Kolom
Sakti tanpa Rapal Mantra
Gde Mahesa
Banyak variasi mantra doa untuk mencapai harapan keinginan di seluruh jagat ini. Lewat tutur, kitab, prasasti ataupun lontar.
Apakah jika seseorang menginginkan sesuatu harus memakai rapal hafalan yang tersusun bak sastra warisan tradisi? Tidak juga. Kenapa? Konon katanya kata bahasa bisa menjadi kenyataan, padahal tidak berupa merapal mantra doa.
Dalam pengendapan ritual di Bali beberapa waktu lalu, semakin meyakinkan bahwa :
“Tanpa Tuhan – BerTuhan Satu – Bertuhan Banyak” semua kehendak yang terucap bisa terwujud. Tapi tentunya ada beberapa hal yg harus diperhatikan.
Mantra memang merupakan ilmu spiritual warisan leluhur yang memiliki fungsi utama untuk memanggil atau menarik energi tertentu. Kekuatan batin yang bekerja dengan memanfaatkan getaran frekuensi sukma agar selaras dengan keinginan sang pemikat.
Banyak orang meyakini bahwa ajian ini mampu menjangkau pikiran seseorang dari jarak jauh melalui perantara gelombang batin yang sangat halus. Efektivitas amalan tersebut sangat bergantung pada tingkat konsentrasi dan kejernihan jiwa saat melakukan ritual.
Dunia mistis mengenal teknik ini sebagai salah satu metode paling wingit karena melibatkan pemusatan rasa yang sangat mendalam. Setiap orang harus memiliki kesiapan mental yang kuat agar energi yang muncul tidak membebani kondisi psikologis diri sendiri.
Prinsip kerja ilmu ini mengutamakan penyatuan antara niat batin dengan irama alam semesta yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
Keselarasan tersebut akan mempermudah, dalam mencapai tujuan spiritual tanpa harus melewati proses yang menyulitkan fisik.
Bagaimana cara menggantikan mantra dengan bahasa kita sendiri? Tentunya mudah, lontarkan desahkan gumamkan semua kehendak pencapaian baik ataupun buruk dengan konsentrasi dan fokus tentunya. Sebab apapun yang terucapkan ketika sedang ujub akan dapat mempunyai manfaat luar biasa yang tersimpan di dalam keajaiban tutur kata sakti tersebut.
Hal ini sangat berguna bagi siapa saja yang ingin mendalami seni olah rasa demi kebaikan hidup bermasyarakat.
Caranya? Dengan Mantra yang telah disiapkan sendiri tentunya dapat bekerja dengan cara menggetarkan sukma. Apalagi untuk pengasihan, target dapat merasakan kerinduan atau tarikan batin yang sangat kuat.
Proses spiritual ini bermula dari pemusatan pikiran pada satu titik fokus yang tidak boleh terputus sedikit pun.
Energi yang terkumpul akan mengalir keluar melalui hembusan napas dan suara yang membawa pesan gaib ke dimensi astral. Kekuatan tersebut akan mencari sasaran secara otomatis berdasarkan identitas atau bayangan wajah yang tersimpan dalam ingatan.
Semisal dimulai dengan yang umum dipakai “Sun mantak aji jati” bisa juga “Bismillahirrahmanirrahim” atau apa saja yang diyakini untuk menggabungkan dengan rasa yang paling dalam, ini harus harus diucapkan dengan nada mantap di dalam hati saat suasana alam sedang hening.
Baru bikin alur ucapan apa yang dikehendaki. Dan jangan lupa menutup dengan yang pada umumnya dipakai “Tekad siji dadi siji rasaning sukma tunggal” boleh juga “insyaallah Aamiin” terserah seenaknya hati, sebagai kalimat yang mengunci target agar selalu teringat.
Itu yang terpenting, membaca kalimat tersebut sebanyak tiga kali sambil membayangkan target seolah berada tepat di depan mata.
Cara ini memastikan bahwa frekuensi energi yang dikirimkan, langsung menyentuh pusat kesadaran batin orang yang dituju.
Setelah melakukan amalan tersebut, sebaiknya segera beristirahat agar energi batin dapat bekerja secara maksimal tanpa gangguan pikiran sadar. Kedisiplinan dalam menjaga ketenangan batin menjadi faktor penentu keberhasilan dalam menguasai ajian penarik ini.
Pernah mencoba?
Bullllll…. bullllll… klepussss.
