Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (3)

 Mengenal Afghan dari Mata Perempuan (3)

Wanita-wanita Afghanistan. (https://www.opendemocracy.net/)

JAYAKARTA NEWS – Pada tahun 2004, PBB memprakarsai program perlucutan senjata milisi atau mujahidin. Komandan Devisi 93 mengetahui rencana ini dan mengubah milisinya menjadi “perusahaan keamanan swasta” di bawah kontrak dengan Amerika, yang memungkinkan mereka tetap mempersenjatai sepertiga pasukannya. Sepertiga lainnya, tetap bersenjata, menandatangani kontrak keamanan dengan perusahan Amerika dari Texas yang membuat jalan aspal.

Ketika pemerintahan Karzai mengganti “perusahaan keamanan” ini dengan polisi, untuk melindungi pekerja konstruksi jalan. Mereka merekayasa sebuah penyergapan berakibat 15 polisi meninggal. Setelah itu, mereka memperoleh kembali kontrak keamanannya, Sisa sepertiga milisi, yang belakangan juga jadi korban pemerasan rekan-rekannya di Devisi 93, melarikan diri bersama persenjataan mereka dan bergabung dengan Taliban.  

Koalisi pimpinan AS selalu menggambarkan pemberontakan, yang marak di kawasan pedalaman, sebagai ekstrimis yang memerangi kemerdekaan. Tapi dokumen NATO menyatakan Suku Ishaqzais (di Lembah Sangin) tidak punya alasan baik untuk mempercayai pasukan koalisi. Apalagi setelah mengalami berbagai tindak kekerasan dan penindasan ditangan panglima perang seperti Mohammad Khan atau Amir Dado.

Di Desa Pan Killay para tetua desa mendorong para pemuda mempersenjatai diri untuk melindungi desa dan banyak dari mereka menghubungi bekas anggota Taliban untuk memperoleh senjata. Shakira berharap suaminya juga ikut bergerak membantu menjaga desa mereka atau mengungsi ke Pakistan, tapi dia menolak. Di desa tetangga, ketika pasukan AS menggeledah rumah tetua desa yang sangat dihormati warga.

Tentara AS itu membunuhnya dan meninggalkan puteranya, yang menderita cacat. Karena itu, para perempuan beteriak kepada laki-laki desa dengan marah, “Kamu punya turban besar di kepala, tapi apa yang sudah kamu lakukan? Kamu tidak bisa melindungi kami. Kamu menyebut dirimua, laki-laki?”

Di tahun 2005, empat tahu setelah invasi Amerika, dan Shakira sedang mengandung anak ketiganya. Dan dia disibukkan oleh pekerjaan domestik — dari pagi sampai malam, saya terus bekerja dan berkeringat. Tapi ketika dia selesai masak atau memangkas pohon buah Peach, dia menyadari sudah  kehilangan “janji-janji” masa mudanya, yang pernah dia rasakan.

Hampir setiap minggu, dia mendengar ada pemuda yang bergabung dengan Amerika atau Taliban. Suaminya tidak bekerja dan baru-baru ini mulai merokok opium. Pernikahan mereka mengalami masa sukar. Rasa saling tidak percaya merebak di rumahnya dan perasaan ini sama dengan situasi desa. Sehingga, ketika konvoi Taliban memasuki desa Pan Killay. Mereka ber-turban hitam dan mengibarkan bendera putih. Dia berpikir konvoi ini menarik dan bahkan punya perasaan memaafkan Taliban. Pikirnya, kali ini, akan berbeda.

Tahun 2006, Inggris ikut bergabung dengan kontingen Pasukan Operasi Khusus AS untuk memadamkan pemberontakan di Lembah Sangin. Shakira mengenang, “Mulailah neraka.” Taliban menyerang patroli-patroli, pos-pos penjagaan, dan membuat penghalang jalan.

Di puncak bukit Pan Killay, pasukan Amerika mengusai rumah besar pengusaha Opium dan mengubahnya menadi benteng lengkap dengan tumpukan karung pasir dan menara pengawas serta kawat berduri. Setelah itu, inilah yang terjadi, setiap kali akan ada pertempuran besar, anggota muda Taliban mengunjungi rumah-rumah dan memperingatkan penduduk agar menyingkir keluar desa sementara. Kemudian, Taliban melancarkan serangan, koalisi membalas, dan bumi bergetar.

Kadang-kadang, bahkan lari ke luar desa juga tidak menjamin akan selamat. Abdul Salam, paman suami Shakira, lari ke rumah temannya. Setelah pertempuran berhenti, dia pergi ke masjid untuk sembahyang. Beberapa tentara Taliban ada disana juga. Sekutu melancarkan serangan udara dan membunuh semua orang disitu. Besoknya, para kerabat dan tetangga bersiap menguburkan mereka. Tapi kembali terjadi serangan udara sekutu, belasan orang meninggal. Di antara jenazah yang dibawa ke Pan Killay, ada Abdul Salam, sepupunya, dan tiga keponakannya, yang berumur enam sampai lima belas tahun juga jadi korban.

Patroli di Pan Killay.

Sejak kecil, Shakira tidak tahu apakah ada kerabatnya meninggal akibat serangan udara. Dia sekarang berusia dua puluh tujuh tahun dan tidur dengan pakaian yang selalu siap untuk lari berlindung. Satu malam, dia dibangunkan dengan suara menderu sampai-sampai dia merasa rumahnya akan hancur. Suaminya masih tertidur. Dia berjalan perlahan ke halaman depan rumah. Kendaraan militer sekutu terlihat berjalan lewat. Shakira membangunkan keluarganya. Tapi sudah terlambat untuk lari keluar desa, dia berdoa semoga Taliban tidak melancarkan serangan. Dia memasukkan anak-anaknya dibawah jendela dan menyelubungi dengan selimut tebal — upaya terakhir untuk melindungi mereka jika ada serangan yang menyebabkan atap runtuh.

Kembali dari halaman depan, Shakira melihat satu kendaraan parkir. Sepasang antenna terlihat mencuat ke atas. Dia langsung berpikir, mereka akan membunuh kita semua. Dia memanjat sampai di atap rumah dan melihat kendaraan itu kosong, para tentara memarkirnya dan pergi berjalan kaki. Dia melihat mereka sedang berjalan ke arah jembatan kecil dan menghilang ditengah alang-alang.

Di kejauhan, pasukan sekutu dan Taliban bertempur berjam-jam. Keluarga Shakira bersembunyi di rumahnya, dinding bergetar dan anak-anak menangis. Shakira mengeluarkan boneka buatannya dan mengendong Ahmed, putra terkecilnya, dan membisikkan cerita-cerita. Ketika suara tembakan berhenti, Shakira ke halaman. Kendaraan itu tetap berada ditempatnya, tanpa dijagai. Dia menjadi sangat marah. Sepanjang tahun, paling tidak sekali sebulan, dia harus mengalami ketakutan seperti ini. Kemarahannya dilukiskan dengan pertanyaan, kenapa dia dan anak-anaknya harus menderita seperti ini?

Shakira mengabil jalan nekad. Dia lari kedalam rumah dan berbicara dengan mertuanya. Tentara sekutu masih jauh berada di seberang sungai kecil. Shakira mengambil korek api dan ibu mertuanya membawa jerigen solar. Di jalan, seorang tetangga melihat dan mengerti serta ikut bersama mereka dengan jerigen lainnya. Mertua Shakira menuangkan solar ke ban dan mesin. Shakira menyalakan korek api dan melemparnya ke ban kendaraan itu.

Dari dalam rumah, mereka menyaksikan langit berubah kemerahan karena kendaraan yang terbakar itu. Beberapa saat kemudian, sebuah helikopter mendekat dari arah selatan. “Mendatangi kita!” Teriak ibu mertuanya. Ipar Shakira, yang tinggal bersama mereka, dengan cepat mengumpulkan anak-anak, meski Shakira tahu sudah terlambat. Jika kita mati, biarlah mati di dalam rumah, pikirnya.

Mereka berlindung di lubang perlindungan di halaman belakang, orang dewasa diatas anak-anak. Mendadak bumi bergetar keras, kemudian helikopter terbang menjauh. Ketika mereka keluar, Shakira melihat orang asing itu menembak kendaraan, yang sedang terbakar, supaya onderdilnya tidak bisa digunakan kembali. Para perempuan di Pan Killay berdatangan memberi selamat kepada Shakira. Mereka menyebutnya sebagai pahlawan. Tapi Shakira sendiri sama sekali tidak bangga, hanya ada rasa kelegaan. “Saya hanya berpikir mereka (pasukan AS dan sekutunya) seharusnya tidak datang dan kami akan memperoleh perdamaian.”

Tahun 2008, Marinir AS ditempatkan di Sangin memperkuat Pasukan Khusus AS dan tentara Inggris. Namun posisi pangkalan pasukan Inggris sudah terkepung (sepertiga dari seluruh kematian tentara Inggris terjadi di Sangin). Tentara Inggris menyebut misi di Sangin sebagai misi “Sangingrad”. Nilofas, yang sudah berusia 8 tahun, sudah terbiasa hidup dalam kondisi perang. Dia akan bertanya kepada ibunya, Shakira, “Kapan kita bisa pergi ke tante Farzana?” Farzana tinggal di gurun.

Namun kekacauan tidak bisa diperkirakan, satu sore, mendadak tentara asing muncul kembali dan tidak ada yang sempat lari, lagi-lagi keluarga Shakira bersembunyi di lubang di halaman belakang. Tentangga mereka, isteri dan anak-anak almarhum Abdul Salam juga bersembunyi di lubang mereka. Tapi sebuah mortir menghantam dan membunuh Bor Jana, puterinya yang berusia 15 tahun.

Sebenarnya kedua belah pihak berusaha menghindari korban sipil. Taliban selalu memberikan peringatan untuk mengungsi dan memberikan informasi mengenai daerah yang dipasangi ranjau (IED – Improvised Explosive Device) dan menutup jalan jika sedang bersiap mengincar konvoi pasukan AS dan sekutunya.

Korban pembunuhan di Afghanistan. (https://www.dw.com/)

Di sisi lain, pasukan sekutu juga memperingatkan warga sipil melalui speaker, yang dipasang di helikopter, dan menjatuhkan selebaran, ”Tetap tinggal di rumah! Selamatkan diri anda!”. Namun tetap saja tidak ada yang benar-benar aman, cerita Shakira. Banyak warga sipil meninggal dalam perang ini. Kadang-kadang korban sipil ini sempat memicu kecaman luas, seperti ketika sebuah roket menghantam kerumumnan warga desa di Sangin, yang menewaskan 52 orang pada tahun 2010. Namun kebanyakan insiden terjadi dengan korban satu atau dua tewas, yang tidak pernah dilaporkan atau dicatat oleh lembaga pemerintah dan juga tidak pernah dihitung sebagai korban perang.

Kejadian seperti itulah yang membuat tragedi dialami keluarga Shakira terus menumpuk. Keponakannya, Muhammad (15 tahun) sedang mengendarai sepeda motor menuju desa tetangga ke rumah temannya. Dia terbunuh oleh serangan drone. “Suaranya ada dimana-mana,” jelas Shakira. “Ketika kami dengar kejadian itu, anak-anak langsung menangis dan saya tidak bisa menenangkan mereka.”

Muhammad Wali, sepupu Shakira yang sudah dewasa, ketika pasukan koalisi AS memerintahkan penduduk desa tetap tinggal di dalam rumah selama tiga hari — saat mereka melakukan operasi militer. Namun setelah dua hari, air minum habis dan Wali terpaksa keluar rumah. Dia ditembak mati.

Khan Muhammad, keponakan Shakira yang baru berusia 7 tahun. Keluarganya melarikan diri dari pertempuran dan secara tidak sengaja mendekati posisi pasukan koalisi, mobil itu ditembaki dan membunuhnya.

Bor Agha (12 tahun), keponakan lain Shakira. Dia sedang berjalan di malam hari ketika tembakan dari pangkalan Polisi Nasional Afghan membunuhnya. Besok paginya, ayahnya mengunjungi pangkalan itu, yang sedang syok dan meminta penjelasan. Dia memperoleh pernyataan bahwa anak itu sudah diperingati agar tidak mendekat ke pangkalan. “Komandan mereka memerintahkan menembaknya,” cerita ayahnya.

Amanullah (16 tahun), sepupu. Dia sedang berkerja di ladang ketika ditembak oleh penembak jitu dari Angkatan darat Afghan. Tidak ada yang memberi penjelasan dan pihak keluarga terlalu takut untuk pergi ke pangkalan Angkatan darat untuk bertanya.

Ahmed, sepupu yang sudah dewasa. Setelah berjam-jam bekerja di ladang, dia berjalan pulang sambil menenteng panic dan ditembak mati oleh pasukan koalisi. Pihak keluarga percaya orang asing itu mengira panci itu semacam ranjau.

Niamatullah, kakak Ahmed. Dia sedang memanen Opium ketika terjadi tembak menembak di dekatnya. Saat dia sedang berlari untuk berlindung dia tertembak mati.

Gul Ahmend, paman suami Shakira. Dia bangun pagi-pagi untuk mulai bekerja di ladang dan meminta puteranya menyiapkan makan pagi dan membawanya ke ladang. Ketika mereka tiba di ladang, mereka menemukan jasadnya. Para saksi mata menyebutkan, dia bertemu dengan patrol pasukan koalisi. “Tentara meninggalkan dia ditempat, seperti binatang saja layaknya,” ujar Shakira.

Keluarga besar Shakira, mulai dari paman-paman yang sering bercerita dan sepupu-sepupu yang bermain bersamanya di gua persembunyian, banyak yang sudah tidak ada. Shakira kehilangan 16 anggota keluarga. Kita bisa bertanya-tanya mungkin banyak keluarga di Pan Killay mengalami hal yang sama.

Ketika wartawan Anand mencoba melakukan survey kecil di Pan Killay dan desa sekitar dengan cara mewawancari saksi mata dan sertifikat kematian. Dia mendapati secara rata-rata setiap keluarga di Pan Killay dan desa-desa lain kehilangan 10 sampai 12 anggota keluarga, yang mereka sebut sebagai Perang Amerika.

Penderitaan seperti ini tidak dikenal di kota metropolis Kabul, yang penduduknya menikmati keamanan yang lebih baik. Tapi di kawasan pedesaan, kantung-kantung wilayah seperti Sangin, banyaknya pembunuhan terhadap rakyat sipil membuat warga makin condong memihak Taliban.

Sejak 2010, banyak keluarga di desa-desa suku Ishaqzai menjadi anggota Taliban dan kebanyakan mereka bergabung demi perlindungan terhadap diri dan keluarga dan banyak juga yang ingin balas dendam. Gerakan Taliban jadi terintegrasi dalam kehidupan di Sangin, jauh lebih dalam daripada di era 1990-an. Sekarang, ketika Shakira dan teman-temannya membicarakan Taliban, mereka mendiskusikan teman-teman, tentangga, dan orang-orang yang mereka cintai (keluarga sendiri).

Perwira tentara Inggris, di lapangan, makin kuatir karena pasukan AS terlalu banyak membunuh warga sipil dan mencoba melobi, tapi gagal, agar Pasukan Khusus AS ditarik dari kawasan tersebut. Namun, yang terjadi, pasukan dari berbagai penjuru dunia masuk ke Helmand, termasuk Australia, Kanada, dan Denmark. Tapi buat warga desa, yang tidak bisa membedakan asal tentara, mereka disebut orang Amerika. Pazaro, teman perempuan Shakira dari desa tetangga, mengenang, ”Ada dua jenis manusia —satu dengan muka berwarna hitam dan satu lainnya berwarna merah muda. Saat kita melihat mereka, kami pasti ketakutan.”

Pihak koalisi menggambarkan penduduk sekitar sangat ingin terbebas dari Taliban. Tapi laporan intelijen tahun 2011 menyebutkan persepsi masyarakat terhadap pasukan koalisi adalah “tidak menyukai” dan penduduk desa memperingatkan jika pasukan koalisi tidak keluar dari kawasn itu mereka akan mengungsi.

Koalisi AS, mencoba merespon laporan itu, mengubah strategi dengan mengupayakan memperoleh simpati dari masyarakat dalam upaya meredam pemberontakan. Tapi upaya “orang asing” berada bersama-sama warga lokal bisa berakibat fatal. Mereka sering tinggal di rumah-rumah penduduk, yang menyebabkan warga sipil bisa terkena peluru nyasar. “Mereka datang dengan memaksa, tanpa ijin dari kami,” tukas Pashtana, perempuan dari desa lain di Sangin.

Mariza, dari Desa Pan Killay bercerita, “Mereka kadang-kadang mendobrak rumah kami, merusak semua jendela dan tinggal sepanjang malam. Kami langsung lari, takut Taliban menembaki mereka. Taliban akan menembak satu dua tembakan dan Amerika membalasnya dengan mortir”. Salah satu mortir menghantam rumah ibu mertuanya. Untungnya, dia selamat tapi mengalami ganguan jiwa. “Dia selalu berteriak ada yang dia lihat, yang kita tidak lihat, seperti hantu,” tambah Mariza.

Beberapa perwira militer NATO, dengan inisiatif baik, mencoba membujuk komandan-komandan Taliban untuk berbalik memihak pemerintah. Pada tahun 2010, sekelompok komandan Taliban di Sangin, yang sepakat kembali memihak pemerintah dengan janji dari Inggris yang akan membantu penduduk setempat. Tapi ketika para pemimpin Taliban bertemu untuk meresmikan kesepakatan, Pasukan Khusus AS — bertindak sepihak – membom pertemuan dan membunuh tokoh utama Taliban, yang berperan penting dalam upaya mencapai perdamaian.

Marinir AS akhirnya keluar dari Sangin pada tahun 2014. Pasukan pemerintah Afghan bertahan di lembah itu selama tiga tahun, sampai Taliban mengusai sebagian besar wilayah itu. Amerika mengevaluasi, lewat udara, pasukan pemerintah dari pangkalan-pangkalannya. Meski NATO, dalam pernyataannya, menyebut pangkalan-pangkalan itu tinggal reruntuhan dan sampah saja. Pasar Sangin juga hancur pada saat itu. Ketika Shakira melihat took-toko yang sudah hancur, dia mengatakan kepada suaminya, “Mereka tidak meninggalkan apapun untuk kita.”

Kendati begitu, ada rasa optimis di Pan Killay, suami Shakira memotong seekor domba untuk merayakan berakhirnya perang dan keluarga juga membahas bagaimana merenovasi taman di belakang rumah — selama ini digali untuk berlindung. Ibu mertua Shakira juga bercerita hari-hari ketika Soviet dan Amerika tidak ada, ketika keluarga-keluarga bisa piknik di tepian sungai, para laki-laki bersantai di bawah keteduhan pohon Peach dan perempuan bisa tidur nyenyak di teras atas rumah dibawah bintang-bintang. (Leo Patty/Bersambung)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *