Berasal dari Mislu, Kamis Sepuluh

 Berasal dari Mislu, Kamis Sepuluh

Hj. Ummi Kalsum. (foto: melva tobing)

Ummi Kalsum, Pendidik dari Aisyiyah Depok

Waktu Ashar belum lagi tiba. Masih ada hampir satu jam menuju Ashar. Dalam penantian saat bersujud itu, Hj Ummi Kalsum berbincang dengan Jayakarta News di rumahnya di Jalan Ahmad Dahlan, Beji Timur, Depok.

Siang itu, sepi. Hanya satu dua anak perempuan remaja sesekali lalu lalang dari samping rumah menuju luar dalam hening. Di ujung halaman, barulah terlihat mereka bersenda gurau tanpa berisik.

“Mereka, anak yatim. Tinggal di rumah saya ini. Saya bikin tempat di samping ini untuk anak yatim yang perempuan,” ujar Ummi Kalsum sambil mengarahkan tangannya ke samping rumahnya. Masih dalam satu lokasi dengan rumahnya itu.  Bahkan satu dinding. Di rumah ini memang tinggal 10 anak yatim perempuan berbagai usia. “Kalau yang laki-laki  ada 16 orang, mereka di asrama sendiri. Tempatnya tidak jauh dari rumah ini,” ujar Ummi Kulsum lagi.

Kisah mengenai anak yatim yang dimulai suaminya, H Wasir Nuri sejak tahun 2006 hanyalah penggalan singkat dalam perjalanan hidup Ummi Kalsum. Perempuan berusia 80 tahun ini, telah sejak 1964 mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan anak-anak usia dini, melalui organisasi Aisyiyah di Depok.  

Kegiatan Hj. Ummi Kalsum saat memberikan ceramah sebelum Covid 19. (foto: ist)

Sekilas Tentang Aisyiyah

Dikutip dari Wikipedia, Aisyiyah adalah organisasi otonom bagi Wanita Muhammadiyah. Didirikan oleh Nyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 19 Mei 1917.Nyai Ahmad Dahlan atau Siti Walidah adalah tokoh emansipasi perempuan dan istri dari pendiri organisasi Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan yang juga seorang Pahlawan Nasional Indonesia.  

Dua tahun setelah berdiri, Aisyiyah merintis pendidikan dini untuk anak-anak dengan nama FROBEL, yang merupakan Taman Kanan-Kanak pertama kali yang didirikan oleh bangsa Indonesia. Selanjutnya Taman kanak-kanak ini diseragamkan namanya menjadi TK Aisyiyah Bustanul Athfal yang saat ini telah mencapai lebih dari 5.800 TK di seluruh Indonesia.

Sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyiyah kemudian tumbuh dan berkembang ke seluruh penjuru tanah air.Termasuk di dalamnya untuk wilayah Depok. Pendidikan TK Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang berkembang di wilayah Depok adalah hasil kecintaan Ummi Kalsum terhadap dunia pendidikan. 

TK ABA I saat ini di Beji Timur Depok. (foto: ist)

Pendidik dari Aisyiyah Depok

Tahun 1963, adalah tahun titik perubahan hidup bagi Ummi Kalsum. Perempuan kelahiran 20 Desember 1943 ini menikah dan harus mengikuti suaminya yang berasal dari Depok. Bagi Ummi Kalsum muda saat itu, Depok masih merupakan kampung ketimbang tempat asalnya di Bogor. “Pertama pindah ke Depok, kami  tinggal di Kampung Kukusan. Sepi sekali waktu itu. Satu tahun disitu,  kami pindah ke Kampung Serengseng, yang sekarang UI. Sekarang mana bisa dibilang kampung lagi,” Ummi Kalsum menguraikan kisahnya dengan tertawa kecil mengingat masa-masa lampau.  

Tahun 1964, semasa masih di Kukusan,  ia melahirkan anak pertamanya. Di tempat ini, Ummi Kalsum sudah mulai mengajar sejak tahun 1963 di Sekolah Madrasah Wajib Belajar milik Muhammadiyah (setingkat SD). Setelah melahirkan, ia pindah ke Kampung Serengseng. Pindah rumah, pindah pula tempat mengajarnya yaitu di  Madrasah Wajib Belajar,  Serengseng. Ketika mengajar di Serengseng itu, tidak segan-segan ia membawa anaknya. “Saya ngajar musti sambil bawa anak. Saya bawa-bawa ayunan. Anak taro di ayunan, saya ngajar.”   

Baginya, pendidikan anak-anak sangat penting. Karena itu, ketika anak-anaknya mulai memasuki usia TK, ia berpikir untuk mendirikan TK. Anak kedua sampai kelima lahir di Serengseng. “Anak-anak sudah mulai masuk usia TK.  Sedangkan tempat untuk belajar tidak ada. Kasian lihat mereka kalau sampai tidak sekolah. Begitu juga anak-anak warga setempat. Mereka tidak bisa sekolah. Mau sekolah dimana?”

Karena tidak ada tempat untuk anak-anaknya sekolah. Bukan hanya anak-anaknya yang dipikirkan, tetapi juga anak-anak di lingkungannya tinggal. Berbekal rasa terbeban untuk mendidik anak-anak usia dini, Ummi Kalsum pun memulai TK pertamanya, TK Aisyiyah Bustanul Athfal.

TK ini berdiri tahun 1969, dimulai di halaman rumahnya. “Tempat seadanya, di bawah pohon sirsak, dan bangku-bangkunya kami buat dari pohon bambu. Kalau hujan, wali murid sama-sama pindahin bangku-bangku ke tempat yang tidak kena hujan,” katanya lagi sambil tersenyum.

Mengajar anak-anak TK, tentu saja tidak bisa dilakoninya sendiri. Sementara ia sangat serius dalam pendidikan usia dini. “Mau cari guru kemana? Sepi sekali. Nggak ada orang. Jadi saya pikir, saya mau ambil murid SMP saja. Saya mau didik mereka saja.” Kisah Ummi Kalsum mengenai guru-guru TK.

SMP yang dimaksud adalah SMP Muhammadiyah di wilayah itu dan disitu juga suaminya mengajar. “Karena susah mencari guru, sementara Bapak sudah mendirikan SMP Muhammadiyah di situ, jadi saya didik beberapa orang yang pintar-pintar biar bisa jadi guru TK.”

Sehari-harinya, diisi dengan mengajar. Pada pagi hari, pukul 07.30 ia mengajar murid TK dengan dibantu dua murid dari SMP Muhammadiyah. Dilanjut pukul 10.00 mengajar di Madrasah. Sepulang dari Madrasah, ia menyempatkan diri mendidik kedua murid SMP tersebut agar bisa mengajar TK. “Bagi saya yang penting, mereka bisa ngajar ngaji, bisa ngajar nyanyi, itu dulu cukup untuk anak-anak TK.” 

Ia sangat serius dalam pendidikan. Dalam kondisi dan situasi yang serba terbatas, tidak mungkin mencari guru TK yang berpengalaman. Maka, ia juga tidak segan-segan mengirim para murid SMP ini untuk ikut penataran TK di Bandung yang diadakan Aisyiyah Bandung demi memperlengkapi mereka untuk bisa mengajar. “Habis gimana ya, di kampung kan tidak ada sekolah dan tidak ada guru juga. Jadi, setiap enam bulan sekali ada penataran di Bandung  saya kirim mereka biar bisa ikut belajar dan dipersiapkan untuk menjadi guru-guru TK.”     

Dengan kondisi yang serba terbatas, Ummi Kalsum tidak sendiri menjalani TK yang dibangunnya itu. Bersama ibu-ibu yang tergabung dalam Aisyiyah Depok, mereka giat mencari dan membentuk guru-guru untuk mengajar TK. Bukan hanya mengajar, mereka juga memikirkan bagaimana membayar guru-guru TK, menyiapkan seragam para murid dan keberlangsungan sekolah.  

Organisasi Aisyiyah di Depok dibentuk sejak tahun 1954 oleh KH. M. Usman yang juga mendirikan Muhammadiyah di Depok, khususnya di Kukusan.  “Namun, saat itu belum berkembang. Hanya ada di Kukusan, Serengseng dan Pondok Cina. Kegiatannya masih pengajian-pengajian,” ujar Ummi Kalsum mengenai awal organisasi Aisyiyah di Depok.  

Sedangkan Ummi Kalsum aktif di Aisyiyah sejak 1965. Tahun 1969, Ummi Kalsum menjadi ketua Aisyiyah Kecamatan Depok dan Kotif Depok hingga tahun 1990 selama tiga periode. Dan pada tahun 1990 menjadi  Pimpinan Daerah Aisyiyah Kotib Depok hingga 1995. “Saya hanya melanjutkan dan mengembangkan Aisyiyah di Depok. Bukan pendirinya,” ujarnya.

Hj. Ummi Kalsum bersama anak2 panti asuhan. (foto: ist)

Beras Sekotak Korek Api

Salah satu kegiatan yang dilanjutkannya bersama anggota Aisyiyah lainnya adalah Arisan setiap Kamis. Dalam arisan ini, para  anggota Aisyiyah saat itu, termasuk di dalamnya sembilan pengurus, mengumpulkan beras, masing-masing satu kotak korek api. “Kami masing-masing bawa beras sedikitnya satu kotak kecil korek api. Ada juga yang bawa serauk beras. Nah beras itu dikumpulkan bisa menjadi tiga liter lalu kami jual. Uangnya dikumpul sampai satu bulan, kemudian uang itu untuk membayar guru-guru,” kisah Ummi Kalsum. 

Tidak mudah untuk mengumpulkan beras waktu itu. “Karena saat itu beras kan susah. Mau makan nasi saja susah. Kita kalo makan, itu nasi dicampur jagung, dicampur singkong, dicampur bulgur. Jadi, kalo ada yang bisa bawa beras satu kotak korek api saja, itu sudah bagus,” katanya lagi.  

Menjaga TK tetap berjalan, bukan hanya memikirkan gaji para guru. Bahkan untuk seragam para murid TK pun, Ummi Kalsum turun tangan mendidik para murid SMP yang telah lulus agar bisa menjahit. “Murid-murid yang sudah lulus SMP, saya ajar menjahit. Nah, mereka itulah yang membuat seragam para murid. Bahan-bahannya saya beli ke Jatinegara.”

Jiwa mendidik Ummi Kalsum, bukan hanya untuk anak-anak. Tetapi dia juga mengajar para ibu yang belum bisa mengaji. “Saya ajarin dulu yang muda-muda. Setelah itu yang muda inilah yang akan mengajar yang tua-tua,” katanya tertawa. Menurutnya, mengajar yang muda tentu lebih gampang ketimbang mengajar yang tua. “Begitu sistem yang saya terapkan untuk mengajar ibu-ibu mengaji,” katanya.

Tahun 1975, Ummi Kalsum kembali pindah rumah. Kali ini ke Beji Timur, Depok. Di sinilah anak ke-6 lahir dan Ummi Kalsum menetap hingga saat ini. Dalam perjalanan pengabdiannya di dunia pendidikan, hingga tahun 1976 masih dilakukan pengumpulan beras. “Tapi sudah tidak satu kotak korek api lagi. Beras yang dikumpulin itu rata-rata mereka bawa setengah liter. Ada juga yang kasih uang.”

Untuk selanjutnya, kegiatan pengumpulan dana setiap minggu ini, disebut Mislu atau Kamis Sepuluh. Setiap Kamis, Ummi Kalsum bersama anggota Aisyiyah atau rekan-rekan pengajiannya mengumpulkan uang masing-masing sepuluh perak. “Dari yang sepuluh perak itu, kami kumpulkan agar setiap bulannya  untuk guru-guru TK dan keperluan lainnya untuk sekolah. TK berjalan terus dengan bantuan dari ibu-ibu pengajian, walaupun dengan terseok-seok, saya semangatin teman-teman, ayo maju terus.”

Tahun 2006 suaminya membentuk Panti Asuhan yang dinamakan Panti Asuhan Putra/Putri Muhammadiyah Darul Ilmi. Ummi Kalsum pun tentu ikut memberikan pendidikan bagi anak-anak panti asuhan.   

Panti Asuhan yang berada di Beji Timur, Depok. (foto: ist)

Mendidik Anak Panti

Niat membuka panti asuhan diawali kebiasaan keponakannya yang sering menginap di rumahnya. “Dia suka ngajak temennya nginap di sini. Jadi lahir lah pemikian untuk membuka panti asuhan. Dua tahun berjalan ada yang kasih rumah untuk panti asuhan pria.  Dekat rumah ini,” ujar Ummi Kalsum. 

“Dari mulai berdiri sampai sekarang, kami tidak pernah susah menyediakan keperluan anak-anak. Ada saja yang datang,” katanya mengenai kebutuhan panti yang selalu tersedia. Karena itu, setiap tiga bulan, ia akan mengumpulkan anak-anak yatim yang masih ada di luar.

Anak-anak yatim yang dari luar itu, akan disantuni dan diberikan pelajaran. “Mereka kami ajari agar tetap bersikap baik jika mereka harus bekerja di jalan.” Bukan hanya anak-anak yatim, wali mereka pun diajak untuk bergabung. “Ibu yang sudah tidak punya suami atau para bapak yang sudah tidak punya istri. Mereka juga kami berikan pelajaran agar menghargai anak-anaknya. Agar anak-anaknya tidak disuruh ngamen di jalan,” tandas Ummi Kalsum.

Anak-anak  yatim yang diasuh, memang tidak hanya yang tinggal di asrama, tetapi ada juga yang di luar. “Mereka tinggal di rumah masing-masing,” ujarnya. Mereka itulah yang dikumpulkannya setiap tiga bulan sekali bersama dengan para anak panti asuhan yang di asrama. “Mereka semua sudah seperti anak saya sendiri. Jika ada masalah, mereka tidak sungkan datang kesini. Kalau ada pengajian pun mereka datang kesini ikut ngaji,” ujarnya. 

Anak-anak panti asuhan ini dari berbagai usia, dari TK hingga SMA. “Sudah banyak yang keluar dan mandiri. Ada juga yang PNS. Mereka yang sudah mandiri,  juga ikut membantu panti asuhan ini. Ada yang mengajar dan memberikan pelatihan-pelatihan.”

Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Darul Ilmi. (foto: ist)

Operasi Kanker  

Tahun 2015, Ummi Kalsum dinyatakan kena kanker payudara sebelah kiri. Wanita yang gigih mendidik ini, tidak gentar dengan penyakitnya sekalipun dinyatakan sudah memasuki stadium dua. Ia tidak mau menunda lama menahan rasa sakit. Kepada dokter dia minta langsung dioperasi sebagaimana saran dokter. Sekalipun sebetulnya dokter takut untuk mengoperasinya.

“Dokternya saja sampai heran. Menurut dia, saya berani banget sudah tua begini, tidak takut untuk dioperasi. Buat apa saya takut. Saya masih mau lihat cucu-cucu saya berhasil, makanya saya mau sembuh. Pasrah saja,” ujar nenek dari 27 cucu ini.  

Semangat dan keberaniannya itu, membuat Ummi Kalsum sampai saat ini masih tegar dan tegak berdiri walaupun diakuinya kakinya sudah mulai terasa lemah. Bahkan berbincang dengan Jayakarta News dalam dua kali pertemuan, tidak pernah terlihat lemah. Ia selalu bersemangat. “Saya memang kalau jalan sudah tidak kuat. Tetapi saya kan masih bisa ngomong, artinya mulut masih bisa digunakan. Tangan masih bisa dipakai. Karena itu, saya  masih bisa memberikan latihan-latihan ke anak-anak di sini,” ujarnya semangat.

Ummi Kalsum, adalah cerminan wanita yang selalu semangat untuk mendidik anak-anak. Tidak mau kalah dengan kondisi dan keadaan yang penuh tantangan. TK yang semula didirikannya pada tahun 1969 di halaman rumahnya, di bawah pohon sirsak. Kini telah berkembang menjadi 23 TK Aisyiyah Bustanul Athfal tersebar di wilayah Depok. Murid yang semula berjumlah 17 anak usia dini yang ia didik sendiri, kini telah menjadi lebih dari seribu anak didik TK Aisyiyah Bustanul Athfal tentu dengan guru-guru yang mumpuni. 

Mengakhiri perjumpaan kedua dengannya, Ummi Kalsum berujar, “Bagi saya mendidik itu sepanjang masa. Ajarilah ilmu pengetahuan anakmu dari baru lahir sampai ke liang lahat.” (melva tobing)  

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *