Connect with us

Feature

Jemèk Kawanku

Published

on

SENO GUMIRA AJIDARMA

_________________________________________

© 1976 PANG WARMAN

Catatan menyambut 1000 hari
meninggalnya Jemèk Supardi (1953-2022)

__________________________________________

© 1975 PANG WARMAN

Memang seperti bayang-bayang baur dari album tua: duduk di bawah, saya (kedua dari kiri), bersama Gatinyo (di kanan saya, entah di mana dia sekarang), Deded Er Murad (di kiri saya, almarhum) dan di ujung kiri saya Meritz Hindra. Berdiri berbaju putih adalah Azwar AN, almarhum, pemimpin Teater Alam, dan di sebelahnya, merokok, adalah almarhum Jemèk Supardi—saat itu pun di katalog pementasan manapun, namanya sudah Jemèk Supardi.

Namun pada 1975, ketika Pang Warman memotret kami semua, Jemèk bukanlah legenda sebagaimana sering disebut dan dituliskan—dan sebagai bukan legenda itulah saya lebih suka mengenal dan mengenangnya.

Foto itu mengembalikan suasana, ketika sejumlah orang dipertemukan kesamaan semangat dan keyakinan, bahwa berkesenian adalah cara hidup terbaik, paling baik, bagaikan tiada lagi yang lebih baik—dan karenanya dalam situasi seperti apapun, gagal maupun tak gagal, tidak ada yang perlu sampai kepada penyesalan.

Sesadar itukah Jemèk? Sejauh saya mengenalnya, Jemèk adalah jenis manusia yang hidup sepenuhnya dengan naluri. Dengan nalurinya itulah dia hidup, mengembangkan diri tanpa konsep apapun, tanpa terlalu peduli indah tak-indah, baik-buruk, hitam-putih, benar-salah. Bagaikan berada “di luar kebudayaan”—meski yang “di luar” inilah yang menghela kebudayaan ke depan.

Satu-satunya konsep yang selalu diucapkannya dengan bahasa terbatas adalah, “Saya ini belajar, belajar, saya tidak tahu kesenian, jadi saya belajar.” Saat itu, di Kampung Sawojajar, tempat Teater Alam berada, saya, 17 tahun, dan Jemèk, 22 tahun, sama-sama belajar.

Siapakah Jemèk? Saya katakan, saya mengenalnya bukan sebagai legenda, tetapi sejak belia ia sudah melegenda sebagai Pardi Kamprèt yang bertelanjang dada dan berkalung katapel.

Legenda kecepatan menyambar buah dalam kegelapan, yang diterapkan di kuburan Belanda dan terminal bis ini, dan pernah membuatnya digelandang massa sepanjang jalan, sesekali disampaikannya dalam pergaulan kami.

Cara menceritakannya sambil lalu di antara berbagai kegiatan kami, seingat saya selalu dalam senyuman dan nada geli. Jadi legenda Jemèk Supardi tidak berlaku bagi saya, tapi kalau legenda Pardi Kamprèt iya—dan sungguh suatu legendalah itu, seperti pernah saya tuliskan sebagian, dalam katalog pertunjukan menyambut ulang tahun Jemèk ke-50.

Jemèk dalam fotografi Pang Warman,
untuk membuat ilustrasi pada katalog pementasan.

(© 1976 PANG WARMAN)

Namun menyambut 1000 hari meninggalnya Jemèk, saya ingin mengingat yang lain. Itulah kenangan ketika pada suatu hari telepon-genggam saya berbunyi, dan seseorang menelepon dari Yogya.

“Mas, kami mau bikin antologi puisi, dan kami meminta Jemèk Supardi ikut menulis puisi di buku itu.”

“Baguslah,” kata saya.

“Tapi kami diminta menyampaikan pesan.”

“Pesan apa?”

“Kami diminta menyampaikan pertanyaan Jemèk, apakah dia boleh menulis puisi.”

“Hah? Apa?”

“Ya, apakah dia boleh menulis puisi?”

Tentu saya katakan boleh. Namun karena saya bukan “godfather” puisi, terpikir mengapa Jemèk harus bertanya kepada saya, apakah dirinya layak menulis puisi.

Saya berhasil menghindari kesimpulan, bahwa Jemèk mengira saya sangat mengerti puisi, alih-alih, Jemèk menganggap saya sangat mengerti dirinya.

Saya kira terlalu lama saya mendapat kesimpulan itu. Kami sudah terpisah terlalu lama, dan bagaimana Jemèk memandang saya sangatlah menyentuh. Mungkin keterlaluan bahwa kesadaran saya datang terlambat.

Beberapa kali dalam berbagai acara di Yogya, Jemèk memang selalu muncul. Seingat saya makin lama makin eksentrik dan merdeka, dan saya menyukainya.

Saya selalu teringat satu peristiwa dalam suatu diskusi lèsèhan di Yogya. Seorang penanya dengan retorika-teatrikal berusaha memojokkan saya, yang di mana pun biasa kadang-kadang terjadi. Jadi bagi saya itu biasa—tapi tidak bagi Jemèk.

Jemèk, yang dalam diskusi apapun selalu berada “di luar diskusi”, entah ngobrol sendiri atau merokok di luar, mendengar nada tinggi yang “non-intelektual” itu, langsung berdiri. Ia segera masuk ruangan, untuk melihat siapa yang berbicara keras—roman mukanya jelas terganggu, dan tampak siap untuk “melakukan sesuatu”.

Saya teringat kembali adegan itu, setelah menerima telepon yang menyampaikan pesan perkara layak tidaknya Jemek menulis puisi. Seperti menggarisbawahi kedekatan yang tidak selalu tersadari.

***

Maka perjumpaan terakhir saya dengan Jemèk di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mungkin setahun atau dua tahun sebelum pandemi 2020, menjadi perjumpaan yang sama sekali bukan kebetulan.

Jemèk ke TIM mencari saya. Ya, sengaja mencari saya, tapi tidak pergi ke belakang, ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ), tempat saya terikat oleh suatu tugas.

Ia datang begitu saja ke TIM, langsung ke kios buku Jose Rizal Manua di pojok bawah pohon, dan tetap berada di sana, karena katanya Jose berkata, “Nanti pasti lewat.”

Memang benar saya lewat, dari belakang ke tempat parkir mobil, karena harus pergi ke tempat lain.

Saya baru mau masuk mobil ketika Jemèk datang berkelebat—dan saya begitu terpesona dengan penampilannya yang penuh percaya diri. Rambut panjang, sangat panjang, terpilin rapi dengan pengikat warna-warni, berpadu T-shirt dan celana jean—tetapi matanya! Mata itu berkaca-kaca …

“Saya hanya mau menemuimu,” katanya, tentu dalam bahasa Jawa.

Kami mengobrol sebentar, saya bahkan memotretnya (sayang belum saya dapatkan kembali). Saya berusaha tidak terpengaruh oleh matanya yang berkaca-kaca, dalam arti saya mengingkari perasaan saya sendiri.

Lantas kami berpisah.

Baru kemudian, setelah saya sadari betapa saya tidak akan pernah bertemu Jemèk lagi, saya merasa bahwa saat itu sebetulnya Jemèk berpamitan—dan untuk selamanya saya merasa kehilangan …

“Pulang ke Uttara”, Yogya,

Selasa, 20 Mei 2025. 19:25.

Kami berdua dalam katalog “Sandiwara”,
produksi Bukan Teater Alam,
Sonobudoyo, Yogyakarta, 11 Agustus 1976.

(© 1976 PANG WARMAN)
Nama Jemèk dalam publikasi “Sandiwara”, 1976,
sebelum kelak menjadi legenda.
Versi utuh katalog “Sandiwara”
(© 1976 PANG WARMAN)
Jemèk Supardi.
(© 2018 Bambang Wartoyo)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement