Azwar AN “Turun Gunung”

 Azwar AN “Turun Gunung”

Azwar AN (ketiga dari kanan) bersama anggota Teater Alam. Dari kiri: Eddy Geblenk,Meritz Hindra, Roso Daras, Gola Bustaman, Gde Mahesa. (foto: erna azmita AN)

Jayakarta News – Kembalinya maestro teater Indonesia, Azwar AN menyutradarai Oedipus Rex, Sabtu, 11 Januari 2020 pukul 19.30 di Taman Budaya Yogyakarta, adalah satu catatan sejarah tersendiri. Yang pasti, ia melampaui pencapaian rekan sekaligus gurunya, Rendra. Setidaknya dari sisi kesempatan berkiprah di dunia teater.

Rendra yang kelahiran Solo tahun 1935, wafat tahun 2009 dalam usia 74 tahun. Setelah pementasan “Panembahan Reso” tahun 1996, Rendra praktis tidak begitu aktif berteater. Bengkel Teater yang sudah diboyong dari Yogya ke Depok, Jawa Barat, juga tidak terlalu produktif.

Akan tetapi, bicara Oedipus Rex tidak mungkin lepas dari sosok “Si Burung Merak”. Selain sebagai penerjemah, bersama Bengkel Teater (yang ketika itu masih bermarkas di Yogyakarta), Rendra setidaknya dua kali mementaskan Oedipus di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Pertama tahun 1962, dalam latar belakang dan warna pementasan yang kental aroma Yunani Kuno. Tujuh tahun kemudian, 1969, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra bersama Bengkel Teater kembali memainkan Oedipus Rex yang disempurnakan.

Para pengamat menulis, pementasan Oedipus oleh Bengkel Teater tahun 1969 sebagai penyempurnaan bentuk pementasan sebelumnya. Tahun 1969, Rendra makin berani bereksperimen. Saat itu, ia banyak memasukkan unsur gerak tari Bali.

Sebagai anggota Bengkel Teater, tentu saja Azwar AN terlibat dalam pementasan tersebut. Tak heran, jika Azwar begitu lekat dengan lakon Oedipus. Bisa jadi, pilihan naskah Oedipus, didedikasikan bagi penghargaan terhadap Rendra, senior sekaligus sahabatnya.

Pentas Oedipus Rex oleh Teater Alam, bakal dilangsungkan 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta mulai pukul 19.30 WIB. Pementasan ini menandai 48 tahun usia Teater Alam.

Jika Anda penyaksi sejarah perjalanan Teater Alam, maka Anda berkesempatan membandingkan dengan pentas Oedipus dua dasawarsa lalu (terakhir memainkan Trilogi Sophocles tahun 1989). Jika Anda belum lahir –atau masik kecil—dua puluh tahun lalu, maka beruntung, bisa menyaksikan sebuah naskah klasik yang dimainkan oleh salah satu kelompok teater tertua di Yogyakarta.

Selain disutradari sendiri oleh Azwar AN, pementasan ini juga didukung para aktor kawakan Teater Alam, seperti Tertib Soeratmo, Meritz Hindra (yang merangkap sebagai Asisten Sutradara), Gege Hang Andhika, Jemek Supardi, Anastasia SH, dan lain-lain.

Sinopsis

Lakon “Oedipus Sang Raja” adalah lakon tragedi-romantik yang mengisahkan perjalanan hidup Oedipus dalam mengalami kejayaan dan keruntuhannya.

Pada saat itu Thebes dilanda huru-hara. Wabah, kelaparan, serta kemandulan menyerang negeri itu. Rakyat menderita. Dalam penderitaannya itu rakyat mengalami kegoncangan-kegoncangan batin juga kepercayaannya terhadap raja Oedipus. Tiada kepastian dalam diri rakyat.

Konon kesengsaraan yang menimpa kerajaan Thebes adalah akibat kemurkaan dewa karena pembunuh raja Laius belum dihukum. Semua orang termasuk Oedipus meraba-raba dan mencari siapakah sebenarnya pembunuh Raja Laius.

Dalam keadaan demikian datanglah pendeta Teirisias. Sekali lagi Pendeta Teirisias memperingatkan Oedipus akan ramalan-ramalan yang sudah dijatuhkan dewa-dewa kepadanya. Oedipus berang, dan menuduh Pendeta Teresias telah membuat ramalan-ramalan palsu yang tak berdasar, atas kehendak dari Creon, putra mahkota kerajaan Thebes, saudara putri Yocasta.

Pertentangan-pertentangan di dalam istana makin memuncak. Creon yang dituduh hendak merebut singgasana kerajaan telah diusir oleh Oedipus dari istana, tetapi telah dibela oleh Yocasta.

Suasana semakin memuncak, orang terus mencari-cari siapakah sesungguhnya pembunuh raja Laius. Dan pada saat itu, Oedipus mulai mengalami kegoncangan-kegoncangan batin. Teringatlah ia akan ramalan-ramalan Dewa Apollo yang dijatuhkan terhadap dirinya, bahwa ia kelak akan mengawini ibu kandungnya dan membunuh ayahnya sendiri.

Teringat pulalah ia bagaimana ia berusaha menghindarkan diri dari segala ramalan dewa mengenai dirinya, dengan jalan meninggalkan kerajaan Korinthe.

Pada akhir cerita diketahuinyalah seluruh rahasia, yang menyelubungi selama ini. Dialah sesungguhnya yang telah membunuh Raja Laius, ayahnya sendiri, yaitu orangtua yang dijumpainya dalam perjalanan melarikan diri dari Korinthe. Oedipus sendirilah yang mengawini ibu kandungnya yaitu Ratu Yocasta, janda dari orangtua yang dibunuhnya dalam perjalanan.

Adapun Oedipus sendiri sesungguhnya anak laki-laki yang telah dibuang oleh Yocasta ke kaki gunung Kitahron, tetapi ditemukan dan dipelihara oleh seorang gembala yang kasihan melihat bayi tak berdosa itu. Bayi itu kemudian diberikannya keada seorang gembala lain di Korinthe yang menjadi abdi raja Laius yang kemudian diakuinya sebagai anak sendiri oleh Sang Raja.

Setelah rahasia terbuka, tahulah Yocasta bahwa Oedipus adalah anaknya sendiri. Yocasta kemudian mengakhiri hidupnya dengan tangannya sendiri. Oedipus membuat dirinya menjadi buta dengan menusukkan jarum berkali-kali ke kedua belah matanya, takut dan ngeri melihat akibat dari ramalan yang menimpa dirinya. Creon kemudian datang, bukan untuk membalaskan dendam kepada Oedipus, tetapi minta agar Oedipus tetap tinggal di istana. Tetapi Oedipus menghendaki agar dirinya dibuang. Sebelum pergi Oedipus memohon satu permintaan kepada Creon yang kemudian diluluskan, yaitu bertemu anaknya, hasil perkawinan dengan ibu kandungnya, Yocasta. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *