Disabilitas Netra Tak Halangi Triyanto Mengajar di MAN 4 Sleman

 Disabilitas Netra Tak Halangi Triyanto Mengajar di MAN 4 Sleman

Direktur GTK Madrasah saat menyematkan ID Card Finalis Anugerah GTK Madrasah 2022 (Foto: Kemenag)

JAYAKARTA NEWS – Namanya Triyanto. Dia adalah guru disabilitas netra pada Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Sleman – Yogyakarta. Keterbatasan fisik tidak menyurutkan  dedikasinya untuk mengemban amanah sebagai ASN, mengajar di MAN 4 Sleman.

Di hadapan para finalis Anugerah Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Tahun 2022, Triyanto menceritakan kegiatan sehari-harinya dalam menjalankan aktifitas sebagai guru.

“Bapak Ibu sekalian mungkin heran mengapa saya harus diantar di tempat ini, karena terang benderangnya ruangan ini tak berarti apa-apa bagi saya.  Karena saya seorang tuna netra sejak usia 7 tahun,” ungkap Triyanto, dikutip dari Laman Kemenag, Jumat (25/11).

“Pastinya banyak suka duka, namun keadaan inilah yang membuat saya bisa berdiri di tempat ini,” sambungnya.

Dari tahun 2009, kata Triyanto, ia mengabdi menjadi guru di SLB selama 10 tahun. Pada tahun 2019, ia ditetapkan menjadi ASN dan ditempatkan di MAN 4 Sleman sebagai guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI).

Jarak dari rumah ke madrasah cukup jauh, sekitar 35 km satu kali jalan. Artinya, jika pergi pulang, jarak yang harus ditempuh mencapai 70 km untuk mengajar. 

Triyanto yakin, dedikasi dan semangat dalam mengajar itulah yang mengantarkan dirinya menjadi finalis Guru Berdedikatif pada Anugerah GTK Madrasah Tahun 2022 tingkat Nasional.

Motivasi Ikut Anugerah GTK

Triyanto mengaku, motivasi dirinya mengikuti Anugerah GTK Madrasah 2022 ialah karena semua manusia memiliki hak dan kemampuan yang sama. Menurutnya, ketika orang lain menyampaikan pendapatnya, menyampaikan apa yang dirasakan,  dirinya juga bisa demikian.

“Yang kedua, saya ingin banyak bergaul dengan guru atau teman-teman dari lain daerah. Dengan silaturahim ini akan menambah wawasan dan memperkaya khazanah pengetahuan saya terutama mengenai adanya perbedaan toleransi dan sebagainya,” ujarnya.

“Pengetahuan dapat kita peroleh dari pergaulan yang luas dengan lapisan masyarakat dan segala macam perbedaan yang ada,” ungkapnya lebih lanjut.

Ketiga, lanjutnya, merupakan usaha membahagiakan orang tua dan anak istrinya. Mereka adalah orang-orang yang telah merawat dengan sepenuh hati, dan menerima dirinya dengan apa adanya, tanpa memandang kekurangan fisik yang ia punya.

Belajar Mengajar

Dalam sehari-hari, Triyanto menceritakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) selalu berjalan dengan baik. Apabila menjumpai siswa siswinya yang baru mengenalnya, ia memperkenalkan dan menyampaikan terlebih dahulu kondisi fisiknya.

“Di awal pertemuan, saya memberikan pemahaman kepada siswa tentang kondisi saya, dan saya meyakinkan serta menyampaikan kepada siswa saya kalau kalian adalah anak yang baik dan akan mengikuti pelajaran saya dengan baik,” bebernya.

Ia juga mengaku dukungan dan motivasi dari para rekan guru dan siswanya turut serta menjadi suplemen dirinya dalam menjalankan tugas negara.

“Saya sangat nyaman dengan keluarga yang sudah terbentuk di MAN 4 Sleman. Apalagi gurunya juga sangat baik dan memahami kekurangan saya. Namun, saya juga mengakui kalau saya mudah beradaptasi di setiap lingkungan, sehingga meyakinkan diri saya sendiri telebih dahulu untuk mendapatkan kenyamanan itu,” pungkasnya.***/mel

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.