Connect with us

Entertainment

Didik Nini Thowok Tampil Beda: Jadi Tokoh Kunci di Monster Pabrik Rambut

Published

on

Didik Nini Thowok sebagai Maryati (foto palari)

JAYAKARTA NEWS—  Selama hampir lima dekade, aktor dan penari Didik Nini Thowok alias Didik Hadiprayitno (Kwee Tjoen An, 71 tahun) tampil di ranah film Indonesia.

Di film terbaru garapan sutradara Edwin berjudul ‘Monster Pabrik Rambut’, Didik berperan sebagai Maryati, boss pabrik rambut yang berpembawaan unik dan eksentrik.

“Aku tampil beda dan jadi tokoh kunci di film yang akan beredar 4 Juni 2026,” ujar Didik tenang.

Produksi Palari Films dan ko-produksi Singapura, Jepang, Jerman dan Prancis ini juga dibintangi Iqbaal Ramadhan, Rachel Amanda, Lutesha, Aryani Willems, Sal Priadi dan Kev.

Ia tertarik membintangi film ini karena menghadirkan pengalaman horor fantasi retro dari latar pabrik rambut dan situasi para pekerjanya yang kurang tidur.

Situasi-situasi horor dibangun dari atmosfer pabrik rambut yang creepy.

“Mas Edwin menugaskan aku selalu tersenyum manis namun eksploitatif dan misterius,” jelas Didik yang sehari-hari mengajar tari di ISI Jogjakarta.

Dikatakannya, ia menjadi nyawa film ini. “Horor di sini dipenuhi kritik sosial yang sangat dalam. Monster nya terinspirasi dari horor dan film retro Indonesia era 80an tanpa harus bersinggungan dengan setan. Ada bentuk lain yang menjadi sumber teror.”

“Ya Maryati dan Bona yang diperankan Iqbaal Ramadhan. Visualisasinya tampak liar, berani dan penuh fantasi. Bona itu didesain mampu meregenerasi tubuhnya. Dan Maryati dengan senyum manisnya secara jujur meneriakkan jeritan yang sudah terlalu lama ditahan oleh para pekerja Indonesia,” imbuh Didik.

Hebatnya, Edwin di film ini bereksplorasi yang ditunjukkan dengan pendekatan practical effect tanpa CGI untuk menyuguhkan sisi retronya.

Di sini, Edwin menggandeng Menfo Tantono yang menyulap Studio PFN menjadi sebuah pabrik rambut dengan kehadiran rambut asli sekitar dua truk beserta manekin, prostetik, sisir paku dan berbagai elemen yang ada di dunia nyata.

“Film ini menjadi refleksi terhadap kondisi kerja yang belum ideal. Para pekerja kerap lembur sehingga kurang waktu untuk tidur dan istirahat. Cerita dan para karakter memperlihatkan betapa horornya dunia kerja yang dinormalisasi,” timpal Didik.

Apakah sistem kerja ini benar jika sakit dianggap kerja keras ? tanya Didik.

Di Monster Pabrik Rambut, Didik unjuk diri apa adanya dan realistis.

Sedangkan di beberapa pertunjukan, ia tampil dengan topeng, humor dan cross gender.

Ia lihai meramu dan memadukan tari tradisi Jawa dan klasik Tionghoa.

Maklum, sejak kecil Didik cenderung sempat berlaku seperti wanita dan suka permainan cewek seperti pasar-pasaran, masak-masakan dan berdandan keibu-ibuan.

” Saya suka menjahit, menyulam dan merenda,” pungkas Didik. (pik)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement