• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Mengabdi di Perbatasan, Kisah 4 Guru Lintas Agama di Wilayah 3T Kalimantan Utara

Mengabdi di Perbatasan, Kisah 4 Guru Lintas Agama di Wilayah 3T Kalimantan Utara

Redaksi by Redaksi
May 2, 2026
in Feature
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS – Di balik peringatan Hari Pendidikan Nasional 2026, tersimpan kisah-kisah sunyi dari wilayah perbatasan di Kalimantan Utara. Di tengah keterbatasan akses dan fasilitas, para guru agama tetap setia menyalakan cahaya bagi generasi muda di perbatasan negeri.

Di Krayan, Kabupaten Nunukan, Ronny telah menapaki jalan pengabdian selama 26 tahun sebagai guru agama Kristen. Medan yang sulit dan akses terbatas tak menghalanginya. Bagi Ronny, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup. Ia hadir untuk menanamkan nilai-nilai yang ia yakini akan membimbing anak-anak melampaui batas geografis mereka.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, saya berharap anak-anak di perbatasan semakin mendapat perhatian yang sama. Mereka punya mimpi besar, hanya perlu didukung agar bisa berkembang,” ujar Ronny, Sabtu (2/5/2026).

Kisah serupa mengalir dari Sembakung. Selama 21 tahun, Halifah menjalani perannya sebagai guru Pendidikan Agama Islam dengan keteguhan yang nyaris tak terlihat, namun terasa dampaknya. Perjalanan menyusuri sungai, menghadapi banjir, hingga minimnya sarana menjadi bagian dari keseharian. Namun, semangatnya tetap utuh.

“Melihat anak-anak mulai mempraktikkan ibadah dengan benar dan menunjukkan akhlak yang baik adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun,” tutur Halifah.

Di Tanjung Selor, Puji Astuti telah lebih dari dua dekade mengabdi sebagai guru agama Buddha di SDN 001. Di tengah fasilitas yang lebih memadai, ia menyaksikan harmoni lintas agama tumbuh alami di lingkungan sekolah. Namun, tantangan tetap ada, terutama ketika siswa beragama Buddha tersebar akibat sistem zonasi.

“Semoga ke depan pendidikan semakin inklusif dan semua peserta didik mendapatkan layanan yang adil, tanpa terkecuali,” harap Puji.

Sementara itu, dari Desa Sesua, Malinau Barat, Anselmus Helaq menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Selama 21 tahun sebagai guru agama Katolik, ia terus mencari cara agar nilai-nilai iman dapat dipahami dan dihayati oleh siswa-siswinya.

“Saya berharap pendidikan kita terus maju dengan tetap menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kedalaman spiritual,” ungkap Anselmus.

Kisah-kisah ini memperlihatkan wajah lain pendidikan di perbatasan. Di sana, mengajar bukan hanya tentang mentransfer ilmu, tetapi membentuk manusia seutuhnya: berkarakter, beriman, dan berdaya.

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Utara, Muh. Saleh, menegaskan bahwa para guru agama di wilayah perbatasan memegang peran strategis dalam menjaga nilai dan harmoni bangsa.

“Di Hari Pendidikan Nasional ini, kita diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ilmu, tetapi juga tentang karakter dan spiritualitas. Para guru di perbatasan telah menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka adalah penjaga nilai dan harapan bangsa,” ujar Saleh.

Ia juga menegaskan komitmen Kementerian Agama untuk terus memberikan perhatian dan dukungan bagi para guru, khususnya di wilayah 3T, agar pendidikan semakin merata dan berkualitas.

Dari perbatasan Kalimantan Utara, para guru itu mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: bahwa pendidikan yang lahir dari ketulusan akan selalu menemukan jalannya, menembus batas, dan menerangi masa depan Indonesia.***/mel

Tags: guruGuru Lintas Agamajayakartanews
Previous Post

BRIN Kembangkan Satelit untuk Berbagai Misi

Next Post

Hardiknas, Menag Dorong Sinergi Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Berkarakter

Redaksi

Redaksi

Next Post
Hardiknas, Menag Dorong Sinergi Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Berkarakter

Hardiknas, Menag Dorong Sinergi Wujudkan Pendidikan Inklusif dan Berkarakter

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version