Connect with us

Kesehatan

Berkat Operasi Katarak Gratis, Para Lansia NTT Dapat Melihat Lebih Baik

Published

on

KUPANG, JAYAKARTA NEWS – Memiliki mata yang sehat merupakan impian semua orang, termasuk Oktovianus Klein. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan mata manusia justru kerap berkurang pada kelompok lanjut usia (lansia).

Hal itu juga dirasakan oleh Oktovianus. Pria kelahiran tahun 1963 ini mengaku mulai mengalami katarak pada mata kanannya sejak beberapa tahun terakhir.

“Penglihatan saya mulai terasa kabur tuh sekitar lima tahun terakhir,” kata Oktovianus, beberapa waktu lalu.

Meski mengetahui ada yang tidak beres dengan matanya, Oktovianus tidak langsung berobat karena terkendala biaya dan tidak ada pelayanan dokter mata di tempatnya tinggal, yakni Kota Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Oktovianus pun terpaksa beraktivitas dengan penglihatan yang kurang jelas. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang ojek dengan jumlah penghasilan tak menentu. Tak jarang ia juga membantu mengantarkan sayur-mayur ke pasar atau pedagang.

Pria berusia 62 tahun itu pun mengaku cukup terganggu dengan kondisi matanya yang kurang sehat. Tetapi ia tidak memiliki pilihan lain untuk mendapatkan pertolongan medis.

“Kadang terganggu juga kalau pas lagi ngojek. Pas bawa motor tuh kalau kena cahaya lampu rasanya silau, kayak berkunang-kunang,” ungkap dia.

Minimnya edukasi mengenai kesehatan mata dan operasi katarak menjadi faktor lain yang membuat Oktovianus memilih mempertahankan kondisinya. Dia mengaku takut menjalani operasi katarak lantaran informasi yang diketahui adalah tindakan itu berupa proses cungkil mata.

“Takut operasi karena dari awal itu saya dengar katanya mau taruh mata, cungkil mata, ganti dengan mata kucing,” ujar Oktovianus.

Namun, ketakutan Oktovianus mengenai operasi katarak hilang setelah mendapatkan edukasi dari pendamping PKH dan pihak-pihak terkait. Dia pun bersedia menjalani penanganan medis agar dapat kembali melihat dengan baik melalui operasi katarak gratis. Program ini merupakan kerja sama antara Kementerian Sosial (Kemensos) dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih (YPP), dan Pemerintah Kabupaten Kupang.

“Ya namanya kita mau untuk sembuh, dapat pertolongan dari operasi ya. Apapun yang terjadi ya, hati kita serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa, ya,” ucap Oktovianus.

Operasi katarak gratis itu digelar dalam rangkaian acara memeringati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) pada 29 Mei. Kegiatan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Naibonat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 29-31 Mei 2026.

Setelah menjalani operasi katarak, Oktovianus merasa senang dan tenang. Sebab, kini secara perlahan ia dapat kembali melihat dengan lebih jelas serta beraktivitas dengan baik tanpa pandangan yang buram.

“Artinya bukan langsung total, tapi ada perubahan gitu, lebih jelas (melihat),” ungkapnya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Orpan Nelci Sodak Manafe (69). Setelah menjalani operasi pada mata sebelah kiri, kini warga Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur ini pun bisa kembali melihat lebih baik.

Nelci merupakan ibu rumah tangga yang telah ditinggal meninggal suaminya tiga tahun lalu. Sejak saat itu, ia berjuang sendiri memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berjualan sayur di pasar. Ketiga anaknya yang telah menikah juga turut membantu memenuhi kebutuhan Nelci.

Nelci juga menerima bantuan dari pemerintah berupa sembako sejak suaminya meninggal. Dia sangat berterimakasih atas program operasi katarak gratis ini.

“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada pemerintah yang telah membuka operasi gratis. Bukan saya sendiri, tapi masyarakat Kabupaten Kupang. Supaya bilamana ada kesempatan tahun depan, jika Tuhan berkehendak untuk bisa mama-mama, opa-opa yang belum dapat dioperasi bisa dijalankan pada tahun depan,” ujar Nelci.***/mel

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement