Empat Belas Tahun jadi Orang Bebas Merdeka dan Atasan Cuma TUHAN

 Empat Belas Tahun jadi Orang Bebas Merdeka dan Atasan Cuma TUHAN

Hari Senin, 30 September 2019, tepat 14 tahun saya jadi orang bebas merdeka dan atasan satu2nya hanya TUHAN. Pertama kali bekerja pada 27 Desember 1989 sebagai wartawan di harian Suara Indonesia Biro Malang, Jatim. Koran itu anak perusahaan harian Jawa Pos yg sekarang namanya Radar Surabaya.

Terakhir kerja pada 30 September 2005 sebagai pegawai Semen Cibinong. Belakangan ganti nama jadi Holcim Indonesia. Terus berubah lagi jadi Solusi Bangun Indonesia setelah semua sahamnya dibeli Semen Indonesia.

Saya sangat bersyukur karena selama 14 tahun sejak berhenti dari Semen Cibinong sampai sekarang ini kualitas kehidupan saya jauh lebih baik. Kesehatan prima dan rejeki saya terus mengalir. Dari waktu ke waktu semakin meningkat sehingga bisa berbagi pada banyak orang yg membutuhkannya.

Undangan sharing Komunikasi dan Motivasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri semakin meningkat. Sebagian terpaksa saya tolak karena waktunya bersamaan dan ada yg disebabkan saya tidak respek dengan panitianya yg tidak memenuhi komitmennya.

Begitu banyaknya undangan sharing Komunikasi dan Motivasi sehingga saya merasa waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, dan 365 hari dalam setahun kurang. Terkadang dalam sehari bisa sharing hingga 3 sesi. Bahkan pernah 4 sesi di tempat yg berbeda2. Alhamdulillah…

Dengan beberapa institusi, saya berkomitmen untuk sharing Komunikasi dan Motivasi yg jika ditotal sedikitnya 700 sesi. Jika rata2 sehari pelaksanaannya 1 sesi maka membutuhkan waktu sekitar 2 tahun untuk menuntaskannya.

Sejak di Kandungan jadi Pemenang, Merasa Besar karena Bekerja di Perusahaan Besar

Sejak 27 Desember 1988 hingga 30 September  2005, setiap saya berhenti kerja – totalnya sembilan kali di perusahaan yg berbeda2 di antaranya harian Jawa Pos, Surabaya Minggu, dan Bisnis Indonesia – selalu ada teman yg kesannya berempati tapi menakut2i. Hal tersebut memperkuat keyakinan saya bahwa sandaran satu2nya yg terbaik dalam hidup hanya TUHAN. Sekali lagi hanya TUHAN… Bukan yg lain apalagi manusia.

“Aqua, kamu kalau tidak bekerja jadi wartawan tidak akan dihargai orang. Begitu juga jika ngga jadi Humas Semen Cibinong, tidak akan ada orang yg menghargai kamu,” ucap mereka senada.

Kesannya seseorang dihargai orang lain karena pekerjaannya. Bukan yg lainnya. Sehingga begitu berhenti bekerja otomatis penghargaan itu hilang sama sekali.

Saya tidak menyalahkan pendapat itu meski tidak juga membenarkannya. Itu terjadi karena selama ini banyak orang merasa besar karena bekerja di perusahaan besar. Begitu tidak kerja lagi merasa dirinya kecil karena ngga ada yg bisa dibanggakan.

Padahal setiap manusia yg sejak dalam kandungan Ibunya sudah jadi pemenang, bukan pecundang, harus yakin pada kemampuan dirinya. Kesadaran dan keyakinan itu perlu terus-menerus dimunculkan sebagai motivasi untuk menjadi diri-sendiri.

Apalagi dalam diri setiap manusia ada “raksasa” yg sedang tidur nyenyak dan harus segera dibangunkan. Itu adalah potensi diri. Mereka yg mengetahui hal tersebut dan mengoptimalkan kemampuannya hasilnya pasti dahsyat dan luar biasa. Mengalami sukses dalam hidupnya.

Tegas Katakan Terpenting Dihargai TUHAN

Terkait dengan orang2 yg menunjukkan empati tapi terkesan menakut2i, dengan rendah hati saya sampaikan terima kasih yg sebesar2nya atas semua atensi mereka. Kemudian dengan tegas saya katakan meski semua orang di dunia ini tidak menghargai saya, sama sekali ngga masalah dan tidak pusing. Terpenting buat saya dihargai TUHAN.

Menurut saya dan berdasarkan pengamatan serta pengalaman selama ini, orang dihargai atau tidak oleh orang lain, bukan karena jabatan, pangkat, dan hal2 duniawi lainnya. Semua itu sifatnya semu dan tidak kekal.

Seseorang dihargai orang lain karena dua hal mendasar. Pertama, menghargai dirinya secara profesional dan proporsional. Kedua, menghargai semua orang secara universal dan tulus tanpa ada embel2nya.

Berdasarkan semua hal itu sehingga dengan keyakinan yg kuat pada 30 September 2005 saya memutuskan berhenti jadi pegawai. Setelah diberi pemahaman keluarga mendukung. Alhamdulillah…

Sejak 1 Oktober 2005 sampai sekarang ini saya meningkatkan kualitas dan kuantitas silaturahim. Saudara2 saya terus bertambah. Mereka Itulah yg selama ini banyak memberikan rejeki buat saya.

Bagi saya rejeki tidak semata2 uang. Itu bagian kecil dari rejeki. Paling utama adalah kesehatan yg prima, memiliki banyak teman dan saudara di berbagai kota di dunia, mendapatkan banyak amanah dari individu dan institusi, dan terakhir dalam bentuk materi.

Alhamdulillah 14 tahun jadi orang bebas merdeka dengan atasan satu2nya hanya TUHAN, saya sudah mendapatkan semua rejeki itu. Hal tersebut membuktikan TUHAN sangat baik pada saya sekeluarga.

Sejak beberapa tahun lalu saya berusaha meningkatkan kebiasaan berbagi pada sesama. Targetnya setiap tahun hingga 90 persen kegiatan sosial. 10 persennya aktivitas yg lain2.

Hasilnya dahsyat dan luar biasa. TUHAN menunjukkan kebesaranNYA dengan memberikan balasan yg berlipat ganda dan berbagai kemudahan dalam hidup ini. ALLAHU AKBAR…

Selain rasa syukur yg mendalam, 14 tahun jadi orang merdeka membuat saya makin bersemangat untuk terus berbagi pada sesama serta meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Aamiin ya robbal aalamiin…

–Dari Bogor saya ucapkan selamat berusaha jadi orang bebas merdeka dengan atasan satu2nya hanya TUHAN. Salam hormat buat keluarga. 23.30 30092019😃–

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *