JAYAKARTA NEWS – Rendra, yang dijuluki sebagai Burung Merak, selain dikenal sebagai penyair, juga seorang aktor, penulis naskah teater dan sutradara teater. Ia mempunyai kelompok teater yang dikenal dengan nama Bengkel Teater. Rendra telah meninggal bulan Agustus 2009, tetapi puisi-puisinya terus dibacakan oleh generasi berbeda-beda.
Kapan Rendra membaca puisi, orang dengan segera akan terpikat. Bahkan bukan hanya terpikat, malah seperti tersihir. Penampilannya dalam membaca puisi penuh pesona, dan setiap dia tampil mmembaca puisi, panggung selalu penuh. Padahal untuk masuk harus membeli tiket, yang tidak murah. Namun orang berbondong-bondong memenuhi panggung.
Agus Istianto
Kali ini, Sastra Bulan Purnama edisi spesial akan diselenggarakan 19 November 2022, pkl. 15.00 di Tembi Rumah budaya, Jl. Parangtritis Km 8,4, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, akan diisi pembacaan puisi-puisi Rendra. Sanggarbambu, yang sudah berusia 63 tahun, mengenang Rendra dengan membacakan puisi karyanya. Para pembaca adalah aktor teater, penyair, perupa, yang sudah lama bersentuhan dengan Sanggarbambu.
Mereka adalah Gentong Hariono, aktor teater dan penyair, Nasirun, perupa, Agus Istianto, aktor teater dan penulis, Eko Winardi, Aktor teater dan penulis, Ana Ratri Wahyuni, pemain teater, Kumbo, aktor teater, Teguh Eswe, perupa, Untung Basuki, aktor teater dan pelantun lagu puisi, Ocong Suroso, perupa, Liek Suyanto, aktor teater, Ami Simatupang, aktris teater.
Gentong Hariono, salah seorang inisiator acara dan anggota Sanggarbambu menyebutkan, memilih Rendra untuk dikenang, karena Rendra adalah keluarga Sanggarbambu. Pada pentas Oidipus Sang Raja pada tahun 1962 Rendra bersama study grup drama dibantu Sanggarbambu, yang bertindak sebagai produser.
“Bahkan perancang disain artistik panggung dan grafis para perupa Sanggarbambu, ialah Danarto dan Handogo,” ujar Gentong Hariono.
Selain pada edisi spesial ini, demikian Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menjelaskan, pada edisi lain, 16 oktober 2019 lalu sebelum ada pandemi covid 19, anak-anak Rendra, membacakan puisi karya bapaknya. Bahkan cucu Rendra anak dari dari Tedy putra sulung Rendra, ikut tampil membacakan puisi karya eyang kakungnya.
Eko Winardi
“Belum pernah anak-anak Rendra, dari Sunarti Suwandi dan Sitoresmi, tampil membacakan puisi2 karya ayahnya, dan Sastra Bulan Purnama memberi ruang untuk mereka”, kata Ons Untoro.
Untung Basuki, selain dikenal sebagai anggota Bengkel Teater pimpinan Rendra, ia juga anggota Sanggarbambu. Ia dikenal juga sebagai pelantun lagu puisi, dan sudah menciptakan sejumlah lagu puisi yang seringkali dipentaskan, sejak tahun 1970-an. Dalam acara mengenang Rendra, Untung Basuki, selain membacakan puisi karya Rendra, ia juga akan melantunkan lagu puisi. Ada beberapa puisi karya Rendra, yang sudah lama dibuat menjadi lagu, dan sering dipentaskan dibanyak tempat oleh Untung Basuki.
Rendra memiliki sikap kritis terhadap kekuasaan. Karya2nya, terutama naskah drama, selalu penuh kritik terhadap kekuasaan, sehingga semasa rezim orde baru, Rendra seringkali dilarang pentas.
Sejak tahun 1950-an, puisi2 karya Rendra sudah dikenal luas, beberapa judul puisi yang dikenal, dari sejumlah puisi yang sudah ditulis dan diterbitkan menjadi buku ialah ‘Kotbah Di Atas Bukit’. ‘Blues Untuk Bonie’ dan sejumlah judul puisi lainnya. (pr)
Atas nama penghargaan terhadap pementasan drama “Panembahan Reso” karya Rendra di Ciputra Artpreneur, Jakarta nanti malam (25/1/2020), saya menguak kembali catatan ini. Sebuah catatan usang yang tetap duduk manis di relung kenangan.
Syahdan, sejak tahun 1977 sastrawan
Rendra dicekal pemerintahan Orde Baru karena puisi-puisi, dan karya-karya
tulisnya yang pedas. Bahkan, naskah-naskah drama karya Rendra dengan Bengkel
Teater-nya termasuk yang kena cegah-tangkal (cekal). Untuk sekian lama, nama
Rendra seperti terkubur.
Agustus 1986, seperti bangkit dari kubur,
Rendra lepas dari belenggu cekal dan tampil
dengan Bengkel Teaternya. Sekian lama setelah repertoar itu, baru terkuak berita,
bahwa pemunculan Rendra, berkat lobi-lobi intens orang-orang di sekitar Cendana
(sebutan yang mengarah ke pusat kekuasaan di Jalan Cendana, kediaman Presiden
Soeharto, ketika itu).
Kabar besar cepat tersiar. Berita
tampil-kembalinya Rendra dengan Bengkel Teater, plus mementaskan karya drama
terbaru berjudul Panembahan Reso,
menyeruak juga ke ruang redaksi Jawa Pos di
Jl Kembang Jepun, Surabaya. “Wajib nonton,” gumam saya, menyuarakan hasrat jiwa
yang bergelora.
Betapa tidak merasa “wajib nonton”. Sebelum
hijrah ke Surabaya, saya aktif di Teater Alam Yogyakarta, pimpinan Azwar AN. Di sanggar ini,
bercokol teman-teman Rendra semasa Bengkel Teater masih bermarkas di
Yogyakarta. Selain Azwar, ada mas Moorti Poernomo, Bambang Isworo, Gege Hang
Andika, Mas Tertib Soeratmo,
dan lain-lain. Dus… saya ini langsung-tak-langsung tergolong “trah” Bengkel
Teater, juga.
Permohonan meliput Panembahan Reso di Jakarta pun saya ajukan, meski pengajuannya
setengah pasrah. Saya sadar, di Jawa Pos
Biro Jakarta sudah ada rekan Syahran, yang terbiasa meliput seni-budaya. Apa boleh buat, latar belakang
sebagai orang teater pun kalah
oleh pertimbangan efisiensi.
Jadilah jawaban dari kantor, “Tidak perlu, sudah ada Syahran di Jakarta.”
Masygul benar hati ini.
Jika membuka catatan pada tanggal 26 dan
27 Agustus 1986, saya pastikan tidak ada satu pun tulisan saya di Jawa Pos. Galau, bahasa kekiniannya.
Yang saya lakukan adalah curhat ke kiri-kanan atas kemalangan saya, gagal menyaksikan Rendra.
Tiba pada satu sosok yang memberi reaksi di luar dugaan. “Lhooo… awakmu kudu budal….” Dialah
yang akhirnya memberangkatkan saya ke Jakarta.
Pementasan drama Panembahan Reso
berlangsung dua hari, tanggal 28 dan 29 Agustus 1986. Saya berangkat tanggal 29
Agustus 1986. Sampai Jakarta, sekitar pukul 17.00 WIB. Dengan bekal koin, saya menelepon Jawa Pos Biro Jakarta. Syahran-lah
yang saya cari. Dengan alasan demi efisiensi waktu, kami pun sepakat jumpa di
Istora Senayan, Jakarta, tempat berlangsungnya pementasan Panembahan Reso.
Di
Istora Syahran
menyerahkan ID-Card ke saya. Dia menonton
tanggal 28, dan saya tanggal 29-nya. Dengan ID-Card, tentu lebih leluasa melakukan
peliputan. Saya
duduk di lantai depan sebelah kanan panggung. Drama terpanjang di Indonesia
itu, berlangsung 6,5 jam. Itu artinya, baru sekitar pukul 01.30 pementasan
selesai. Hampir-hampir saya larut dalam adegan per adegan yang disajikan
aktor-aktris Bengkel Teater.
Perlu diketahui bahwa meskipun berlangsung
6,5 jam, pementasan Panembahan Reso
mampu menyedot sekitar tujuh ribu penonton dan hanya seperempatnya saja yang
tidak menonton sampai cerita berakhir. Naskah drama setebal 242 halaman ini
terdiri atas 43 bagian (adegan). Setiap bagian (adegan) diberi judul secara
berbeda, tidak sama antara satu dan yang lain. Benar-benar drama terpanjang,
paling tidak di Indonesia.
Panembahan Reso berlatarkan sebuah
kerajaan yang rapuh. Di kerajaan itu seorang Raja Tua bertahan memerintah
hingga usia 85 tahun dengan kekuasaan mutlaknya. Ia bahkan tidak mempersiapkan
penggantinya sehingga muncul kelompok-kelompok kekuatan di kalangan para
pangeran, senapati, maupun panji.
Di tengah situasi kacau seperti itu,
melalui serangkaian intrik politik: penghasutan, penipuan, persekongkolan, dan
bahkan percintaan, Panji Reso (sebelum menjadi Panembahan Reso) menerobos
liku-liku kekuasaan yang rapuh itu. Berkat kelicikan, keuletan, dan
kepiawiannya dalam berstrategi, ia berhasil mengelabui banyak orang sehingga
situasi kacau itu dapat dimanfaatkan sebagai ladang perburuannya.
Terhadap Pangeran Gada dan Pangeran Dodot,
misalnya, Panji Reso berhasil mengelabui mereka (berpura-pura sepaham) dengan
janji akan menyusul kedua pangeran itu, ikut bergabung dengan Panji Tumbal
melakukan pemberontakan. Namun, janji tersebut tidak pernah dipenuhi. Sebaliknya, ulah kedua
pangeran itu justru dilaporkan kepada Raja Tua melalui Ratu Dara. Dengan cara itu, dua
keuntungan sekaligus diperoleh Panji Reso: mendapat kepercayaan raja dan mengurangi
jumlah pesaingnya menggapai tahta.
Kelicikan Panji Reso terus berlanjut.
Terhadap Raja Tua pun ia berpura-pura taat dan setia. Padahal, ia telah
bersekongkol dengan Ratu Dara (salah satu selir Raja Tua) untuk menggulingkannya.
Dengan bantuan Asasin (pembunuh bayaran) akhirnya mereka berhasil membunuh Raja
Tua. Kedudukan raja digantikan Pangeran Rebo, putra Raja Tua dari Ratu Dara.
Sementara itu, agar persekongkolan tetap lestari, Panji Reso mengawini Ratu
Dara. Sejak saat itu pula Panji Reso diangkat jadi penasihat raja dan bergelar Panembahan Reso.
Pentas Panembahan Reso, Bengkel Teater 1986 di Istora Senayan Jakarta. (foto: genPi.co)
Rupanya, ketamakan dan kerakusan terus
merasuki otak Panji Reso dan Ratu Dara. Mereka tidak menyetujui rencana Raja
Muda (Pangeran Rebo) untuk memanggil pulang Pangeran Bindi dan Pangeran Kembar
yang sudah berhasil menumpas pemberontakan Panji Tumbal. Karena keinginannya
tidak dipenuhi, akhirnya Ratu Dara pun tega membunuh Raja Muda, anak semata
wayangnya itu.
Anehnya, perbuatan keji tersebut
disampaikan kepada seluruh punggawa kerajaan di Balai Istana sehingga membuat
Panji Sekti marah. Tanpa berpikir panjang, Panji Sekti menghunus keris dan
menghunjamkannya ke jantung Ratu Dara. Isteri Panji Reso itu pun meninggal
dunia.
Kematian Ratu Dara ternyata tidak membuat
Panji Reso bersedih. Ia justru merasa beruntung atas tindakan Panji Sekti
karena hal itu berarti sudah tidak ada lagi penghalang baginya untuk menduduki
tahta kerajaan. Keinginan Panji Reso pun segera terwujud. Oleh para punggawa
kerajaan ia dinobatkan sebagai raja. Namun sayang, tiba-tiba Ratu Kenari
datang. Selir Raja Tua, yang oleh Panembahan Reso dan Panji Sekti telah dianggap
gila itu, tiba-tiba menikam Panji Reso dengan kerisnya.
Persoalan utama yang disuguhkan Panembahan
Reso adalah perihal perebutan kekuasaan (suksesi). Persoalan itu oleh Rendra
diolah dan disajikan dalam bentuk intrik-intrik melalui kelicikan tokoh-tokoh
Panembahan Reso yang memanfaatkan kesempatan untuk kepentingan diri
masing-masing. Mereka (tokoh-tokoh itu) tidak segan-segan melakukan penipuan,
pengkhianatan, dan bahkan pembunuhan demi kepentingannya. Mereka hanya
memikirkan bagaimana memperoleh kedudukan (kekuasaan) yang lebih tinggi, dengan
segala cara.
Syahdan, pentas pun usai. Penonton bubar.
Wartawan di kiri-kanan pun sudah hengkang. Lantas, apa beda tulisan saya kalau
tidak ada pendalaman? Ketika penonton beringsut meninggalkan Istora, saya
bergeser ke belakang panggung. Tidak ada penjagaan keamanan yang ketat. Dengan
ID-Card yang menggantung di leher, saya leluasa mewawancarai tokoh-totok utama
yang patut diwawancarai.
Sekelebat tampak Sunarti Suwandi, istri
Rendra pertama. Rumah Sunarti di Yogya, tak jauh dari sanggar Teater Alam, di
Jl Sawojajar. “Mbak Narti…,” saya sapa dia. Dia pun menoleh. “Salam dari Bang
Azwar AN,” saya membuka alasan untuk bisa lebih dekat. Password Azwar AN benar-benar manjur.
Sunarti menjadi sosok penting malam itu.
Sebab, dialah koodinator
pengiring musik
pentatonis-diatonis yang menyempurnakan keseluruhan repertoar Panembahan Reso.
Darinya, bukan saja konsep musik yang didapat, tetapi juga keseluruhan proses
persiapan sebelum pementasan, dan manajemen pertunjukan secara umum.
Malam dinihari itu, aktor Adi Kurdi tak kalah
bersemangat menceritakan pementasan yang baru saja dilakoninya. Terakhir, tentu
saja Rendra. Sejenak, ia minta izin sebelum wawancara, untuk melakukan ritual
doa bersama pasca pementasan. Saya pun ikut dalam lingkaran aktor-aktris,
pemain musik, dan para kru pertunjukan.
Dan… kerja panjang malam itu terbayar
tuntas, demi melihat hasil reportase Panembahan
Reso menjadi laporan utama dan menempati
hampir satu halaman penuh wajah depan Jawa
Pos edisi Minggu, 31 Agustus 1986.
Gladi resik “Panembahan Reso” 2020 di Ciputra Artpreneur, Jakarta. (foto: roso daras)
Panembahan Reso 2020
Menyaksikan gladi resik “Panembahan
Reso” tadi malam, saya harus membunuh nafsu “membandingkan”, antara Panembahan
Reso 1986 dan Panembahan Reso 2020. Jeda 34 tahun antarkedua pementasan itu, adalah
jeda yang cukup panjang.
Panembahan Reso 1986 telah
menempatkan posisi repertoar pada level sangat tinggi, yang sangat sulit
didekati, disamai, apalagi dilebihi, oleh kelompok teater mana pun. Dus,
Panembahan Reso 2020 memang bukan untuk disandingkan.
Beruntung, sutradara
Hanindawan menggarapnya secara berbeda. Drama dengan kekuatan dialog, dikemas
dalam kolaborasi sederhana teater, musik, dan tari. Tak pelak, Panembahan Reso
pun menjadi pertunjukan yang lebih “segar”.
Aspek koreografi digarap dengan baik dalam Panembahan Reso 2020. (foto: roso daras)
Itukah wujud pesan yang hendak
disampaikan Auri Jaya, sang Produser Eksekutif pertunjukan ini? Ia
membandingkan teater dengan media massa, khususnya cetak. Keduanya sama-sama
berpontensi ditinggalkan peminatnya. Sama-sama terancam eksistensinya.
Auri Jaya, alumni Jawa Pos yang masih aktif bergiat di
bidang media ini meyakini, teater –juga media— akan bertahan jika adaptif
terhadap perkembangan zaman. Totalitas bekerja serta pengelolaan manajemen yang
profesional, adalah salah-satu kunci kelangsungan teater.
Memasuki jagad millenial
dengan sajian teater, tentu bukan perkara mudah. Alhasil, tampilnya
aktor-aktris papan atas yang banyak dikenal seperti Whani Darmawan (Panji Reso)
dan Sha Ine Febriyanto (Ratu Dara), memudahkan divisi markom melesakkan konsep
pertunjukan teater ini ke generasi muda.
Ditambah, profesionalisme
panitia mengemas pertunjukan melalui optimalisasi media partner, membuat 1.157
kursi yang tersedia di Ciputra Artpreneur dipastikan bakal terisi penuh. Berapa
pun jumlah tiket yang dijual, faktanya sudah sold out beberapa hari sebelum pementasan. Luar biasa.
Jayakarta News – Setelah 34 tahun (pertama pentas di Istora Senayan Jakarta, 26 dan 27 Agustus 1986), Panembahan Reso karya WS Rendra akan dipentaskan kembali 25 dan 26 Januari 2020 di Teater Ciputra Artpreneur, Jakarta. Yang terlibat dalam pergelaran ini adalah gabungan seniman teater, tari, musik yang berasal dari Solo, Yogyakarta, dan Jakarta.
‘Panembahan Reso’ adalah kritik budaya WS Rendra terhadap
praktik-praktik kekuasaan rezim Orde Baru yang represif terhadap masyarakat.
Menonton drama yang ditulis 34 tahun silam, masih ada relevansinya dengan yang
terjadi saat ini.
Drama kekuasaan yang merefleksikan permainan atau intrik
yang sangat tajam. Di suatu pemerintahan, perebutan kekuasaan diraih dengan
cara-cara licik dan penuh darah. Suksesi dicapai dengan mengorbankan anak
isteri, saudara, dan sahabat dekat.
Sejatinya, drama ini adalah epos yang merefleksikan betapa
hasrat membabi buta terhadap kekuasaan selalu menimbulkan aspek-aspek
delusional terhadap seorang pemimpin dan pengikutnya. “Panembahan Reso
mampu membedah secara dalam watak dan psikologi seorang pemimpin yang telah kehilangan
kontrol terhadap akal sehat dan terseret ke ilusi-ilusi pribadi,” ujar
sutradara Hanindrawan.
Sha Ine Febriyanti dan Ken Zuraida.
Namun, berdasar kesepakatan sutradara, pemain, penyelenggara
dan Ken Zuraida (isteri ke 3 Rendra), akhirnya drama berdurasi 7 jam ini
dipangkas menjadi 3 jam. “Namun, dialog-dialog inti tidak kita hilangkan.
Naskah sepanjang 46 halaman ini kita edit menjadi 30 halaman,” urai
Hanindawan.
Kekuatan musik dalam format semi orkestra yang didukung oleh
15 pemusik, akan menghadirkan dinamika komposisi yang bertolak dari musik-musik
etnis nusantara. Demikian pula dengan koreografi tari kontemporer yang juga
akan dibawakan oleh 20 penari. Panggung akan dilengkapi dengan multimedia yang
jadi faktor utama dalam pergelaran ini.
Beberapa adegan akan diperkuat dengan siluet dan unsur-unsur
animasi, ditambah unsur cahaya yang sangat penting. Diproduseri oleh Auri Jaya,
Imran Hasibuan dan Seno Joko Suyono, dan astrada oleh Sosiawan Leak, pergelaran
drama ini produksi bersama GenPi.co, BWCF Society, Ken Zuraida Project dan
venue partner disupport oleh Ciputra Artpreneur.
Beberapa pemain utama diantaranya Sha Ine Febriyanti, Whani
Darmawan, Ucie Sucita, Sruti Respati, Ruth Marini, Maryam Supraba (puteri
Rendra dan Ken Zuraida), Gigok Anugoro, Jamaludin Latif dan Dimas Danang Suryonegoro.
(pik)
Azwar AN saat masih berakting, beberapa tahun lalu. (foto: dok Teater Alam)
Mencatatkan sejarah, tidak akan cukup hanya dalam satu kemasan buku. Terlebih, sejarah dari sebuah kelompok teater tertua di Yogyakarta dengan tokoh pendirinya Azwar AN. Karenanya, menyongsong ulang tahun ke-47, 4 Januari 2019, Teater Alam bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi DI Yogyakarta akan membukukan Azwar AN dan Teater Alam dalam format trilogi buku (tiga buku dalam satu kemasan).
Buku ke-1 akan memotret sosok Azwar AN. Ia mendirikan Teater Alam 4 Januari 1972, setelah beberapa hari sebelumnya, tepatnya akhir tahun 1971 berselisih pendapat hebat dengan WS Rendra, jelang pementasan Bengkel Teater. Hebatnya, kedua sahabat itu, Rendra dan Azwar tetap saling respek satu sama lain. Rendra begitu sayang Azwar, sampai-sampai menuliskan naskah khusus “Dunia Azwar”.
Sebaliknya, Azwar begitu memuja Rendra. Seperti dalam peringatan tujuh hari wafatnya Rendra beberapa tahun lalu, spontanitas ia mengajak beberapa anak didiknya untuk memainkan mini kata Bip Bop karya Rendra. Ia bertelanjang dada bersama pemain mini kata lain, dan menyemarakkan acara peringatan tujuh hari kepergian Rendra. Masih banyak kisah Azwar AN yang sangat menarik, yang tertuang dalam buku ke-1.
Memperingati tujuh hari meninggalnya Rendra beberapa tahun lalu, Azwar AN spontan mengajak beberapa anggota Teater Alam memainkan drama mini kata Bip Bop karya Rendra. (foto: dok Teater Alam)
Buku ke-2 tentang Sejarah Teater Alam (Teater Alam di Panggung Zaman). Sejak didirikan tahun 1972, kelompok teater yang awalnya bermarkas di Jl Sawojajar 25 Yogyakarta itu, telah melahirkan banyak manusia sukses. Sukses di bidang keaktoran, maupun sukses di bidang-bidang yang lain. Siapa sangka, Azwar AN harus berjuang cukup lama untuk menghadapi kritik tak kunjung usai. Kritik yang awalnya menyebutkan bahwa Azwar (dan Teater Alam) belum bisa lepas dari gaya Bengkel Teater Rendra.
Azwar tak habisi pikir. Bagaimana ia dikritik sebagai pengikut gaya Rendra, sementara ia dan Rendra bersama-sama mendirikan Bengkel Teater? Tapi teaterawan gaek yang kini sudah berusia lebih 80 tahun itu, tidak pernah memusingkan kritik dan pendapat orang. Suatu hari ia mengatakan, “Tugas seniman adalah berkarya. Setelah karya dipersembahkan ke audiens, ya sudah. Diterima atau tidak, itu hak audiens. Tugas seniman, terus berkarya.” Buku ini juga menyajikan sisi-sisi lain seorang Azwar yang belum banyak diketahui masyarakat.
Adapun buku ketiga adalah’’Testimoni tentang Azwar AN dan Teater Alam’’. Di sini, mewadahi puluhan testimoni terpilih, baik dari para tokoh di luar Teater Alam, maupun dari para anggota Teater Alam. Baik yang masih aktif maupun yang sudah tidak aktif. Sahabat Azwar seperti Ashadi Siregar, Idham Samawi, Sitoresmi Prabuningrat, Jose Rizal Manua, Butet Kertarejasa dan lain-lain menulis untuk buku ke-3.
Sedangkan pemberi kesaksian lain adalah para anggota Teater Alam. Kesaksian mereka begitu warna-warni. Ada yang terkesan karena empat bulan pertama masuk sanggar hanya disuruh menyapu lantai, menyiram tanaman, dan berbicara dengan bunga-bunga. Ada yang terkesan dengan tipikal Azwar yang kalau sedang latihan begitu meledak-ledak. Tidak hanya makian, terkadang sandal jepit ikut melayang. Masih banyak kesan-kesa menarik yang mereka tuturkan.
Satu hal yang menjadi benang merah dari kesemuanya adalah, bahwa akhirnya muncul satu kesadaran, nyantrik di Teater Alam ternyata tidak hanya belajar akting, tidak hanya belajar tentang teater, tetapi belajar tentang hakikat kehidupan. Bahkana ada satu penulis yang mengatakan, “Teater Alam adalah Universitas Kehidupan”.
Buku ditulis oleh tim yang berjumlah belasan orang, terdiri atas para penulis, pewawancara, periset naskah, hingga petugas transkrip. Beberapa nama penulis antara lain Bambang J Prasetya, Daru Maheldaswara, Gde Mahesa, Wahyana Giri, Nur Iswantara, Bambang Wartoyo, Odi S, Latief, dll. Sedangkan yang bertindak sebagai kurator naskah sekaligus penyunting adalah Roso Daras dan Yudiaryani.
Roso Daras adalah jurnalis yang kemudian menekuni dunia penulisan dan penerbitan buku. Daras adalah anggota Teater Alam angkatan tahun 80-an. Sedangkan, Yudiaryani, saat ini adalah guru besar teater sekaligus Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta. Yudi bergabung dengan Teater Alam tahun 1988. (rr)