Connect with us

Entertainment

Balinale Film Festival Diikuti 94 Judul Film dari 38 Negara

Published

on

Mirza Mazini dari IKJ lolos seleksi di Balinale FF (foto istimewa)

JAYAKARTA NEWS— Bali International Film Festival (Balinale) ke 19 digelar 1 s d 7 Juni 2026 di lokasi utama Icon Bali Mall  XXI dan Sinema XXI Sanur, Denpasar, Bali. Diikuti total 94 judul film dari 38 negara terdiri atas penayangan 10 world premier, 10 international premier dan 20 Asian premier.

Ada program khusus HongKong Film Asia meliputi presentasi dan film pilihan karya sineas Hong Kong sepanjang masa.

“Balinale menjadi ruang pertemuan bagi sineas, film maker, penonton, pelaku industri, komunitas dan mitra lintas negara untuk menayangkan cerita-cerita yang menggerakkan, menantang dan menginspirasi,” ujar founder Balinale FF, Deborah Gabinetti.

Dikatakannya, Balinale menjadi panggung bagi karya baru yang pertama diperkenalkan kepada publik secara luas di kategori penayangan.

Deborah Gabinetti founder Balinale FF (foto balinale)

Pemeran dan film makers hadir dan berbagi pengalaman sebagai proses kreatif bagi fans sinema. “Di Balinale 2026 ini ada kategori baru yaitu Best International Short Tapestry of Indonesian yang khusus merayakan karya budaya dan ragam narasi cerita,” ungkap Deborah Gabinetti.

Adapun film pembuka berjudul ‘Euphoria’ karya kolaborasi Julian Rosefeldt  yang bekerjasama lintas negara Jerman, Ukraina, Bulgaria dan AS.

Sedangkan film penutup berjudul ‘The End’ karya Joshua Lincoln Oppenheimer.

Untuk menilai film-film peserta ditunjuk 5 juri nasional yaitu Yosep Angga Noen, Marcella Zalianty, I Made Denny Chrisna Putra, Nirartha Bas Diwangkara dan Shanty.

Ini ditambah lagi 5 juri internasional yang malang melintang di berbagai FF dunia  yaitu Eros Zhao (AS), Yoseph JU Taylor (Selandia Baru), Denise Castelli, David Hanan dan Richard Todd (Australia).

“Kita targetkan sebanyak 8000 pengunjung  bisa diserap menonton dan berdiskusi di Balinale 2026,” harap Deborah Gabinetti.

Yang istimewa di Balinale 2026 diikuti pertama oleh mahasiswa IKJ bernama Mirza Nadlar Mazini yang menyertakan film karyanya berjudul ‘Holy Salt’. Film pendek berdurasi 15 menit ini lolos seleksi Balinale 2026.

“Obsesi saya di Balinale ini menjadi pintu masuk ke Oscar. Kami mendaftar tanpa ekspetasi tinggi tapi ada gengsi,” ucap Mirza merendah.

Balinale ruang pertemuan sineas dan penonton (foto balinale)

“Saat ini, Balinale menjadi tempat belajar yang berharga guna memahami bagaimana film Indonesia bisa berbicara kepada penonton dunia,” imbuh Mirza.

‘Holy Salt’ bercerita sangat sensitif yaitu seorang guru agama terkenal menjual garam ruqyah palsu ke pengikutnya di internet.

Sebuah fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Syuting dilakukan di Jaktim dan Jakbar selama 5 bulan dengan biaya patungan sekitar Rp 30 juta.

Walhasil, Balinale FF bukan sekadar pemutaran film belaka tapi juga ihwal perayaan kreatif dan kolaborasi antarnegara yang menginspirasi. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *