipe yang sangat baik bagi Provinsi DKI Jakarta. Ini harus kita dukung kegiatannya atas bantuan mereka dalam urusan perizinan dan kegiatan – kegiatan pembangunan rumah-rumah ibadah kita. Trimakasih FKUB Jakarta Utara,’’ ucap KMJ GPIB Petra ini.***(ks)

 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *