Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (4-SELESAI)

 Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (4-SELESAI)

Wanita-wanita Afghanistan pendukung Taliban. (business insider)

JAYAKARTA NEWS – Tahun 2019, Amerika melakukan perundingan damai dengan Taliban di Doha, Qatar. Saat yang sama, pasukan AS dan pemerintah Afghan melakukan upaya bersama untuk menguasai Sangin — terakhir kalinya. Pada bulan Januari 2019, mereka melancarkan serangan paling besar dan menghancurkan ke lembah.

Serangan paling besar yang pernah dilakukan AS selama perang 20 tahun. Ahmed Noor Mohammad, yang memiliki “warung telepon – WarTel” memutuskan untuk menunda evakuasi karena kedua anak kembarnya sakit. Mereka sedang tidur ketika suara tembakan artileri terdengar di kejauhan. Malam itu, bom Amerika menghantam kamar anak-anaknya dan menewaskan mereka. Bom kedua menghujam kamar lain, membunuh ayah Mohammad dan anggota keluarga lainnya, termasuk delapan anak-anak.

Besoknya, di pemakaman, serangan udara lain menewaskan enam pengantar jenazah keluarga Mohammad. Di desa sebelah, sebuah truk yang lengkapai senapan mesin menembak mati tiga anak – anak. Sehari kemudian, empat anak kembali ditembak mati. Di seluruh Lembah Sangin, serangan udara menghancurkan sekolah agama, yang menbunuh seorang anak. Seminggu kemudian, 12 tamu pernikahan juga terbunuh dalam serangan udara.

Setelah pemboman, kakak Mohammad ke Kandahar melaporkan pembantain itu kepada PBB dan Pemerintah Afghan. Namun setelah tidak ada tindakan apapaun, dia langsung bergabung dengan Taliban.

Pejuang baru terus bergabung dan membuat Taliban makin kuat dan tidak mengalami kesulitan mengalahkan pasukan koalisi. Pertanyaannya apakah Taliban membawa perdamaian di wilayah pedesaan, yang dikuasainya. Banyak desa-desa sudah hancur lebur dan pembangunan kembali akan jadi tantangan besar. Namun tantangan lebih besar adalah bagaimana berdamai degan masa lalu selama perang dua dekade. “Anak perempuan saja bisa saja mendadak bangun tidur dan berteriak Amerika datang,” cerita Pazaro. “Kami harus berbicara lembut dan menennagkannya serta mengatakan tidak, mereka tidak akan datang kembali.”

Taliban menyebut wilayah kekuasaannya sebagai Emirat Afghanistan dan setelah semua orang asing keluar maka akan ada kedamian yang tenang. Selama ini, Helmand adalah ibukota de facto ke-emiratan dan memberi gambaran seperti apa Afghanistan setelah kembali dikuasai Taliban.

Anand Gopal (wartawan penulis) meninggalkan Lashkar Gah, yang saat itu masih dikuasai pemerintah. Di pinggiran kota berdiri banguan pos penjagaan dengan bendera pemerintah — diluar batas bangunan ini kekuasaan pemerintah sudah lenyap. Di dekat pos, terlihat sebuah mobil pikup sedang terparkit dan disi oleh enam anggota Sangorian, milisi yang sangat ditakuti dan dibiayai oleh badan intelejen pemerintah Afghan dan didukung juga oleh badan intelejen Amerika (CIA). Dua tentara mereka terlihat masih remaja.

Dia bersama dua temannya dan sebuah sedan Corolla, melewati pos penjagaan tanpa dihentikan. Kemudian, mereka dihadapkan wilayah kosong tanpa pohon yang dipanggang panas matahari dan sebenarnya tidak ada jalan. Dia melewati beberapa bekas pangkalan Angkatan Darat pemerintah Afghanistan, yang dibangun Amerika dan Inggris. Setelah itu, terlihat benteng-benteng yang dibuat dari tanah dan terlihat satu tentara Taliban, dengan senapan tergantung di perutnya. Serta ada bendera putih dibelakangnya, mereka sudah sampai di wilayah Taliban.

Perbedaan besar antara wilayah Taliban dan wilayah pemerintah Afghan adalah banyaknya orang bersenjata. Di kawasan pemerintah, mereka terbiasa melihat polisi dan milisi serta agen intelejen memeriksa mobil-mobil. Tapi di wilayah Taliban sangat jarang ada pos penjagaan atau pemeriksaan. Ketika tentara Taliban benar-benar memeriksa mobil. Sopir mobil berkomentar sambil tertawa, “Semua orang takut terhadap Taliban. Pos penjagaan sudah tertanam di hati.”

Pos Penjagaan Taliban. (https://timesofindia.indiatimes.com/)

Jika orang-orang takut dengan penguasa baru, mereka juga berteman dengan mereka. Di berbagai tempat, terlihat kelompok-kelompok warga desa duduk di warung dan minum teh bersama anggota Taliban. Jalanan tanah makin luas saat mendekati Sangin. Di sungai terlihat anak-anak sedang bertanding berenang, laki-laki dan anggota Taliban sedang berjalan di pinggiran sungai. Mereka melewati ladang hijau dan pohon-pohon buah. Sekelompok perempuan juga terlihat berjalan ke pasar.

Di dekat kota Gereshk, yang dikuasai pemerintah. Kota ini tetap dipertahankan karena jadi titik utama penarikan pajak jalan di kawasan tersebut. Banyak orang bilang, jika menguasai wilayah ini sama artinya menguasai seluruh Provinsi Helmand. Taliban telah melancarkan serangan terhadap kota dan suara ledakan artileri bisa terdengar di seluruh wilayah ini. Terlihat rombongan pengungsi, keluarga-keluarga dengan keledai beban memasuki wilayah itu. Mereka mengatakan mereka lari dari serangan udara. Di pinggir jalan, seorang perempuan mengenakan burqa biru berdiri disampin kereta dorong dan diatasnya ada jenazah yang diselimuti kain. Sejumlah tentara Taliban terlihat berkumpul di perbukitan sedang menguburkan rekan mereka.

Saya bertemu dengan Wakil, seorang komandan Taliban. Seperti kebanyakan tentara, yang saya temui, dia berasal dari keluarga petani, belajar di sekolah agama, dan kehilangan banyak keluarga yang meninggal ditangan  panglima perang Amir Dado, Devisi 93, dan Amerika. Dia membicarakan bencana yang dialami oleh keluarganya tanpa memperlihatkan perasaan, seakan-akan Perang Amerika merupakan hal biasa saja.

Wakil berusia 30 tahun dan dia menyandang jabatan komandan setelah kakaknya, yang menjabat komandan sebelumnya, meninggal dalam pertempuran. Dia tidak pernah berpergian keluar Provinsi Helmand dan dari wajahnya terlihat bagaimana dia sedang memikirkan bagaimana merebut Gareshk, kota yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari rumahnya tapi selama 20 tahun tidak bisa dikunjunginya. “Sudah jangan lagi menulis,” katanya sambil tertawa melihat saya menulis di buku. “Ikut saya merebut kota!”. Katanya sambil melihat helikopter di kejauhan. Saya menolak. Kemudian, dia berlari cepat. Satu jam kemudian, sebuah foto masuk ke telepon saya dari Wakil. Di foto itu, terlihat Wakil sedang merobek poster tokoh pemerintah, yang dekat dengan Devisi 93. Gareshk sudah jatuh ke tangan Taliban.

Di rumah gubernur distrik Taliban, sekelompok anggota Taliban sedang duduk dan makan, makanan ini disumbangkan oleh warga desa. Ditanya apa rencana mereka setelah perang selesai. Kebanyakan menjawab mereka akan kembali bertani atau meneruskan pendidikan agama. Anand terbang ke Afghanistan dari Irak, dan ini membuat Hamid, komandan Taliban, terkesan. Dia mengatakan dia bermimpi bisa melihat reruntuhan Babylonia. Dia menambahkan, “Kamu kira, setelah ini semua berakhir, apakah mereka akan memberikan saya visa?”.

Taliban sendiri terpecah soal bagaimana ke depan. Banyak anggota Taliban dari berbagai tempat di Afghanistan berbeda pandangan mengenai masa depan negara. Anggota Taliban, yang berpandangan politis dan tinggal di luar negeri seperti di Doha atau Pakistan, mengatakan negara akan lebih cosmopolitan dari sebelumnya.

“Ada banyak kesalahan kami buat pada tahun 90-an. Kala itu, kami tidak tahu mengenai hak azasi manusia, Pendidikan, politik — kami hanya melakukan semuanya berdasarkan kekuasaan. Tapi sekarang kami mengerti.” Dalam scenario ideal, Taliban akan berbagi kementerian dengan mantan musuhnya, anak perempuan akan sekolah, dan perempuan akan bekerja bersama-sama dengan laki-laki.

Namun di Helmand, sangat sukar menemukan anggota Taliban yang berpandangan seperti ini. Hamdullah, bisa mewakili pandangan umumnya, yang kehilangan belasan anggota keluarga dalam Perang Amerika dan memandang siklus hidupnya berupa pernikahan, pemakaman, dan perang. Dia mengatakan komunitasnya (Taliban) telah menderita terlalu besar untuk berbagi kekuasaan dan perang selama dua puluh tahun hanya punya satu solusi yaitu membalikkan keadaan. Dia mengatakan dengan bangga, dia akan bergabung dengan pasukan Taliban memasuki Kabul, kota yang belum pernah dilihatnya. Dia berharap bisa masuk kota pada pertengahan Agustus 2021.

Dalam isu paling sensitive bagi kehidipan di pedesaan — hak-hak perempuan. Laki-laki seperti Hamdullah tidak bergeming. Pada banyak bagian di pedesaan Helmand, perempuan dilarang mengunjungi pasar. Baru-baru ini, seorang perempuan di Sangin membeli kue di pasar untuk anak-anaknya. Taliban memukuli dia, suaminya, dan penjaja kue.

Anggota Taliban berkata, mereka berencana untuk mengijinkan perempuan belajar di madrasah, tapi hanya sampai saat pubertas saja. Sama seperti sebelumnya, perempuan akan dilarang bekerja, kecuali untuk bidan (membantu melahirkan). Pazaro mengatakan, “Mereka sama sekali tidak berubah.”

Rezim Taliban di Afghanistan. (https://app.cnnindonesia.com/)

Melihat Helmand, sangat sukar untuk melihat satu tanda Taliban melakukan pemerintahan. Tidak seperti Gerakan pemberontakan pada umumnya, Taliban tidak melakukan rekonstruksi, tidak ada layanan sosial selain peradilan kerasnya. Taliban juga menindak keras setiap oposisi. Di Pan Killay, Taliban mengeksekusi warga desa ShaistaGul karena memberi roti kepada anggota Angkatan Bersenjata Afghan. Meskipun kebanyakan orang di Helmand memilih Taliban, termasuk perempuan.

Taliban tampaknya menang hanya karena kegagalan musuh mereka. Bagi warga setempat, kehidupan dibawah pasukan koalisi dan sekutu Afghan-nya benar-benar menyengsarakan dan berbahaya. Bahkan minum the di ladang atau mengendarai kendaraan ke pernikahan saudara anda beresiko fatal atau kematian. Tawaran Taliban, yang lebih baik dari pesaingnya, adalah: Patuhi kami dan kami tidak akan membunuh anda.

Penduduk desa memilih Taliban karena hal ini. Di wilayah Yakh Chal, di pangkalan Angkatan Bersenjata Afghan yang baru dihancurkan dan direbut Talihan. Hanya terlihat runuhan barang-barang besi, kabel, dan lainnya. Setelah jatuh, besoknya, penduduk desa datang ke pangkalan untuk mengumpulkan barang-barang bekas, yang sudah hancur, untuk dijual kembali. Abdul Rahman, petani setempat, ikut memulung bersama anaknya ketika helikopter Angkatan Darat Afghan muncul.

Helikopter terbang sangat rendah, dia mengenang, ”Bahkan senapan Kalashnikov bisa menembaknya.” Namun di tempat itu sudah tidak ada Taliban, hanya ada warga sipil. Helikopter menembak dan warga desa berjatuhan. Kemudian terbang kembali berbalik, kembali menembak. “Banyak warga tumbang, berdarah dan meminta tolong.” Saksi mata lain berujar, “Banyak anak-anak.” Menurut warga desa, sedikitnya lima puluh warga sipil meninggal.

Belakangan, pilot helikopter Angkatan Darat Afghan, yang berbicara dengan penyerang pangkalan itu, menjelaskan, “Saya bertanya kepada awak helikopter yang menyerang pangkalan tersebut, kenapa mereka melakukan serangan itu. Mereka menjawab kami tahu mereka warga sipil, tapi Kamp Bastion (Bekas pangkalan Inggris yang diserahkan kepada Afghan) memberi perintah melancarkan serangan.” Saat wawancara, helikopter-helikopter Angkatan darat Afghan melancarkan serangan terhadap pasar sentral di Gereshk hingga membunuh sejumlah warga sipil. Pejabat organisasi internasional berbasis di Helmand menjelaskan, ”Ketika pasukan pemerintah kehilangan wilayah, mereka melancarkan serangan balas dendam terhadap warga sipil.” Pilot helikopter tersebut mengakui hal ini,”Kami melakukan itu atas perintah Sami Sadat.”

Jenderal Sami Sadat mengepalai salah satu dari tujuh korps Angkatan Darat. Tidak seperti generasi orang kuat seperti Amir Dado, yang berada di wilayah pedalaman dan buta huruf. Sadat mempunyai gelar master dalam strategi manajemen dan kepemimpinan dari sebuah universitas di Inggris dan belajar di Akademi Militer di Munich, Jerman. Dia punya jabatan militer dan sekaligus dia juga adalah direktur utama Blue Sea Logistic, perusahaan di Kabul yang memasok pasukan anti-Taliban dengan dari suku cadang helikopter sampai kendaraan lapis baja.

Di Helmand, helikopter Blackhawks, yang dikomandoinya, melancarkan serangan ke warga sipil hampir setiap hari. Contohnya: Dua belas warga sipil tewas ketika sedang memulung barang-barang di bekas pangkalan militer di luar Sangin; empat puluh meninggal dalam insiden yang sama di Camp Walid; dua puluh tewas, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dalam serangan udara di pasar Gereshk; tentara pemerintah Afghan ditangkap oleh Taliban di sebuah pos penjagaan, yang jadi sasaran serangan udara rekannya sendiri.

Sehari sebelum pembangaian di Yakh Chal, CNN menayangkan wawancara dengan Jenderal Sadat, yang menyatakan, “Helmand wilayah indah, damai dan turis bisa berkunjung.” Pasukan punya semangat juang yang tinggi, katanya dan dia yakin bisa mengalahkan Taliban. Pewawancara berkata,”Anda kelihatannya sangat optimis dan ini sangat meyakinkan.”

Rekaman wawancara itu, di CNN, diperlihatkan kepada Mohammed Wali, pedagang kecil di dekat Lashkar Gah. Beberapa hari setelah pembangaian Yakh Chal, milisi pasukan pemerintah di wilayah ini menyerahkan diri kepada Taliban. Helikopter, atas perintah Jenderal Sadat, mulai menyerang rumah-rumah penduduk sipil.

Mereka juga menyerang rumah Wali dan sebuah peluru menghujam kepala puterinya, yang meninggal ditempat. Kakaknya menggendong jenazah ke lapangan dan berteriak kepada helikopter, ”Kami warga sipil!”. Tapi helikopter berbalik dan menembak mati dia dan putera Wali. Isiteri Wali juga kehilangan kakinya dan satu puterinya juga cedera dan koma. Ketika Wali melihat wawancara itu, dia menangis dan berkomentar,”Kenapa mereka melakukan semua ini terhadal kami?” Tanyanya. Ditambahkan,”Apa mereka sedang mengolok-olok kami?”.

Pada tahun baru 2006, Taliban membunuh 32 teman dan keluarga panglima perang Amir Dado, termasuk puteranya. Tiga tahun kemudian, mereka membunuhnya, yang sudah jadi anggota parlemen, dengan ranjau di pinggira jalan. Pembunuh panglima perang ini disebut-sebut berasal dari desa Pan Killay. Serangan ini bisa saja disebut sebagai pertempuran pemberontak melawan pemerintahan yang sah dan diakui internasional. Atau bisa juga disebut sebagai balas dendam warga desa miskin terhadap penindasnya. Atau perang antar suku. Atau serangan oleh kartel obat bius terhadap pesaingnya.

Semua bacaan di atas mungkin benar seluruhnya. Sudah sangat jelas bahwa Amerika sama sekali tidak mencoba menyelesaikan perpecahan dan membangun institusi inklusif yang lestari. Namun Washington hanya mendukung satu pihak melawan pihak lainnya. Hasilnya, seperti Soviet, Amerika secara efektif menciptakan dua Afghanistan: satu, terus terperosok dalam konflik tanpa henti da kedua, kemakmuran dan harapan.

Pengungsi Afghanistan pasca berkuasanya rezim Taliban. (https://www.reuters.com/)

Afghanistan, yang penuh harapan, sekarang sudah terancam. Setelah pasukan Taliban memasuki kota Kabul, pertengahan Agustus — seperti yang diperkirakan oleh Hamdullah. Ribuan warga Afghan, selama beberapa minggu, mencoba mencapai lapangan terbang Kabul, setelah melihat Amerika secara tergesa-gesa keluar. Mereka merasa kehidupan dengan segala kebebasan dan modernitasnya, yang sudah mereka nikmati selama ini, akan segera lenyap. Seorang pilot helikopter Angkatan darat Afghan berujar, “Tolong saya.” Dia juga ingin keluar dari Afghan, ketika itu dia berjaga di pintu gerbang lapangan terbang. Namun sampai pesawat AS terakhir terbang, dia tertinggal di Kabul, sementara bosnya, Sami Sadat, dilaporkan sudah melarikan diri ke Inggris.

Baru-baru ini, Kabul sudah seperti negara “lain bahkan abad yang berbeda dibandingkan dengan Sangin. Ibu kota sudah seperti negeri atas awan, lengkap dengan gedung-gedung pernikahan yang megah, dan cahaya dari iklan-iklan neon di jalanan, juga terlihat ibu-ibu berbelanja di pasar-pasar, anak perempuan berjalan ke sekolah, polisi perempuan, yang mengenakan jilbab, berpatroli, dan juga orang kantoran yang menenteng tas bermerk. Namun semua yang diperoleh kaum perempuan selama Perang Amerika sudah lenyap.

Dan kehilangan ini sangatlah besar; mengingat sampai sebelum Agustus, anggota parlemen perempuan proporsi jumlahnya sama dengan Kongres AS dan seperempat ruang kuliah diisi oleh perempuan. Para perempuan di Kabul tentu saja sangat ketakutan dengan masuknya Taliban. Anand sempat berbicara dengan seorang dokter kulit, yang sekarang berdiam di rumahnya. Dia pernah belajar di beberapa negara dan mempunyai klinik dengan pegawai belasan perempuan. “Saya sudah bekerja keras hingga memiliki semua ini. Saya belajar keras, saya membangun bisnis saya sendiri, saya membuat klinik saya sendiri. Ini impian hidup saya,” tuturnya.

Taliban telah menerapkan kembali ketertiban konservatif pedalaman dan pada saat yang sama membuat warga Kabul, yang selama ini menikmati kebebasan, rasa takut dan putus asa. Berbaliknya keadaan atau nasib ini membuktikan dugaan selama dua dekade belakangan: Jika pasukan AS tetap terus berperang melawan Taliban di pedalaman, maka kehidupan kota akan semarak dan bebas. Kelihatannya seperti hal seperti ini mungkin, Taliban tidak akan mampu merebut kota-kota karena kekuatan udara AS, yang superior.

Tapi tampaknya hal seperti ini tidak adil, dipandang dari hak-hak perempuan di pedalaman Afghanistan, yang tidak menikmatinya seperti perempuan di kota. Ketika ditanyakan soal isu jender, perempuan menjawab dengan cemooh. “Mereka memberi hak-hak kepada perempuan Kabul tapi membunuh perempuan disini,” tukas Pazaro. “Apa ini adil?” Marzia, dari desa Pan Killay, menambahkan, “Ini bukan hak perempuan saat kamu membunuhi kami, membunuh keluarga kami, membunuh ayah kami.” Khalida dari desa tetangga menimpali, ”Amerika tidak memberi kami hak apapun. Mereka cuma bertempur, membunuh, dan pergi.”

Disisi lain para perempuan di Helmand juga berdebat mengenai hak apa saja yang perlu dimiliki oleh perempuan. Beberapa menghendaki aturan-aturan lama desa dihilangkan, mereka berharap bisa pergi ke pasar atau piknik ke pinggir sungai tanpa mendapat umpatan dari warga desa lainnya. Sedang yang lain lebih memilih cara tradisional, seperti, “Perempuan dan laki-laki tidak sama. Mereka diciptakan Tuhan degan perannya masing-masing, punya kelebihan yang pihak lain tidak memilikinya,” jelas Shakira. Kendati, dia berkali-kali memimpikan meninggalkan suaminya, yang sering “teler” akibat opium.

Namun Nilofar masih terlalu kecil, dan perceraian akan mempermalukan keluarganya serta akan menyulitkannya. Melalui teman-temannya, Shakira mendengar cerita-cerita tentang kehidupan perempuan di kota yang sudah bercerai dan sengsara serta bahkan ada yang jadi pelacur. “Terlalu bebas berbahaya, karena orang tidak tahu batasnya,” ujarnya.

Banyak perempuan di Sangin, meski setuju mereka juga punya hak, apapun hak itu tidak bisa diperoleh memalui “senapan” atau kekerasan. Masyarakat Afghanistan sendiri harus memperbaiki kondisi perempuan. Banyak penduduk desa percaya mereka punya kekayaan budaya untuk memperjuangkannya, terutama di dalam agama Islam. “Taliban mengatakan perempuan tidak boleh keluar rumah, tapi sebenarnya tidak ada aturan Islam seperti itu,” ujar Pazaro. “Sepanjang kita menutup diri (jilbab atau burqa), kita seharusnya diijinkan (keluar rumah).” Seorang ahli agama anggota Taliban di Helmand, dimana Taliban melarang perempuan keluar rumah untuk ke pasar atau sekolah. Dia mengakui hal itu tidak ada dalam hukum Islam.” Itu budaya desa, bukan Islam,” tukasnya.

“Orang-orang percaya tentang hal itu mengenai perempuan dan mengikutinya.” Seperti juga hukum Islam lain yang lebih adil dibidang pernikahan, perceraian, dan hak waris dibandingkan dengan kebiasaan dan norma di banyak suku dan desa-desa. Banyak perempuan berharap agama bisa memberikan mereka kebebasan lebih besar dan pandangan ini didukung oleh banyak kalangan di negeri ini.

Kendati Shakira sedikit membahasnya, dia punya impiannya sendiri. Melewati puluhan tahun perang, dia terus belajar sendiri (otodidak) membaca dan menulis dan dia sekarang mengerjemahkan Quran dalam Bahasa Pashto (Afghanistan). “Ini memberi saya kenyamanan.” Dia juga mengajarkan baca tulis kepada puteri terkecilnya. Serta punya ambisi besar: dia ingin mengumpulkan teman-temannya dan bersama-sama meminta laki-laki mendirikan sekolah perempuan.

Shakira juga ingin memajukan Pan Killay, dia bermaksud mengingat masa lalu. Dia mengatakan, ada pekuburan di beberapa puncak bukit. Tapi tidak ada tanda nama atau bendera, hanya ada tumpukan batu. Ada sepasang batu, satu menandai kepala dan satu menandai kaki. Keluarga Shakira mengunjungi pekuburan ini setiap minggu. Dia bisa menunjuk kuburan kakek, sepupu, dan dia tidak ingin anak-anaknya melupakan mereka.

Mereka mengikatkan kain di cabang pohon untuk memohon berkat dan doa bagi yang sudah tiada. Mereka biasanya menghabiskan waktu berjam-jam di tempat itu, yang ada batuan dan aliran sungai. Shakira merasa nyaman sesudah mengunjungi dan berdoa di kuburan mereka.

Beberapa saat sebelum Amerika pergi, mereka meledakkan rumah Shakira. Tembakan ini kelihatannya sebagai balasan dari tembakan granat Taliban, yang dilancarkan dari dekat rumah. Di rumah itu, masih ada dua ruang yang berdiri dan bisa dikatakan setengah rumah masih bisa ditinggali dan setengahnya hancur — sebuah gambaran Afghanistan. Dia mengatakan tidak keberatan kehilangan dapur dengan lubang besar, yang tadinya tempat kompor.

Dia melihat ada kebangkitan kembali desanya. Shakira sangat yakin jalan aspal, yang mulus, akan melewati dekat rumahnya. Satu-satunya burung di udara pasti berbulu (bukan besi dan peluru). Nilofar akan menikah satu hari nanti dan anak-anaknya akan berjalan menyusuri sungai kecil ke sekolah. Anak-anak perempuan akan bermain boneka plastic, yang punya rambut hingga bisa disisir. Suaminya akan bersih (dari ketagihan opium) dan dia akan mengatakan dia mencintai keluarga lebih besar dari apapun. Mereka akan mengunjungi Kabul dan berdiri dibawah bayangan pencakar langit. “Saya harus percaya. Kalau tidak, untuk apa semua ini?” (Leo Patty/Selesai)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *