Menggali Potensi Sungai Bawah Tanah Gunungkidul

 Menggali Potensi Sungai Bawah Tanah Gunungkidul

Sungai yang melintasi Gunung Kidul. (foto: national geographic-GRID-id)

JAYAKARTA NEWS – Komunitas Budaya “YogyaSemesta” bekerjasama dengan Koseta, akan menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Seri-5 guna mendukung kegiatan “Festival Purbakala 2020”. Tema diskusi yang akan berlangsung Selasa (27/10/2020) adalah “Menggali dan Mengembangkan Potensi Sungai Bawah Tanah di Gunungkidul”.

Meski dilaksanakan secara Floor-Panel Discussion, tapi panitia menerapkan protokol kesehatan yang ketat, sesuai arahan pemerintah. Akan hadir narasumber ahli di bidangnya, antara lain, Prof. Dr. Ir. C. Danisworo, MSc, Guru Besar Ilmu Geologi Fakultas Teknik Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta Bidang Studi Mineralogi, dan Ketua Dewan Pendidikan DIY, dalam perspektif edukatif.

Pembicara lain, Prof. Dr. Muhammad Baiquni, MA, Guru Besar Ilmu Geografi Fakultas Geografi UGM dan Program Studi S3 Kajian Pariwisata UGM, dalam perspektif pariwisata. Terakhir, Dr. Didit Barianto, Direktur Pusat Studi Geologi Fakultas Teknik UGM, dalam perspektif geologis.

Hari Dendi, Pengasuh “YogyaSemesta” akan bertindak selaku moderator, didampingi Co-Modderator: Sigit Sugito, Ketua Koseta DIY. Diskusi berlangsung di Ruang Sultan Agung Benteng Vredeburg (masuk lewat pintu timur), mulai pukul 15.00-17.00.

Acara besok, diawali dengan pembukaan “Festival Purbakala 2020” oleh Sumadi, SH, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan DIY. Diselingi Gelar Seni “Sastra Mantra”, didukung oleh Forum Kusumanegara dan Museum Keistimewaan DIY.

Kawasan Gunungkidul Purba

Pada zaman Pleistosen, yang merupakan periode tertua dari kehadiran manusia prasejarah, Pegunungan Selatan Jawa sudah terangkat ke atas permukaan laut dan menjadi daratan yang layak huni. Pegunungan Seribu yang merupakan zona paling selatan dari kawasan pegunungan ini bahkan memiliki akses yang mudah hingga wilayah Pacitan yang selama ini dianggap sebagai “dunia”-nya manusia prasejarah di bagian selatan Pulau Jawa.

Daerah sepanjang aliran sungai-sungai purba, di antaranya Sungai Oya di Gunungkidul dan Sungai Baksoka di Pacitan, menjadi tempat-tempat ideal berkembangnya populasi manusia dan berbagai jenis fauna. Gua-gua karst yang intensif terbentuk akibat proses solusional terhadap batu gamping penyusun perbukitan ini, menyediakan ruang-ruang hunian yang menyenangkan bagi komunitas-komunitas manusia prasejarah.

Kawasan Gunungkidul yang bertopografi dataran tinggi dan bergunung-gunung ini, memiliki karakteristik dalam hal corak dan sebaran tinggalan arkeologi, khususnya yang bertarikh prasejarah. Zone paling selatan yang membujur arah barat-timur kemudian membelok ke utara, atau yang sering disebut dengan Pegunungan Seribu, memiliki ratusan gua dan ceruk (rock shelter) yang banyak di antaranya mengandung bukti-bukti hunian manusia Prasejarah yang hidup sebagai pemburu. Selain banyak memiliki gua dan ceruk, kondisi alamnya yang berbukit-bukit dan tersusun atas batuan karang-kapur ini juga banyak memiliki telaga dan aliran sungai bawah tanah, namun tidak ada satu pun sungai permukaan sebagaimana bagian lain di Gunungkidul.

Satu-satunya sungai permukaan yang kini tinggal bekasnya adalah Bengawan Solo Purba yang dahulu mengalir ke selatan dan bermuara di Teluk Sadeng. Akibat proses pengangkatan daratan sejak kala Pleistosen Bawah bagian tengah, kira-kira 1,47 juta tahun yang lalu, yang menjadikan bagian hilir terangkat hampir 200 meter, sungai ini pun kemudian mengalir ke utara dan membentuk arah aliran Bengawan Solo sekarang.

Pemukiman prasejarah tertua di kawasan Pegunungan Seribu diketahui dari Gua Brahala, Rongkop, yang dihuni sejak 33.000 hingga 3.000 tahun yang lalu. Berdasarkan umur ini untuk sementara dapat dikatakan bahwa Gua Brahala merupakan situs pemukiman prasejarah tertua di Gunungkidul. Penghunian ini merupakan kelanjutan dari proses panjang penghunian kawasan karst Pegunungan Seribu yang dimulai dari wilayah Pacitan.

Pada saat komunitas manusia menjangkau wilayah Gunungkidul, lokasi-lokasi yang mereka pilih terutama gua-gua dan ceruk-ceruk yang banyak tersebar di bagian timur dan selatan, yang menjadi bagian dari zona Pegunungan Seribu. Tahap penghunian zona Pegunungan Seribu ini, dalam konteks kewilayahan Gunungkidul, dikenal sebagai periode Wonosari Tua.

Di samping Gua Brahala, terdapat sejumlah gua yang diduga kuat sebagai bekas hunian manusia masa lalu, terutama berdasar atas kondisi morfologinya, lingkungan pendukung, serta temuan permukaan yang berhasil didapatkan. Gua-gua yang dimaksud di antaranya Song Bentar, Song Blendrong, Song Terus, Gua Dawung, Gua Lawa, Song Ora-ara, dan Song Tawa.

Corak kehidupan prasejarah yang sangat berbeda dijumpai di wilayah tengah yang sering dikenal dengan istilah Cekungan (ledok atau depresi) Wonosari. Zona paling datar dan paling subur di Gunungkidul ini menjadi lokasi bagi para pemukim prasejarah yang hidup sebagai petani, jauh setelah para pemburu mengembangkan kehidupannya di wilayah Pegunungan Seribu.

Hasil penelitian sementara ini menunjukkan bahwa pada saat wilayah tengah Gunungkidul (zona Cekungan Wonosari) mulai terangkat dan layak huni, maka kehidupan mulai merambah ke wilayah depresi ini, dan dimulailah periode Wonosari Madya. Berbeda dengan periode Wonosari Tua yang dicirikan oleh kehidupan di gua-gua perbukitan karst, morfologi lingkungan yang menopang berlangsungnya periode Wonosari Madya secara umum ber-relief hampir datar hingga bergelombang, dengan lereng rata-rata landai hingga miring.

Di Gunungkidul, kondisi topografi seperti ini dijumpai di zona tengah yang meliputi wilayah Kecamatan Playen, Wonosari, Karangmojo, Semanu bagian utara, dan Ponjong bagian tengah. Situs-situs di sepanjang aliran Sungai Oya dan anak-anak sungainya, serta di beberapa wilayah tinggian di dalam bentangan Cekungan Wonosari, memberikan karakter hunian yang sangat berbeda dibanding periode sebelumnya.

Pada periode Wonosari Madya, peranan Sungai Oya dan anak-anak sungai purbanya, di antaranya Sungai Prambutan dan Sungai Branjang, memberikan arti penting bagi kehidupan manusia sejak saat itu. Secara genetik, Sungai Oya memiliki keunikan morfologis tersendiri. Walaupun mengalir di daerah perbukitan namun bentuk alirannya banyak menunjukkan kelokan yang tinggi dalam bentuk entrenched meander. Ini membuktikan bahwa pada suatu saat sungai-sungai tersebut pernah mencapai stadium tua (kondisi equilibrium), yang dekat dengan permukaan laut sebagai common based level.

Oleh karena pada awal pembentukannya, beda elevasi antara dataran dengan muka laut belum begitu besar, maka sungai tersebut mengalir dengan melakukan erosi lateral. Pengangkatan yang terus terjadi hingga mencapai ketinggian 200 mdpl pada akhir Plestosen akhirnya membentuk elevasi sekarang. Membesarnya beda tinggi antara dataran dan muka laut berakibat di dataran tersebut terjadi erosi. Sifat erosi Sungai Oya berubah dari lateral menjadi vertikal dengan tetap mempertahankan alur yang kurang lebih sama. Akibatnya terbentuklah entrenched meander dan endapan teras.

Pada kondisi sekarang, litologi dasar sungai yang resisten, yang tersusun oleh material vulkanik purba bercampur dengan batuan karbonat tertier, menghambat terjadinya peremajaan lembah.

Demikian siaran pers Komunitas Budaya “YogyaSemesta” dan Koperasi Seniman & Budayawan Yogya (Koseta). (*/rr)

Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • Maturnuwun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *