Kabar
Sunyi di Udara, Riuh di Digital: Menatap Masa Depan Radio Indonesia
Oleh Eddy Koko
Keheningan perlahan-lahan merayap di frekuensi terrestrial AM dan FM Indonesia. Belakangan ini, masyarakat pecinta audio dikejutkan oleh tumbangnya sejumlah stasiun radio legendaris secara berturut-turut.
Dari kota Kediri, Jawa Timur Radio Wijang Songko (RWS) yang telah menemani warga selama 58 tahun resmi mematikan pemancarnya. Masih di Jawa Timur, grup raksasa Kompas Gramedia juga memutuskan untuk mengakhiri masa siaran on-air Sonora FM Surabaya. Fenomena serupa melanda kota-kota besar lain, termasuk pamitnya Hard Rock FM Bandung dari frekuensi terestrial.
Bagi para pendengar setia, ini adalah kehilangan emosional yang mendalam. Namun bagi para pengamat dan pelaku industri, fenomena ini adalah alarm keras bahwa, industri radio sedang berada di persimpangan jalan hidup atau mati.
Enggan Berubah
Banyak pihak menilai tumbangnya stasiun-stasiun radio terestrial (radio konvensional yang memancarkan sinyal gelombang melalui udara) disebabkan oleh keengganan pengelola untuk beradaptasi. Ketika pola konsumsi informasi masyarakat bergeser drastis ke arah digital, sebagian stasiun radio masih mengandalkan formula lama: sekadar memutar lagu dan membaca titipan salam lewat SMS/WhatsApp tanpa membangun ekosistem digital yang kuat.
Namun, persoalannya tidak sesederhana “malas berubah.” Ada faktor ekonomi riil yang mencekik dapur operasional radio terestrial.
Beban Operasional Radio Terrestrial (Sangat Tinggi), seperti Listrik Pemancar Megawatt (24 Jam Non-stop) mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya. Belum lagi perawatan tower antena & penggantian suku cadang alat siaran.

Sebagai contoh lampu pemancar yang harganya puluhan juta yang harus diganti secara berkala. Masih ada lagi Biaya Hak Penggunaan Frekuensi (Regulasi Pemerintah) karena frekuensi adalah “milik publik”.
Biaya untuk mempertahankan pemancar agar tetap mengudara secara lokal sangatlah besar dan terus membengkak. Di sisi lain, kue iklan radio terestrial terus menyusut karena para pengiklan mulai mengalihkan anggarannya ke influencer media sosial, platform streaming musik, dan iklan digital yang target audiensnya jauh lebih terukur.
Tidak bisa dipungkiri, saat ini, terjadi lompatan efisiensi ke ranah Radio Internet. Sebagai pembanding, konsep radio internet (cyber radio) menawarkan keunggulan yang tidak bisa ditandingi oleh radio konvensional, baik dari segi biaya maupun jangkauan.
Antara Terrestrial & Streaming
Jika dibandingkan antara konsep penyiaran terrestrial dengan streaming sangat jelas bahwan radio streaming jauh lebih murah dan luas jangkauannya.
Pada radio frekuensi beban biaya seperti listrik pemancar, perawatan fisik tower, izin frekuensi sangat besar. Bandingkan dengan radio internet jauh lebih murah, hanya biaya server streaming, komputer siaran dan kuota internet.

Dari segi jangkauan pada radio frekuensi sangat terbatas, hanya lokal/radius puluhan kilometer sesuai daya pemancar. Sebagai contoh stasiun radio di Jakarta yang memancarkan daya sepuluh ribu watt paling jauh siarannya bisa ditangkap sampai puncak. Bahkan di wilayah Jakarta sendiri di beberapa tempat siaran radio FM tidak bisa didengar. Hal ini karena sifat gelombang FM yang rentan jika menabrak (terhalang) gedung tinggi.
Berbeda dengan radio internet memiliki sifat global, siarannya dapat diterima di mana pun selama ada jaringan internet. Jangkauannya tidak terganggu oleh tingginya gunung atau gedung pencakar langit. Jika rencananya tahun 2026 ini Kementerian Komdigi berhasil melakukan interkoneksi untuk 25 ribu desa di Indonesia maka konsep radio internet di Indonesia lebih luas.
Kualitas audio pada radio internet sangat jernih karena bersifat digital. Jika radio terestrial interaksi terbatas pada telepon atau pesan teks, pada radio internet jauh lebih kaya. Siaran radio internet bisa terintegrasi dengan live chat, visual, hingga media sosial dimana hari ini masyarakat berada dalam dunia tersebut.
Fenomena Radio Pensiunan dapat menjadi bahan diskusi hari ini bagaimana mempertahan siaran radio. Tanpa membutuhkan menara besi setinggi puluhan meter yang memakan tempat, mereka mampu mengudara secara global. Warga Kediri, Bandung, atau Surabaya yang sedang merantau di luar negeri tetap bisa mendengarkan siaran favorit mereka dengan jernih tanpa distorsi kresek-kresek khas radio FM.

Masa Depan Media Radio Indonesia
Mencermati situasi sekarang muncul pertanyaan, apakah berarti radio akan punah? Jawabannya, tidak. Sebab media radio sebagai sebuah medium penyiaran suara (audio) tidak akan mati. Radio hanya mengalami metamorfosis bentuk. Masa depan industri ini akan ditentukan oleh tiga pilar utama.
Pertama, media radio harus migrasi total menjadi “Multiplatform Audio Company”.
Radio masa depan tidak bisa lagi disebut sekadar “stasiun radio”, melainkan perusahaan konten audio. Mereka yang bertahan adalah yang tidak lagi bergantung pada pemancar fisik, melainkan menyediakan kontennya lewat aplikasi *streaming*, situs web, hingga platform aggregator pihak ketiga.
Kedua, tidak bisa dihindari konsep konvergensi konten. Podcast dan Live Video suara penyiar saja kini tidak lagi cukup. Radio masa depan wajib mengadopsi format podcasting untuk konten yang sifatnya on-demand (bisa didengar kapan saja).
Selain itu, konsep visual radio (menyiarkan suasana studio lewat live streaming YouTube atau TikTok) terbukti ampuh menarik generasi muda yang sangat visual.
Perlu diluruskan adalah pengertian podcast yang banyak masyarakat di Indonesia mengartikan sebagai tayangan video. Padahal aslinya sampai sekarang di Amerika yang disebut podcast adalah rekaman audio atau rekaman suara bukan video. Karena podcast adalah singkatan dari Ipod Broadcast dan orang tau Ipod adalah benda penyimpan suara seperti lagu dan sejenisnya.
Ketiga, ada kekuatan komunitas dan “The Human Touch”. Kelebihan utama radio dibandingkan algoritma playlist Spotify atau Apple Music adalah adanya interaksi manusia (human touch). Karakter penyiar yang jenaka, hangat, dan solutif atau secara emosionap tidak tergantikan oleh manusia. Hal ini yang menjadi alasan mengapa orang tetap mencari radio.
Masa depan media radio terletak pada seberapa kuat masyarakat, khususnya penggiat radio Indonesia, mampu merawat komunitas pendengarnya, baik di dunia maya maupun nyata.
Dari semua itu maka matinya frekuensi FM dari stasiun-stasiun legendaris bukanlah akhir dari dunia radio, melainkan akhir dari sebuah era teknologi analog. Radio tidak sedang sekarat, ; ia hanya sedang berpindah rumah ke tempat yang lebih luas, lebih murah, dan lebih abadi lewat jaringan internet. (*)
*) Penulis adalah jurnalis senior, praktisi radio, dan penggagas, pendiri, dan Direktur Utama Radio Online: “Radio Pensiunan”
