Kolom
Jenius dari Malang
Dr. Novalia Pishesha, Ilmuwan Harvard yang Taklukkan Dunia dengan Rekayasa Sel Darah Merah
Oleh : Heri Mulyono
Di sebuah laboratorium di Boston Children’s Hospital, seorang perempuan asal Singosari, Malang, tengah merancang ulang cara kerja sel darah merah — mengubahnya menjadi senjata presisi melawan penyakit autoimun yang selama ini belum tertaklukkan.
Dari Singosari ke Dunia
Kota Singosari menyimpan sejarah panjang. Di sini berdiri Candi Singhasari, peninggalan kerajaan yang pernah mengguncang Nusantara pada abad ke-13. Dan dari tanah bersejarah ini pula, di era modern, lahir seorang ilmuwan yang kelak mengguncang dunia ilmu pengetahuan dengan cara yang tak kalah menakjubkan.
Novalia Pishesha — atau Nova, sapaan akrabnya — tumbuh besar di Singosari, sebuah kecamatan di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Masa kecilnya biasa, seperti anak-anak lain di kampungnya. Namun ada satu hal yang membentuk jiwa dan arah hidupnya secara permanen: duka. Beberapa orang terdekat Nova meninggal dunia akibat lupus, penyakit autoimun yang menyerang tubuh seseorang dari dalam, menggerogoti organ-organ vital tanpa bisa dicegah sepenuhnya.
“Sejak saat itu, saya tahu harus membantu orang-orang yang menderita,” ujarnya dalam berbagai kesempatan. Kalimat itu bukan retorika. Ia menjadi kompas hidup yang tidak pernah ia tinggalkan, bahkan ketika badai kehidupan berulang kali datang menghadang.
Nova menempuh pendidikan menengah di SMAK Kolese Santo Yusup Malang, salah satu sekolah Katolik bergengsi di Kota Malang. Lulus SMA, ia sempat mencoba kuliah kedokteran di Indonesia. Namun sesuatu tidak beres. Sistem pendidikan yang ia temui tidak selaras dengan cara berpikir dan semangatnya yang meluap-luap untuk memahami ilmu secara mendalam. Ia memutuskan untuk mencari jalan lain — jalan yang lebih jauh, lebih berliku, dan jauh lebih menantang.
Merantau dengan Satu Koper dan Segunung Tekad
Memutuskan pergi ke Amerika Serikat bukan perkara mudah bagi seorang gadis muda dari Malang yang tidak memiliki jaringan elite atau jaminan finansial berlimpah. Tetapi Nova tidak bergerak tanpa modal. Modalnya adalah kecerdasan, kerja keras, dan keyakinan bahwa peluang harus dikejar meski jaraknya ribuan mil.
Ia memulai dari bawah. City College of San Francisco (CCSF) menjadi batu loncatan pertamanya di Amerika. Di sini Nova bukan hanya belajar, ia bekerja keras di berbagai jalur. Ia meraih serangkaian beasiswa bergengsi — Vic Chow Scholarship in Biology, Thomas Hynes General Chemistry Scholarship, Math Department Endowment Fund Scholarship — sekaligus aktif sebagai tutor dan teknisi laboratorium untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Tidak ada yang digenggam dari kemewahan. Semua diraih dari keringat.
Pada tahun ketiga, Nova pindah ke University of California, Berkeley — salah satu universitas negeri terbaik di dunia. Pindah bukan tanpa alasan: ia membawa serta sejumlah beasiswa bergengsi yang membiayai seluruh kuliahnya. Regents’ and Chancellor’s Scholarship, Cal Alumni Association Leadership Award, dan Haas Scholarship menjadi tiket masuknya ke institusi kelas dunia itu.
Pada 2012, Nova lulus dengan gelar Bachelor of Science (B.S.) di bidang Bioengineering, dilengkapi penghargaan Departmental Citation in Bioengineering — penghargaan tertinggi bagi mahasiswa terbaik di jurusan tersebut. Sebuah capaian yang tidak datang dari keberuntungan, melainkan dari ribuan jam belajar, gagal, bangkit, dan belajar lagi.
MIT: Tempat Mimpi Bertemu Sains
Dari Berkeley, Nova melangkah ke Massachusetts Institute of Technology (MIT), institusi yang selama puluhan tahun menjadi kuil ilmu pengetahuan dan rekayasa terdepan di dunia. Di sinilah perjalanannya benar-benar memasuki babak yang mengubah segalanya.
Di bawah bimbingan dua profesor kelas dunia — Harvey Lodish dan Hidde Ploegh — Nova mendalami bidang yang terdengar seperti sains-fiksi bagi kebanyakan orang: rekayasa eritrosit, atau sel darah merah. Pertanyaan yang ia kejar sederhana namun revolusioner: bisakah sel darah merah, yang selama ini hanya dikenal sebagai pengangkut oksigen, diubah menjadi kendaraan pengobatan yang cerdas?
Jawabannya ternyata: bisa.
Nova dan timnya berhasil menunjukkan bahwa eritrosit yang telah direkayasa secara kimiawi — dengan menempelkan peptida antigenik tertentu ke permukaan selnya — mampu “meyakinkan” sistem imun tubuh untuk berhenti menyerang dirinya sendiri. Dalam uji coba pada tikus dengan multiple sclerosis dan diabetes tipe 1, hasilnya menjanjikan. Sistem imun yang overaktif dapat ditenangkan tanpa mematikan respons imun secara keseluruhan — sesuatu yang selama ini menjadi tantangan terbesar dalam pengobatan autoimun.
Penelitian disertasi ini kemudian menjadi fondasi lahirnya Rubius Therapeutics, sebuah perusahaan bioteknologi spinout yang berfokus pada pengembangan terapi berbasis sel darah merah yang telah direkayasa. Nova meraih gelar Ph.D.-nya dari MIT pada 2018 — enam tahun kerja keras yang tidak hanya menghasilkan ijazah, tetapi juga terobosan ilmiah yang dicatat dunia.

Harvard, Nanobody, dan Misi Mulia
Usai MIT, Nova tidak berhenti. Ia melanjutkan karier akademisnya sebagai Junior Fellow di Harvard Society of Fellows — salah satu penghargaan akademik paling eksklusif di dunia — sekaligus menjalankan riset di Boston Children’s Hospital, Harvard T.H. Chan School of Public Health, dan Broad Institute of Dr. Novalia Pishesha and Harvard.
Di sinilah Nova mulai menggeser fokus risetnya. Ia menyadari bahwa terapi berbasis sel darah merah yang direkayasa, betapapun brilliannya secara ilmiah, memiliki satu kelemahan fatal: harganya mahal dan sulit dijangkau oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia.
“Banyak pekerjaan yang saya lakukan bersifat sangat translasional, dan saya rasa itu karena pengalaman saya tumbuh besar,” kata Nova kepada majalah STAT News yang memasukkannya sebagai salah satu Wunderkind 2021 — daftar ilmuwan-ilmuwan muda paling menjanjikan di dunia. “Ada kebutuhan yang mendesak.”
Kalimat itu mengandung kesadaran mendalam: sains yang brilian tidak ada artinya jika hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang kaya di negara-negara maju. Nova ingin lebih dari itu. Ia ingin obat-obatannya bisa diakses oleh orang biasa di Indonesia, di Afrika, di mana pun penderita autoimun berjuang melawan tubuh mereka sendiri tanpa pertolongan yang memadai.
Maka ia beralih ke teknologi nanobody — fragmen antibodi berukuran sangat kecil yang berasal dari alpaka. Nanobody jauh lebih sederhana, lebih murah diproduksi, dan bahkan bisa dikirim dalam kondisi suhu ruangan atau dalam bentuk bubuk kering (lyophilized) — jauh lebih praktis dibanding terapi sel yang membutuhkan rantai dingin dan fasilitas canggih.
Nanobody: Antibodi Mungil, Dampak Raksasa
Konsep nanobody bukan hal baru dalam dunia imunologi, namun apa yang Nova lakukan dengan teknologi ini merupakan terobosan tersendiri. Ia merekayasa nanobody yang berasal dari alpaka — hewan sejenis unta dari Amerika Selatan — agar dapat berikatan dengan protein MHC Kelas II yang diekspresikan pada permukaan sel-sel penyaji antigen di tubuh manusia.
Prinsip kerjanya: dengan menempelkan peptida imunogenik tertentu pada nanobody tersebut, Nova menciptakan semacam “pesan” yang disampaikan langsung kepada sistem imun. Pesannya adalah: jangan serang protein ini. Ini bukan musuh. Ini kita sendiri.
Dalam uji preklinis pada tikus, satu dosis nanobody yang direkayasa ini terbukti mampu memberikan toleransi imun yang kuat terhadap multiple sclerosis, diabetes tipe 1, dan rheumatoid arthritis. Hasilnya dipublikasikan dalam jurnal bergengsi Nature Biomedical Engineering pada 2021, sebuah makalah yang menjadi salah satu kontribusi terpenting Nova dalam literatur ilmiah global.
Kini, Nova bahkan mengembangkan terapi nanobody-dexamethasone — gabungan nanobody dengan obat kortikosteroid — yang dirancang khusus untuk menyasar sel-sel B yang disfungsional pada penderita lupus. Penelitian yang didanai oleh Lupus Research Alliance ini bertujuan menghadirkan pengobatan yang lebih presisi dan minim efek samping dibanding terapi konvensional.
Karya-karyanya telah dikutip lebih dari 3.189 kali dalam berbagai publikasi ilmiah di seluruh dunia — angka yang mencerminkan betapa besar pengaruh risetnya terhadap komunitas sains global. Di usia yang masih relatif muda, Nova telah menjadi salah satu ilmuwan paling disitasi di bidangnya.
Memimpin Lab Sendiri: Babak Baru di Harvard
Januari 2024 menjadi tonggak baru dalam perjalanan Nova. Ia resmi mendirikan Pishesha Lab — laboratoriumnya sendiri — sebagai Assistant Professor di Division of Immunology, Boston Children’s Hospital, sekaligus di Department of Pediatrics, Harvard Medical School. Sebuah posisi yang bagi banyak ilmuwan merupakan puncak aspirasi karier.
Di bawah naungan Pishesha Lab, Nova memimpin tim interdisipliner yang memadukan imunologi dasar, biokimia protein, imunologi kimia, dan rekayasa imun. Misi labnya satu: memahami bagaimana proses penyajian antigen bekerja dalam tubuh, dan bagaimana proses itu bisa dimanipulasi untuk mengontrol respons imun — baik dalam penyakit autoimun maupun penyakit infeksi.
“Saya sangat bersemangat memimpin tim ilmuwan dan insinyur yang interdisipliner untuk memajukan pemahaman dan penerapan rekayasa imun,” tulis Nova di situs resmi labnya. Kegembiraan itu bukan basa-basi. Ia adalah ilmuwan yang tahu persis apa yang ingin ia capai, dan mengapa.
Selain riset autoimun, Nova juga mendirikan Cerberus TX — sebuah perusahaan rintisan (startup) bioteknologi yang ia besut dari riset-riset mutakhirnya. Langkah ini menandai transisi Nova dari ilmuwan murni menjadi juga seorang inovator yang ingin mengubah temuannya menjadi produk nyata yang bisa sampai ke tangan pasien.

Indonesia dalam Diri Nova
Di tengah gemerlap laboratorium kelas dunia, Nova tidak pernah melupakan akarnya. Ia menyadari betapa jauh jarak antara terobosan ilmiah yang ia hasilkan di Boston dengan realitas pasien lupus dan autoimun di Indonesia yang masih berjuang dengan keterbatasan akses pengobatan.
Kerinduan akan tanah kelahiran kerap muncul dalam cara yang sederhana namun bermakna. Karena tidak ada restoran Indonesia di Boston, Nova belajar memasak sendiri hidangan-hidangan favoritnya dari kampung halaman. Di sela-sela riset yang melelahkan, ia menemukan ketenangan di dapur — mungkin satu-satunya tempat di mana Malang terasa tidak terlalu jauh.
Kesadaran akan kesenjangan akses pengobatan antara dunia maju dan negara berkembang itulah yang terus mendorong Nova untuk tidak sekadar mengejar prestise akademis, melainkan riset yang benar-benar bisa diterapkan. “Lebih murah, lebih sederhana, tetapi dengan efektivitas setara atau bahkan lebih baik” — itulah mantra ilmiahnya, sebuah filosofi yang lahir dari pengalaman tumbuh di Indonesia.
Warisan yang Sedang Dibangun
Perjalanan Nova Pishesha adalah kisah yang jarang diceritakan di Indonesia: seorang perempuan dari kabupaten kecil di Jawa Timur yang menembus tembok-tembok institusi paling elite di dunia bukan dengan keberuntungan, melainkan dengan kerja keras, kecerdasan, dan tekad baja.
Dari lorong-lorong SMAK Kolese Santo Yusup di Malang, ia melangkah ke City College of San Francisco yang ia bayar dengan beasiswa dan kerja sampingan. Dari sana ke Berkeley yang ia taklukkan dengan nilai-nilai terbaik. Lalu ke MIT tempat ia merevolusi cara pandang dunia terhadap sel darah merah. Dan akhirnya ke Harvard, tempat ia kini memimpin labnya sendiri — sebuah orbit ilmu pengetahuan di mana banyak orang bermimpi untuk sekadar mampir.
Lebih dari sekadar karier yang gemilang, Nova sedang membangun warisan yang bermakna. Setiap makalah yang ia terbitkan, setiap nanobody yang ia rekayasa, setiap mahasiswa doktoral yang ia bimbing di Pishesha Lab — semuanya adalah bata-bata kecil dari bangunan besar yang ia impikan: dunia di mana penderita lupus di Singosari punya akses terhadap pengobatan yang sama canggihnya dengan yang tersedia di Boston.
Candi Singhasari berdiri megah sebagai bukti bahwa dari tanah Malang pernah lahir peradaban yang menggetarkan dunia. Kini, dari tanah yang sama, Nova Pishesha membuktikan bahwa tradisi kebesaran itu masih hidup — hanya saja kini diwujudkan bukan dengan prasasti batu, melainkan dengan makalah ilmiah, rekayasa sel, dan tekad seorang perempuan Malang yang tidak pernah berhenti percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah cara paling mulia untuk mengabdi kepada kemanusiaan.
Sumber & Referensi
• Pishesha Lab Official Website: pisheshalab.com
• STAT News, “STAT Wunderkinds 2021: Novalia Pishesha,” November 2021.
• Pishesha N., et al., “Engineered erythrocytes covalently linked to antigenic peptides can protect against autoimmune disease,” PNAS, 2017.
• Pishesha N., et al., “Induction of antigen-specific tolerance by nanobody-antigen adducts that target class-II MHC,” Nature Biomedical Engineering, 2021.
• MIT Technology Review, “Innovators Under 35: Novalia Pishesha.”
• Lupus Research Alliance, “Multimodal Nanobody Immunotherapy for SLE,” 2025.
• Google Scholar Profile, Novalia Pishesha, PhD (dikutip 3.189 kali).
• Indonesian Community of New England (ICONE): icone-inc.org.
• Harvard Catalyst Profiles: connects.catalyst.harvard.edu.

Nana
May 15, 2026 at 12:35 pm
Solusi nya apa tuk pengobatan Lupus yg bisa diterapkan di Indonesia??
Ini kan cm wacana saja jd nya. Hanya bisa membaca karier Nova. Tp ttp g ada jalan buat pengobatan autoimun di indonesia yg terde Best