“Terdampar” di Museum Kalbar

 “Terdampar” di Museum Kalbar
Museum Kalimantan Barat. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Mengunjungi museum itu keren…. Bertolak dari keyakinan “anti-mainstream” itulah, aku menerobos terik langit Pontianak untuk mengunjungi Museum Provinsi Kalimantan Barat. Jarak yang tak lebih dari 300 meter dari penginapan, adalah jarak ideal untuk ditempuh dengan jalan kaki.

Faktor terik matahari sama sekali tidak masuk kalkulasi. Apa yang terjadi? Belum lagi 100 langkah kaki kuayun, tubuh serasa terbakar. Rambut kepala tanpa topi, kupegang nyaris mendidih rasanya. Pilihan kostum yang keliru, kaos warna hitam, menyempurnakan siksa matahari siang hari. Kupegang kaos, hangat sudah.

Sekali tekad terpancang, pantang tuk berbalik badan. Jadilah aku terus melangkah. Terik matahari baru terasa bersahabat ketika aku bayangkan betapa manusia kutub merindukan sinar matahari yang satu ini. Tak urung, langkah kaki pun aku percepat. Sedikit terengah-engah, tidak apalah.

Apa lacur… tiba di lobby museum, suasana sepi. Hanya sepinya kuburan saja yang mampu mengalahkannya. Di loket, tidak satu petugas pun berjaga. Di dinding kaca, tertulis retribusi masuk sebesar Rp 2.000 untuk siswa TK, SD, hingga SMA. Sedangkan tiket pengunjung umum, Rp 3.000, dan turis asing atau peneliti, Rp 10.000.

Ketuk-ketuk kaca tak berjawab. Teriak permisi ke empat penjuru angin, tak juga ada yang menyahut. Sempat berpikir, apakah salah hari? Tidak. Museum hanya tutup hari Senin. Sedangkan aku berkunjung hari Jumat. Jamnya juga bukan jam ibadah sholat Jumat, sebab masih jam 10.00-an. Lantas, menghilang ke mana gerangan para pegawai museum?

Tidak adanya petugas museum, membuat kunjungan ini serasa bukan kunjungan. Ini lebih pas kalau disebut terdampar. Sambil berjalan-jalan keliling lobby dan halaman museum, membayangkan aktor Tom Hanks saat terdampar di pulau tak berpenghuni dalam film Cast Away (th 2000).

Bangunan megah dua lantai itu, tak berhasil kujelajah. Buat sekadar obat kecewa, aku nikmati saja miniatur-miniatur rumah adat, dan beberapa replika yang ada di halaman tengah museum. Meski tanpa panduan, keterangan yang tertempel di dekat miniatur dan replika, cukup menjelaskan objek apa gerangan. Sayang memang, beberapa foto tidak tajam karena efek back light, di samping penempatan objek di dalam ruang kaca.

Miniatur Istana Qadriyah Pontianak. (foto: roso daras)

Istana Qadriyah Pontianak

Istana Qadriyah terletak di Kampung Dalam Bugis, Kota Pontianak, tepatnya di daerah persimpangan sungai Landak, sungai Kapuas Kecil, dan sungai Kapuas. Istana ini dibangun pertama kali tahun 1771 M oleh sultan Syarief Abdurrachman Alkdri, Sultan Pertama Pontianak. Sejak berdirinya, istana ini telah beberapa kali mengalami perubahan, dan yang ada sekarang adalah peninggalan Sultan Syarief Muhammad Alkadri tahun 1923 M.

Konstruksi bangunannhya menggunakan struktur rangka kayu belian berarsitektur tradisional Indonesia, yakni beratap tumpang tiga dipadukan dengan arsitektur Eropa, Arab, dan Cina. Bagian atap atas bentuk genta bermahkota, bagian depan atas dibuat balkon atau anjungan. Istana ini terdiri atas 5 ruang pokok, yaitu anjungan, balairung, kantor dan ruang kerja Sultan, ruang singgasana, dan kamar tidur sultan dan keluarga.

Miniatur Keraton Saunan Ketapang. (foto: roso daras)

Keraton Saunan Ketapang

Keraton Gusti Muhammad Saunan, terletak di Jl. P. Kesuma Jaya, Kelurahan Mulya, Kabupaten Ketapang dengan posisi menghadap ke sungai Pawan. Istana ini dibangun oleh Pangeran Mas yang kemudian menjadi Panembahan Gusti Muhammad Saunan, lalu dirombak pada tahun 1924.

Konstruksi bangunannya menggunakan struktur rangka kayu belian bercat kuning, berdiri di atas tiang-tiang kayu. Bentuk persegi panjang, teras dipagar kayu, begitupun di balkon. Dinding dari papan kayu belian, berjendela susun sirih, beratap sirap, lesplang bagian atas terdapat mahkota berukiran krawang stilirisasi naga. Sisi kiri depan terdapat bangunan menara menyatu dengan bangunan induk. Sekeliling halaman dipagar beton.

Miniatur Keraton Amantubillah di Mempawah. (foto: roso daras)

Keraton Mempawah

Keraton Amantubillah terletak di Kelurahan Pulau Pedalaman, Kecamatan Mempawah Timur, Kabupaten Pontianak. Keraton ini dibangun tahun 1761 M oleh Panembahan Adiwijaya Kesuma Jaya. Konstruksi bangunannya menggunakan struktur rangka kayu belian berarsitektur rumah tradisional Melayu. Cat warna hijau, sehingga keraton ini sering disebut Puri Hijau.

Bangunan utama diapit dua bangunan pengiring pada sisi kanan dan kiri. Dahulu bangunan utama merupakan tempat singgasana raja, permaisuri, dan tempat tinggal keluarga raja. Bangunan di sisi kanan berfungsi sebagai tempat mempersiapkan keperluan dan tempat jamuan makan keluarga istana, sedang bangunan di sisi kiri sebagai tempat aula dan segala urusan administrasi pemerintahan.

Pada masa sekarang, bangunan utama digunakan sebagai tempat penyimpanan peninggalan Kerajaan Mempawah seperti singgasana raja, foto-foto raja dan keluarga, keris, busana kebesaran, payung kerajaan, dan lain-lain. Bangunan di sisi kanan berfungsi sebagai pendopo, sedang bangunan di sisi kiri sebagai tempat tinggal para kerabat kerajaan Mempawah.

Istana Sambas

Istana Alwatzikubillah terletak di Desa Dalam Kaum, tepatnya di pertemuan sungai Sambas, sungai Sambas Kecil, dan sungai Teberau di sebidang tanah yang disebut Muare Ullakan. Pertama kali dibangun oleh Raden Bima dengan gelar Sultan Tajuddin sekitar abad ke-17. Istana yang sekarang dibangun pada masa Sultan ke-9, yakni Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (15 Januari 1933). Konstruksi bangunannya menggunakan struktur rangka kayu belian, berbentuk segi delapan. Di atas pintu menuju ruang utama terdapat lambang 2 ekor kuda laut (burung laut) mengapit angka 9, di bawah bertuliskan Alwatzikhoebillah yang artinya “Bertakwalah kepada Allah”.

Miniatur Keraton Ismahayana atau Keraton Landak. (foto: roso daras)

Keraton Landak

Keraton Ismahayana terletak di Jalan Pangeran Sanca Nata, Kota Ngabang, Kabupaten Landak, sekitar 50 km sebelah barang sungai Pinyuh. Keraton ini dibangun sekitar abad ke 18 – 19 M, pada masa pemerintahan Pangeran Sanca Nata Kusuma Muda, dan mengalami renovasi akibat kebakaran sekitar tahun 1930 M. Sebelumnya keraton dibangun di Mungguk oleh Raja Ismahayana dengan gelar Abhiseka Dipati Karang Tanjung Tua (1472 – 1542) yang beragama Hindu, setelah memeluk Islam berganti nama menjadi Abdul Kahar.

Konstruksi bangunannya menggunakan struktur rangka kayu belian, berbentuk empat persegi panjang, berdiri di atas riang-tiang setinggi sekitar 1 meter, menghadap ke timur. Lantai dan dinding terbuat dari kayu, atap bangunan berbentuk pelana dari sirap. Kompleks keraton terdiri atas bangunan induk (keraton) dan rumah tinggal keluarga raja dan masjid jami’. Bangunan induk memiliki ruang-ruang yaitu teras depan, ruang tamu, ruang keluarga I, ruang makan, kamar-kamar, kodiror, ruang keluarga II, dan dapur. Lingkungan keraton dipagar.

Miniatur Keraton Al-Mukarramah atau Keraton Sintang. (foto: roso daras)

Keraton Sintang

Keraton Al-Mukarramah terletak di Jl. Dara Juanti, tepatnya di daerah pertemuan sungai Melawi dan sungai Kapuas (Kampung Kapuas Kiri Hilir, sekarang). Keraton didirikan sekitar abad ke-13 (sekitar 1262 M) oleh Demong Irawan, bergelar Jubair Irawan I, keturunan kesembilan Aji Melayu. Pada masa kerajaan Sintang Hindu, istana ini dibangun berarsitektur rumah panjang. Setelah menganut Islam terutama pad masa pemerintahan Raden Abdul Bachri Danu Perdana, dibangunlah istana yang baru pada tahun 1937 dengan nama Istana Al-Mukarramah.

Konstruksi bangunannya menggunakan arsitektur rangka kayu belian, tetapi pondasi tiang bersepatu beton, atap sirap diperkuat plafon dari semen asbes, dan dinding berlapis semen. Bangunan utama istana, terdiri atas serambi depan, ruang tamu, ruang pribadi Sultan, dan serambi belakang.

Bangunan utama istana diapit dua bangunan pengiring, yakni bangunan pengiring di sisi barat sebagai ruang istirahat dan ruang keluarga Sultan, dan di sisi timur sebagai ruang tidur tamu Sultan. Hingga saat ini Keraton Al-Mukarramah digunakan sebagai kediaman Sultan Pangeran Ratu Sri Negara H.R.M. Ikhsan Perdana yang dinobatkan pada 22 Juli 2006. Saat ini bangunan pengiring di sisi barat kediaman Sultan, digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda peninggalan kerajaan Sintang, dan bangunan pengiring di sisi timur, selain sebagai tempat penyimpanan foto dan lukisan raja-raja Sintang, juga dimanfaatkan sebagai ruang kelas Taman Kanak-kanak (TK) Dara Juanti.

Miniatur rumah limas. (foto: roso daras)

Rumah Limas

Tipologi rumah limas berbentuk empat persegi panjang. Konstruksi bangunannya menggunakan struktur rangka kayu. Bidang atap pada induknya berupa dua bidang segi tiga sama kaki, dan dua bidang bentuk trapesium, bersambung dengan serambi pada dua sisinya yang berbentuk bidang segi empat. Dinding dari susunan papan vertikal, lantai papan disusun rapat dan datar. Bagian ruangan terdiri atas: teras, ruang terbuka, ruang dalam, ruang tidur anak laki-laki, ruang pengantin, ruang tidur anak gadis, ruang atas (loteng) yang disebut parak, ruang tengah, dan ruang dapur (paling belakang di luar rumah induk).

Miniatur rumah Betang. (foto: roso daras)

Rumah Betang

Rumah Betang merupakan bangunan dengan garis-garis geometris sederhana, lugas dengan irama bangunan berbentuk barisan kolom-kolom berjajar menggunakan pola grid, teratur dan terarah dengan struktur bangunan tinggi. Konstruksi bangunan menggunakan struktur rangka kayu, dinding dan lantai dari papan disusun rapat, kecuali lantai pante dari kayu bulat disusun agak jarang. Atap dari sirap dan ada juga dari daun rumbia dan seng. Atap rumah ini berbentuk pelana berpola linear simetris. Bagian ruangan terdiri atas teras (pante), serambi (sami), ruang inti (bilik), dan ruang daput.

Di area halaman tengah kompleks Museum Sumatera Barat, Pontianak juga terdapat sejumlah replika benda dan bangunan. Berikut sejumlah replika:

Contoh perahu tambe’. (foto: roso daras)

Perahu Tambe’

Orang Pontianak menyebutnya Paruu Tambe’. Bentuknya terdiri atas dua buah sampah yang dirangkai menjadi satu. Ia merupakan alat transportasi masyarakat suku Dayak Taman, Kapuas Hulu. Paruu Tambe’ digunakan pada upacara adat seperti penjemputan tamu, mengantar pengantin maupun aktivitas lain.

Perahu ini memiliki kelengkapan: bendera panjang aneka warna, bendera pendek aneka warna, bendera merah-putih, hiasan kayu (ginggiling), kitiran kayu (gigirik), janur artifisial, dan daun ribu-ribu artifisial.

Miniatur rumah Lanting, rumahnya para nelayan. (foto: roso daras)

Rumah Lanting

Rumah lanting adalah tempat tinggal suku bangsa Melayu yang bermata pencaharian pokok sebagai nelayan. Rumah dibangun di atas sungai. Pada bagian bawah rumah diberi kayu bulat dan di salah satu sisi rumah diikatkan tali untuk menahan rumah agar tidak terbawa arus. Jenis rumah ini umumnya terdapat di Kabupaten Sambas, Sanggau, Sekadau, Sintang, dan Kapuas Hulu.

Contoh bangunan lumbung atau dango. (foto: roso daras)

Lumbung atau Dango

Sama seperti di kebanyakan daerah, maka suku-suku di Kalimantan Barat juga mengenal bangunan lumbung, atau yang mereka sebut dango. Lumbung digunakan untuk menyimpan hasil panen berupa padi kering. Sebelum masuk dango, pemilik akan menyisihkan beberapa bagian untuk keperluan rutin. Setelah musim panen, masyarakat melakukan upacara ritual naik dango sebagai rasa syukur kepada “Jubata” atau Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen yang melimpah. Upacara naik dango dilakukan secara turun-temurun.

Pancar atau gapura adat. (foto: roso daras)

Pancar

Gerbang memasuki suatu kampung disebut Pancar. Ia juga merupakan simbol penjaga kampung yang terdapat di daerah Darit, Kabupaten Landak. Dua buah tiang atau tiang pancar diukir dengan motif manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang melambangkan penghuni alam semesta.

Miniatur perahu Lancang Kuning kebanggaan Kesultanan Pontianak. (foto: roso daras)

Perahu Lancang Kuning

Perahu lancang kuning merupakan perahu kebesaran Kesultanan Pontianak yang digunakan oleh Sultan dan keluarganya pada acara resmi kesultanan. Miniatur perahu lancang kuning terbuat dari kayu mabang, dicat warna kuning dan bagian bibir berles suluran warna hijau. Perahu ini memiliki 14 dayung dan satu kemudi bagian belakang. Di tengah perahu dibuat geladak (ruang) berdinding kaca. Ruangan ini pada perahu lancang kuning asli, digunakan sebagai lambang kesultanan Pontianak. Begitupun di dinding haluan terdapat lambang bulan bintang.

Tungku pembakaran keramik atau tungku naga. (foto: roso daras)

Tungku Naga

Tungku pembakaran keramik tradisional ini disebut tungku naga. Pabrik keramik pertama di Kalimantan Barat didirikan tahun 1933 yaitu di Desa Sedau Singkawang. Menurut penelitian para ahli, tungku pembakaran keramik tradisional seperti ini adalah salah satu yang tersisa di Asia Tenggara. Saat sekarang selain yang ditemukan di Filipina, benda-benda keramik hasil produksi Desa Sedau dikenal dengan keramik Singkawang.

Patung burung enggang, yang menjadi maskot Provinsi Kalimantan Barat. (foto: roso daras)

Burung Enggang

Maskot Kalimantan Barat adalah burung Enggang Gading. Logo maskot ini banyak ditemukan sebagai hiasan di berbagai bangunan di Kalimantan Barat, seperti pada tugu, gapura, gedung, rumah, ataupun pada umbul-umbul. Logo tersebut juga umum ditemukan pada kerajinan tangan khas Kalbar yang banyak dibeli wisatawan sebagai cendera mata.

Enggang gading ditetapkan sebagai maskot Kalbar setelah melalui perdebatan panjang di DPRD Kalbar pada tahun 1988. Enggang gading kala itu harus bersaing ketat dengan ikan arwana merah dan burung ruai. Enggang gading dan tengkawang tungkul pun akhirnya ditetapkan dan disahkan dengan SK Mendagri No. 4 Tahun 1989. Ironisnya, tidak banyak yang mengenal bagaimana rupa dan wujud burung enggang gading. Selain hidup di pedalaman, burung itu termasuk yang sangat-sangat langka.

Jangkar kuno. (foto: roso daras)

Jangkar

Di salah satu sudut halaman juga terdapat jangkar kapal ukuran besar. Dalam keterangan tertulis, jangkar tersebut adalah jangkar salah satu kapal Armada Dagang Kapal Asing abad ke-16. Jangkar besi itu memiliki panjang 450 Cm, lebar 300 Cm, dan berat sekitar 2.500 kg. Jangkar ditemukan di pesisir Pantai Pemangkat, Kabupaten Sambas tahun 1983.

Itulah sekelumit laporan sekilas mata memandang, di Museum Provinsi Kalimantan Barat, yang terletak di Jl. Ahmad Yani. (roso daras)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *