Ini Dia, Museum Perkebunan Pertama di Indonesia

 Ini Dia, Museum Perkebunan Pertama di Indonesia
Direktur Eksekutif Musperin, Dra Sri Hartini M,Si, berpose di depan Museum Perkebunan Indonesia. Sebelah kiri tampak monumen Pesawat Piper. Foto: Monang S

ADA yang berbeda jika Anda melintasi Jalan Brigjen Katamso, Medan Maimun, Kota Medan, Sumatera Utara. Rumah besar dua lantai peninggalan Belanda kini menjadi icon baru Kota Medan. Di sisi kanan halamannya yang luas, terpajang monumen pesawat Piper PA-28 Warrior.

Bangunan dua lantai bercat putih bersih itu, telah berubah fungsi dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) menjadi museum. Museum Perkebunan Indonesia atau Musperin. Inilah museum perkebunan pertama di Indonesia, dan dikelola oleh Yayasan Perkebunan Indonesia.

Museum yang digagas oleh Bapak Perkebunan Indonesia, Soedjai Kartasasmita, diresmikan 10 Desember 2016 oleh Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi bersama Dirjen Perkebunan, Kementerian Pertanian.

Musperin memiliki tagline “connecting the past to the future”. Pengunjung bisa melihat bagaimana perkembangan perkebunan di Indonesia dari masa lalu hingga kini. Musperin menyimpan, mendokumentasikan, melestarikan dan mempublikasikan kepada masyarakat. Koleksi museum masih terus ditambah, melengkap display lantai satu yang sudah sangat bagus.

“Bangunan museum ini dulunya adalah rumah tinggal, sehingga di dalamnya pun memiliki banyak ruang. Ada ruang tidur, ruang keluarga, ruang makan, dan lain-lain. Kami menyesuaikan display koleksi museum dengan desain ruang yang sudah ada,” ujar Direktur Eksekutif Musperin, Dra Sri Hartini M,Si, beberapa waktu lalu di Kantor Museum Perkebunan Indonesia.

Langkah pertama memasuki bangunan museum, pengunjung akan menjumpai ruang introduksi. Lalu, Sri Hartini yang alumni UGM Yogyakarta itu menunjuk ruang kedua berisi produk-produk perkebunan, mulai dari kelapa sawit, kopi, cokelat, teh, dan tebu. Semua komoditi dilengkapi sejarah atau asal-usulnya.

Ruang ketiga, tampak display tembakau Deli dan karet. Di situ juga digambarkan kebesaran perkebunan Tembakau Deli sekitar tahun 1863. Saking luasnya area tembakau saat itu, bahkan untuk menyemprotkan pupuk atau penyiraman tanaman saja menggunakan pesawat. Monumen pesawat Piper PA-28 Warrior terpajang di halaman museum sebelah kanan. Pesawat buatan Amerika Serikat berkapasitas satu kursi itu, dulu milik PTP II Medan, dan memang bertugas untuk menyemprot pupuk atau menyiram tanaman tembakau.

Perkebunan tembakau ini dulunya hanya tumbuh di sepanjang sungai Babura dan Deli. Lain dulu, lain sekarang. Saat ini, tinggal sedikit saja lahan di kedua daerah itu yang masih ditanami tembakau, dan dikelola PTP II. Di ruang ini juga terpajang beberapa artefak yang menggambarkan kejayaan perkebunan Indonesia dulu.

Naik ke lantai dua, tampak beberapa artefak lain yang berkaitan dengan perkebunan. Ada pula visualisasi seorang wanita dan sekelompok wanita sedang bekerja sambil memegang daun tembakau.

Yang membuat Musperin kotekstual dengan zaman now adalah ruang tiga dimensi (3D). Pengunjung, khususnya anak-anak free menikmatinya. Musperin hanya memungut tiket Rp 8.000 per orang, atau Rp 5.000 untuk rombongan lebih dari dari 20 orang.  “Uang tiket untuk membantu perawatan, karena ini museum swasta,” ujar Sri yang juga Ketua II di Asosiasi Museum Indonesia.

Sejauh ini, menurut Sri, antusiasme masyarakat sangat baik. Sejak dibuka Desember 2016 hingga Januari 2018, tercatat sudah lebih dari 33.000 pengunjung datang ke Musperin. Sebagai objek wisata edukasi, Musperin diharapkan bisa menyedot ketertarikan peminat perkebunan tidak saja di Indonesia, tetapi juga dari seluruh penjuru dunia.

Diakui, Musperin menekankan daya tarik pada segmen anak-anak. “Kalau orang tua merasa butuh ke museum, maka dia akan datang. Bukan karena atraksi atau permainannya kan? Tetapi lebih karena memang berminat. Sedangkan, anak-anak, perlu dirangsang dengan aneka hal yang menarik, termasuk berbagai gimmick yang bersifat edukatif,” tambahnya.

Ia menyebut contoh, pengolahan cokelat dicampur bahan kelapa sawit. Di sini, anak-anak bisa belajar membuat dan mencetak sendiri colekat kesukaan, lalu membawanya pulang. Selain itu, anak-anak juga bisa belajar dan praktik membuat lilin dari bahan kelapa sawit.

Nah, bagi ibu-ibu yang mengantar anak-anak ke museum, tersedia spa dan aneka produk kosmetik berbahan baku kelapa sawit. Selain display produk, juga terdapat ruang produksi. Tidak habis di situ. Di ujung area museum, terdapat spot olahraga memanah

Tidak heran jika Musperin makin dikenal dan diminati masyarakat. Seperti yang tampak hari itu, datang delapan bus berisi siswa-siswi SD Al Wasliyah 30 Medan, didampingi 32 orang guru, dan dipimpin langsung Kepala Sekolah, Eka Hayati S.Pd. “Objek wisata edukasi yang sangat bagus. Kebetulan, di dalam mata pelajaran siswa kelas IV dan V ada tema yang sesuai dengan konten Musperin. Karenanya kami mengajak anak-anak ke sini agar mendapat perspektif yang baik mengenai sejarah perkebunan pada khususnya, dan sejarah Indonesia pada umumnya,” ujar Eka.

Selain itu, Eka memuji pengelola museum yang sangat ramah dan profesional. “Para murid belajar banyak di Musperin. Selain mendapatkan aspek sejarah, juga belajar praktek dari apa yang dipelajari di bangku sekolah, tentang cara membuat makanan, cara menanam kelapa sawit yang baik, dan sebagainya. Saya juga salut, di museum ini anak-anak diajari berani dan disiplin. Termasuk disiplin dalam hal kebersihan,” puji Eka. ***

Kepala Sekolah Al-Wasliyah 30, Medan Labuhan, Eka Hayati SPd bersama para guru dan murid-murid di dalam Musperin. Foto oleh : Monang Sitohang

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.