Teater Alam dalam Kemasan Trilogi Buku

 Teater Alam dalam Kemasan Trilogi Buku
Azwar AN saat masih berakting, beberapa tahun lalu. (foto: dok Teater Alam)

Mencatatkan sejarah, tidak akan cukup hanya dalam satu kemasan buku. Terlebih, sejarah dari sebuah kelompok teater tertua di Yogyakarta dengan tokoh pendirinya Azwar AN. Karenanya, menyongsong ulang tahun ke-47, 4 Januari 2019, Teater Alam bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta akan membukukan Azwar AN dan Teater Alam dalam format trilogi buku (tiga buku dalam satu kemasan).

Buku ke-1 akan memotret sosok Azwar AN. Ia mendirikan Teater Alam 4 Januari 1972, setelah beberapa hari sebelumnya, tepatnya akhir tahun 1971 berselisih pendapat hebat dengan WS Rendra, jelang pementasan Bengkel Teater. Hebatnya, kedua sahabat itu, Rendra dan Azwar tetap saling respek satu sama lain. Rendra begitu sayang Azwar, sampai-sampai menuliskan naskah khusus “Dunia Azwar”.

Sebaliknya, Azwar begitu memuja Rendra. Seperti dalam peringatan tujuh hari wafatnya Rendra beberapa tahun lalu, spontanitas ia mengajak beberapa anak didiknya untuk memainkan mini kata Bip Bop karya Rendra. Ia bertelanjang dada bersama pemain mini kata lain, dan menyemarakkan acara peringatan tujuh hari kepergian Rendra. Masih banyak kisah Azwar AN yang sangat menarik, yang tertuang dalam buku ke-1.

Memperingati tujuh hari meninggalnya Rendra beberapa tahun lalu, Azwar AN spontan mengajak beberapa anggota Teater Alam memainkan drama mini kata Bip Bop karya Rendra. (foto: dok Teater Alam)

Buku ke-2 tentang Sejarah Teater Alam (Teater Alam di Panggung Zaman). Sejak didirikan tahun 1972, kelompok teater yang awalnya bermarkas di Jl Sawojajar 25 Yogyakarta itu, telah melahirkan banyak manusia sukses. Sukses di bidang keaktoran, maupun sukses di bidang-bidang yang lain. Siapa sangka, Azwar AN harus berjuang cukup lama untuk menghadapi kritik tak kunjung usai. Kritik yang awalnya menyebutkan bahwa Azwar (dan Teater Alam) belum bisa lepas dari gaya Bengkel Teater Rendra.

Azwar tak habisi pikir. Bagaimana ia dikritik sebagai pengikut gaya Rendra, sementara ia dan Rendra bersama-sama mendirikan Bengkel Teater? Tapi teaterawan gaek yang kini sudah berusia lebih 80 tahun itu, tidak pernah memusingkan kritik dan pendapat orang. Suatu hari ia mengatakan, “Tugas seniman adalah berkarya. Setelah karya dipersembahkan ke audiens, ya sudah. Diterima atau tidak, itu hak audiens. Tugas seniman, terus berkarya.” Buku ini juga menyajikan sisi-sisi lain seorang Azwar yang belum banyak diketahui masyarakat.

Adapun buku ketiga adalah’’Testimoni tentang Azwar AN dan Teater Alam’’. Di sini, mewadahi puluhan testimoni terpilih, baik dari para tokoh di luar Teater Alam, maupun dari para anggota Teater Alam. Baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Sahabat Azwar seperti Ashadi Siregar, Idham Samawi, Sitoresmi Prabuningrat, Jose Rizal Manua, Butet Kertarejasa dan lain-lain menulis untuk buku ke-3.

Sedangkan pemberi kesaksian lain adalah para anggota Teater Alam. Kesaksian mereka begitu warna-warni. Ada yang terkesan karena empat bulan pertama masuk sanggar hanya disuruh menyapu lantai, menyiram tanaman, dan berbicara dengan bunga-bunga. Ada yang terkesan dengan tipikal Azwar yang kalau sedang latihan begitu meledak-ledak. Tidak hanya makian, terkadang sandal jepit ikut melayang. Masih banyak kesan-kesa menarik yang mereka tuturkan.

Satu hal yang menjadi benang merah dari kesemuanya adalah, bahwa akhirnya muncul satu kesadaran, nyantrik di Teater Alam ternyata tidak hanya belajar akting, tidak hanya belajar tentang teater, tetapi belajar tentang hakikat kehidupan. Bahkana ada satu penulis yang mengatakan, “Teater Alam adalah Universitas Kehidupan”.

Buku ditulis oleh tim yang berjumlah belasan orang, terdiri atas para penulis, pewawancara, periset naskah, hingga petugas transkrip. Beberapa nama penulis antara lain Bambang J Prasetya, Daru Maheldaswara, Gde Mahesa, Wahyana Giri, Nur Iswantara, Bambang Wartoyo, Odi S, Latief, dll. Sedangkan yang bertindak sebagai kurator naskah sekaligus penyunting adalah Roso Daras dan Yudiaryani.

Roso Daras adalah jurnalis yang kemudian menekuni dunia penulisan dan penerbitan buku. Daras adalah anggota Teater Alam angkatan tahun 80-an. Sedangkan, Yudiaryani, saat ini adalah guru besar teater sekaligus Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Yudi bergabung dengan Teater Alam tahun 1988. (rr)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *