Emergency UI 2019: Untold Story of Disaster

 Emergency UI 2019: Untold Story of Disaster
Panitia yang terdiri atas Mahasiswa Vokasi Komunikasi (Vokom) UI, yang baru saja menyelenggarakan Event Emergency bertajuk Untold Story of Disaster. (foto: ist)

JAYAKARTA NEWS – Bertempat di Auditorium Gedung C Vokasi UI, Senin (8/4), Mahasiswa Vokasi Komunikasi (Vokom) UI menyelenggarakan Event Emergency bertajuk Untold Story of Disaster. Panitia menghadirkan para narasumber I Made Oka Astawa, Kepala Seksi Operasi SAR; Jerry Aurum, fotografer sekaligus relawan One Year Call Memories Tsunami Aceh; serta Arifin Putra, artis dan aktivis pecinta lingkungan.

Kegiatan yang dihadiri 300 peserta berbagai daerah di Indonesia ini, dibuka oleh Kepala Program Studi Vokasi Komunikasi UI, Dr. Devie Rahmawati, M.Hum., dan Dra. Amelita Lusia, M.Si. Kegiatan dipandu Winda Dwiastuti, Mahasiswa Berprestasi Vokasi UI tahun 2014.

“Emergency merupakan aktivitas yang sudah menjadi legenda di Program Vokasi sebagai kegiatan mahasiswa, yang menjadi bagian dari produk mata kuliah Manajemen Event. Pendidikan Vokasi menekankan pendidikan praktis sebesar 60%-70%. Situasi ini terefleksi dari arsitektur waktu, dimana kelas teori durasi 55 menit dan kelas praktik 4-6 jam per mata kuliah. Emergency adalah produk dari kelas teori,” ujar Devie, salah satu pengajar Mata Kuliah Manajemen Event.

“Kegiatan tahun 2019 ini memiliki konsep yang berbeda, yaitu ingin membuka “diary” dari para “avenger”, para pahlawan bencana yang hadir di saat tanggap bencana, evakuasi, penyelamatan, rehabilitasi dan rekonstruksi di kawasan. Kisah seputar bencana sering didominasi oleh cerita dari para korban. Sering kali para pendamping, relawan, penyelamat, tidak memiliki ruang untuk dapat berbagi perjuangan mereka mendampingi korban,” ujar Devie yang juga kordinator peminatan humas.

Para narasumber dalam Event Emergency bertajuk Untold Story of Disaster. (foto: ist)

Dalam kesempatan ini, Oka, dari Basarnas menjelaskan bahwa Basarnas memang memiliki tanggung jawab mengatasi kecelakaan hingga bencana yang berdampak pada manusia. “Kami hadir untuk menjaga warga masyarakat tidak terbatas dalam situasi bencana. Mengingat sejarah lahirnya Basarnas berada di bawah Kementerian Perhubungan. Dimana kecelakaaan di darat, laut dan udara, menjadi bagian utama tugas keseharian tim Basarnas,” ujar Oka. Dengan 1107 bencana yang telah terjadi dalam kurun waktu tiga bulan di tahun ini saja, membuat tugas Basarnas juga melingkupi masa tanggap bencana.

Beratnya tugas dan tanggung jawab yang diemban Basarnas, BNPB dan pemerintah, tentu saja tidak akan pernah cukup untuk mengatasi tantangan di lapangan. “Di sinilah peran fotografer, yang mengabadikan berbagai peristiwa di lokasi bencana. Foto tidak hanya mampu menggugah, namun juga berperan mendorong masyarakat bergerak untuk membantu,” tambah Jerry, yang aktif keliling Indonesia untuk memberikan advokasi tentang foto dan kewirausahaan.

Sedangkan Arifin Putra mengingatkan bahwa bencana yang perlu diwaspadai ke depannya, bukan hanya bencana alam seperti Gempa, Tsunami, namun bencana langkanya air bersih. Untuk itu, Arifin, yang menjadi duta WWF, mengajak seluruh peserta untuk bergerak menjaga alam.

“Emergency UI 2019 menghadirkan diskusi talkshow, dengan tagline Here to Hear. Kegiatan ini menghadirkan pembicara yang kompeten dalam bidangnya, dengan kemasan sharing, agar mampu memberikan edukasi mengenai perilaku yang harus diambil ketika terjadi bencana alam. Seab, karena bencana alam adalah salah satu situasi yang sulit untuk diprediksi dan masyarakat harus memiliki pemahaman bagimana cara menanggapi bencana dan tergerak melakukan sesuatu sekecil apa pun dalam penyelesaian masalah bencana alam di Indonesia,” tutup Mawar Sakinah, Ketua Panitia Emergency 2019. (*/rr)

Sekitar 300 peserta antusias mengikuti jalannya acara yang dikemas dalam format sharing. (foto: ist)
Pantiia berfoto bersama narasumber. (foto: ist)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *