Menag Yaqut: Literasi Pengetahuan adalah Kunci Toleransi

 Menag Yaqut: Literasi Pengetahuan adalah Kunci Toleransi

Menag menerima kunjungan Komnas Perempuan (Foto:Kemenag)

JAYAKARTA NEWS – Diskriminasi dan intoleransi, khususnya terkait kehidupan keagamaan, masih terjadi di Indonesia. Menag Yaqut Cholil Qoumas mengaku concern dalam persoalan ini.

Menag menilai salah satu solusi mengatasi persoalan ini adalah peningkatan literasi. “Ini (peningkatan literasi) menjadi vaksin bagi kita untuk menghadapi faham-faham yang keras, khususnya diskriminasi dan intoleransi keagamaan,” tegas Menag Yaqut saat menerima Audiensi Komisioner Komnas Perempuan di kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (12/10/2021).

Audiensi ini membahas tentang “Hak Perempuan pada Keyakinan Minoritas”. Hadir, para Staf Khusus dan Staf Ahli Menag, serta Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Nifasri.

Dari Komnas Perempuan, hadir Ketua Komnas, Andy Yentriyani, bersama Olivia Salampessy, Dewi Kanti, Alimatul Qibtiyah, Veryanto Sitohang, Nahe’i Rahi, Dahlia dan Triana Komalasari.

Menag mengajak Komnas Perempuan bersinergi dalam peningkatan literasi publik. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah aksi bersama dalam mencerahkan masyarakat.

“Kita sama-sama tahu persoalan yang ada. Mari sama-sama kita cari solusinya dengan baik dan bijaksana,” ujar Menag. Dikutip dari laman resmi Kemenag, Kamis (14/10).

“Mari kita perbanyak forum, untuk meningkatkan literasi atas persoalan yang kita rasakan. Literasi pengetahuan adalah kunci toleransi,” sambungnya.

Sebelumnya, Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani  menyampaikan keinginan sejumlah pemeluk agama di luar enam agama yang banyak dianut di Indonesia, terkait pemenuhan hak-hak adminsitrasi kependudukan mereka. Andy juga menyampaikan persoalan Ahmadiyah di Sintang.

Persolan lainnya adalah terkait kebijakan seragam di lembaga pendidikan. Bagi Andy, ini menyentuh sisi perempuan. Dari sisi gerakan budaya, penutup kepala di Indonesia itu memiliki makna beragam.

“Dari pada terjebak pada penyeragaman, kita mencoba melihat dari Budaya, bahwa Bangsa Indonesia beragam, busana itu bukan identitas politik beragama,” kata Andy.

Andy mengaku pihaknya terus berupaya menggelorakan semangat pengelolaan keragaman Indonesia dengan baik, utamanya keragaman pandangan dalam dunia pendidikan. (*/mel)

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *