Kemah Mewah di Rumamera

 Kemah Mewah di Rumamera
Suasana glamour camping Rumamera di malam hari. (ist)

Jayakarta News – Pendek kata, galmour camping adalah kemah mewah. Begitulah. Tempat ini diperuntukkan bagi mereka yang ingin bersantai di alam terbuka, tanpa meninggalkan kenyamanan. Rumamera menjawab peluang itu.

Bagaimana tidak nyaman. Bayangkan saja. Sebuah tenda didirikan di alam terbuka. Di dalamnya bukan tikar pandan atau karpet, melainkan kasur empuk dengan seprei bersih. Lebih dari itu, dialiri listrik. Masing-masing tenda, didampingi kamar mandi ber-shower, toilet, dan wastafel. Air yang mengalir pun bisa disetel dingin dan panas. Lokasinya berjarak sekitar 50 meter dari tenda.

Jika penasaran dengan area glamour camping ini, Anda bisa berkunjung ke Rumamera di Cisaat Sukabumi. Lokasinya terletak di kaki Gunung Gede Pangrango. Dari lokasi ini, Anda bisa mengagumi keagungan Gunung Gede Pangrango dalam kesejukan. Ada dua site camping, Tanakita dan Rumamera.

Berfoto dengan latar belakang villa Rumamera dengan latar belakang tenda. (foto: erni suleiman)

Bagi pengunjung yang datang bersama keluarga atau rombongan kecil diusulkan memilih Rumamera yang lebih privacy. Karena lebih kecil serta dilengkapi bangunan/vila sebagai tempat pertemuan, bersantap atau berkumpul bersama rombongan.

Untuk menjejakkan kaki di tempat ini, Anda yang berada di Jakarta harus menempuh perjalanan kurang lebih empat jam lamanya. Jalan beraspal ke lokasi, memang tidak terlalu lebar. Jika ada mobil berpapasan, akan jadi masalah tersendiri.

Jika Anda datang menggunakan mobil pribadi, area ini menyediakan parkiran yang cukup memadai, di area bukit. Dari lokasi ini, wisatawan harus berjalan kaki setapak, berkerikil, da n sedikit menanjak. Tak lama setelahnya, Anda akan melihat 12 tenda warna putih bergaris biru muda berjajar-jajar.

Sungguh, sebuah alternatif berwisata yang patut dicoba. Selain bisa menikmati pemandangan dan udara bersih, dari sini juga bisa menjangkau sejumlah destinasi wisata alam yang lain. Karena posisinya di kaki  gunung, sudah tentu kegiatan trekking bisa menjadi pilihan menarik. Rutenya ke arah Jembatan Gantung Situ Gunung dan air terjun Curug Sawer.

Berfoto di atas jembatan gantung Situ Gunung. Jembatan gantung terpanjang di Indonesia. (foto: fika s)

Menuju Curug Sawer, pengunjung harus melalui jalur Jembatan Gantung/Suspension Bridge Situ Gunung yang sangat terkenal di kalangan pewisata. Jembatan gantung Situ Gunung yang dibangun dari kayu ulin Papua ini melintang di ketinggian 161 meter di atas permukaan tanah serta memiliki panjang 243 meter dan lebar 2 meter. Konon merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia, bahkan di ASEAN.

Sungguh, melintasi jembatan gantung ini seketika berdesir perasaan “ngeri-ngeri sedap”. Dari atas tajuk pepohonan yang rindang, melihat ke bawah tampak pepohonan Rasamala dan pohon Puspa. Untuk keselamatan, semua pelintas dipasang safety belt. Bagi yang phobi akan ketinggian, tidak direkomendasikan melintasi jembatan ini.

Menurut petugas, jembatan ini dikunjungi tidak kurang dari 700 orang tiap hari. “Saat week end pengunjung bisa mencapai 2.000 orang,” ungkap salah seorang petugas. Karenanya, untuk bisa menjajal jembatan gantung ini, harus rela antre. Sebab, dalam satu tarikan waktu, jembatan gantung ini hanya boleh dinaiki secara bersamaan untuk 40 orang saja.

Berfoto dengan latar belakang Curug Sawer yang eksotis. (foto: fika s)
Latar belakang Curug Sawer yang mempesona. (foto: fika s)

Setelah melewati jembatan gantung ini, perjalanan bisa dilanjutkan tracking/hiking menuju air terjun Sawer. Curug Sawer terkenal eksotis. Tiada lelah mata memandang dan mengaguminya.

Bagi mereka yang tidak sanggup atau bermasalah untuk jalan jauh melewati jalan setapak terjal naik turun, bisa memilih naik sepeda motor. Sudah disiapkan. Tentu saja melalui jalur berbeda dengan jalur pejalan kaki.

Hiking yang mengasyikkan sejauh kurang lebih satu kilometer dari ujung jembatan gantung tidak terasa karena sejuknya udara di antara pepohonan dan semak dan beberapa jembatan kecil serta sungai yang jernih.

Keindahan yang disuguhkan saat tiba dilokasi, air terjun setinggi kurang lebih 35 meter memukau siapa pun yang memandangnya. Curahan air terjun yang sangat deras hingga cipratan airnya tersebar ke segala penjuru. Semua pengunjung terkena cipratannya. Karena itu air terjun ini disebut Curug Sawer.

Tepat di bawah curahan air terdapat kolam alami yang lumayan luas. Air dari kolam mengalir ke bagian bawah sungai kecil dan dangkal. Pengunjung di areal tepi yang dangkal bisa “mandi” di antara bebatuan besar.

Meski percikan air terjun membasahi muka dan sedikit badan, tetapi tetap asyik untuk dinikmati. Bahkan sejumlah wisatawan makin bersemangat untuk berswafoto dengan latar belakang air terjun. Akan tetapi, untuk mendapatkan angle yang ciamik, pengunjung pun lagi-lagi harus rela antre.

Usai puas menikmati indahnya air terjun dan udara yang begitu bersih, pengunjung pun kembali berjalan menempuh jalan setapak yang karena segarnya seolah baru mendapat suntikan oksigen. Perjalanan pun tidak terasa lelah meski lebih banyak tanjakan yang harus dilalui.

Sesampai di tenda, pengunjung biasanya langsung menikmati empuknya kasur sambil melepas rasa lelah dan kaki yang sedikit pegal, utamanya bagi yang tidak terbiasa olahraga. Setelah makan malam, para tamu bersantai dihibur alunan lagu dengan iringan gitar. Karaoke pun berpindah ke area Rumamera, menyanyi sendiri atau petugas yang menyanyikan lagu-lagu. ‘Api unggun’ pun diadakan setelah larut malam. Suasana sejuk berubah menjadi hangat. Makin lengkap dengan sajian jagung bakar dan barbeque.

Berfoto-ria dengan latar belakang danau, di hari kedua. (foto: fika s)

Hari kedua setelah menikmati tidur di tenda mewah, perut mulai menendang minta diisi. Breakfast ringan pun sudah tersedia di meja ruang makan panggung.

Acara berikutnya di pagi hari cerah adalah tracking/hiking babak kedua. Kali ini menuju danau. Indahnya danau dikelilingi hutan pinus dan pepohonan yang rindang. Ada jembatan kayu ke arah pulau di depannya. Tentu saja sesi foto masih berlanjut.

Siang harinya rombongan pun kembali ke Jakarta dengan kondisi badan yang lebih segar seperti baru mendapat asupan oksigen terbarukan. (s. resti handini)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *