Selasa Wagen, Spirit Baru Wisata Yogya

 Selasa Wagen, Spirit Baru Wisata Yogya
Photo booth “Selasa Wagen” di pelataran Minumen Serangan Umum 1 Maret, Yogyakarta. (foto: nina)

Di Malioboro Yogya ada Selasa Wagen

Di tengah jalanan

Tak ada lalu lintas kendaraan

Hanya bus Trans Jogja melaju pelan

PKL pun diliburkan

Andong dan becak bebas berkeliaran

Orang-orang berskuter angin atau sepedaan

Berburu spot untuk foto-fotoan

Duduk di kursi-kursi taman

Berbincang riang bersama keluarga dan kawan-kawan

Rupa-rupa panggung hiburan

Digelar merata dari utara sampai selatan

Berkerumun orang menikmati  pertunjukkan

Bergoyang kaki di arena flasmob-an

Menari seirama musik jathilan

Tegur sapa dan senyuman

Berletupan dipertukarkan

Orang-orang yang berdatangan

Seperti sudah lama saling berkenalan

Di Malioboro Yogya ada Selasa Wagen

Tempat yang lapang, indah dan nyaman

Ruang ekspresi kebudayaan

Ajang rupa-rupa komunitas ketemuan

Wisata asyik pedestrian

 Mendulang kenangan tak terlupakan

***

Raut wajah Ester, Shinta dan Daniel memancarkan rona gembira. Kakak beradik ini datang ke acara Selasa Wagen (27/8) di Malioboro Yogyakarta berbusana Jawa model kebaya dan surjan. Mereka mengendarai trikebike (modifikasi sepeda menjadi mirip becak Medan) dari tempat kediaman di Berbah, Sleman, menempuh jarak lebih dari 10 kilometer. “Awalnya kami akan mengarak pengantin tapi gagal karena ibu mempelai tak mengizinkan. Senang sekali bisa berbusana Jawa dan foto-fotoan di tengah jalanan Malioboro,” tutur Ester dengan wajah berbinar.

Tiga bersaudara: Ester, Daniel Dan Shinta jadi pusat perhatian wisatawan. (foto: nina)

Pesona trikebike berhiaskan sebuket bunga segar di bagian depannya ini membetot perhatian pedestrian. Kepada orang-orang yang mendekat, Ester bersaudara menawarkan untuk berfoto atau mempersilakan menikmati pesona sepeda roda tiga yang pernah memenangkan kontes custom festival tahun 2014 ini. Hormat, santun dan penuh senyuman sikap kakak beradik ini  layaknya sedang berbicara dengan kerabat yang lebih tua di sebuah pesta. Ester, Daniel dan Shinta seperti mewakili warga Yogya yang ramah, akrab, dan berbudaya.

Ningrum (51) warga Depok, Jawa Barat tampak melenggang tanpa teman. Penuh percaya diri ia bergaya di depan kamera hapenya. Tatkala menginginkan sudut pengambilan gambar yang jauh, ia tak ragu memohon pertolongan siapa saja yang sedang melintas di dekatnya untuk memotret dirinya. Aktivitas jeprat-jepret itu ia lakukan sepanjang jalan dari pelataran Pasar Beringharjo hingga Titik Nol. “Sendirian saya ke sini, tetapi serasa ketemu banyak saudara,” tuturnya.

Para pedestrian lain menumpahkan euforia di Selasa Wagen dengan cara masing-masing. Seorang pria atletis berkostum ketat terlihat mengangkat sepeda tinggi-tinggi, seperti sang juara dengan piala kebanggaannya. Ibu dan seorang putrinya, membawa dua ekor anjing Pom berbaju mini menyusuri Malioboro. Ibu-ibu berkebaya tak canggung-canggung bergaya di tengah jalanan, ala model profesional. Orang-orang seliweran menggowes sepeda, skuter angin, skateboard, naik becak, atau berkerumun di seputaran panggung-panggung pentas seni yang tersebar merata sepanjang dua kilometer. Mereka menikmati alunan musik, gerakan tari atau liukan naga raksasa di udara dalam pertunjukkan barongsai. Wisatawan mancanegara merekam aksi pemain di atas panggung dengan mata seakan tak berkedip.

Kiri: Pesepeda mengangkat sepedanya di tengah jalan. Kanan: Ningrum, turis lokal asal Depok, Jawa Barat. Sendiri ke Jogja hanya untuk menikmati Selasa wagen. (foto: nina/ist)
Komunitas alumni SMA Ygya bersatu memenuhi pelataran flash mob. Kanan: Wuri, dari komunitas alumni SMA Yogya. (foto: nina)

Rupa-rupa komunitas tak melewatkan momen Selasa Wagen. Towil dari komunitas Pojok (Paguyupan Pit Onthel Jogjakarta) hadir bersama kawan-kawannya mengendarai sepeda kuno yang terawat kinclong. Komunitas sepeda Tallbike-yk menarik perhatian pedestrian lantaran mengendarai sepeda model tinggi, bahkan setinggi dua kali tubuh manusia. Komunitas alumni SMA Yogya bersatu memenuhi pelataran flash mob. “Rombongan kami bagi dua, separuh berkostum merah putih mengikuti line dance di Titik Nol, yang lain berada di depan kantor DPRD mengikuti acara flash mob berkebaya,” kata Wuri dengan rona bahagia.

Euforia Selasa Wagen melekat pada setiap pedestrian. Tak ingin melewatkan waktu tanpa kenangan yang menggembirakan. Saking asyiknya, bus Trans Jogja yang melaju di belakangnya sampai tak terdeteksi. Untunglah, sesama pedestrian memiliki kepedulian untuk saling mengingatkan.      

Dr Ing Greg Wuryanto, M Arch

Dr Ing Greg Wuryanto, M Arch, Ketua Jogja Creative Society yang juga Dosen Arsitektur Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogya, mengatakan Malioboro sebagai ruang bebas ekspresi dalam Selasa Wagen harus menyediakan aturan ketertiban bagi semua pengunjung. “Masih terlihat beberapa pesepeda, pemain sepatu roda atau skateboard  menggunakan jalur pedestrian. Ini bahaya bagi pejalan kaki,” katanya. Menurut pemerhati ruang publik ini, bus Trans Jogja semestinya dibuatkan jalur alternatif di luar Malioboro  pada saat Selasa Wagen. Wuryanto menegaskan, Selasa Wagen adalah aset wisata budaya potensial yang berdaya tarik kuat mendatangkan wisatawan. Semua faktor risiko harus diminimalkan atau diantisipasi sedini mungkin.

***

Acara Selasa Wagen Malioboro Yogyakarta tidak muncul tiba-tiba. Ia melewati jalan panjang dalam kerangka besar revitalisasi Malioboro. Dalam proses menggiatkan kembali Jalan Margo Utomo di tengah kota Yogyakarta ini, banyak pe-er yang mesti diselesaikan. Kondisi fisik dibangun, ditata, dipercantik. Jalur pedestrian dilebarkan, kursi-kursi kayu panjang disediakan, bollard (bola-bola beton pembatas jalan dan trotoar untuk menghalau kendaraan agar tak menyerobot jalur pedestrian) dibaris-bariskan, pohon asam dan gayam sebagai perindang ditancap-tancapkan.

Selasa Wage 26 September 2017 adalah momentum penting pada tahapan revitalisasi Malioboro selanjutnya. Untuk pertama kalinya Malioboro bebas dari pedagang kaki lima (PKL). Selasa Wage dipilih atas dasar hari ‘neptu Ngarsa Dalem’ atau hari lahir Sri Sultan Hamengku Buwono X menurut penanggalan Jawa. Para pelaku ekonomi jalanan Malioboro tak lantas leha-leha seharian. Bersama jajaran Pemerintah Kota Yogyakarta dan semua warga, mereka melakukan bersih-bersih massal di sepanjang Malioboro. Ini diyakini sebagai satu bentuk ucapan terima kasih kepada Malioboro yang setiap harinya lelah oleh hiruk pikuk rupa-rupa aktivitas. Tanpa PKL, Malioboro tampak lengang, pedestrian melenggang di jalur lapang, pengunjung melungguhi bangku-bangku panjang tanpa terhalang pandang.

Malioboro bebas dari kendaraan bermotor menjadi agenda penting berikutnya. Sejak pukul 06.00 sampai 21.00 wib pada Selasa Wage 18 Juni 2019, untuk pertama kalinya, tak ada kendaraan bermotor lalu lalang di Malioboro, kecuali bus Trans Jogja, mobil patroli polisi, pemadam kebakaran juga mobil kebersihan. Ini semacam uji coba semi pedestrian, hasil kesepakatan bersama Pemkot dan Pemda DIY.

Agus pelukis jalanan Malioboro. (foto: nina)

Agus, pelukis wajah yang mangkal di sisi timur jalan Malioboro mengaku pengap oleh asap knalpot saban harinya. Apalagi jika arus lalu lintas sedang macet dan memang beginilah sehari-hari jalanan di Malioboro. “Nyaman, lega, nggak polusi,” komentar Agus saat menikmati Malioboro bebas kendaraan bermotor.     

Selang 35 hari berikutnya, Selasa Wage 23 Juli 2019, ada yang baru di Malioboro. Selain kosong PKL dan bebas polusi asap kanalpot, ada agenda seni budaya tersebar merata dari depan Hotel Inna Garuda di utara sampai ke Titik Nol di sisi selatan. Rupa-rupa wujudnya, ada wayang beber, pemutaran dan diskusi film, njathil bareng polisi, gelar seni dan potensi UKM, barongsai, pembelajaran pantomim, aneka macam ekspose diantaranya ekspose permainan tradisional dakon dan lain sebagainya. 

Untuk kedua kalinya, Malioboro menggelar acara seni budaya Selasa Wagen pada 27 Agustus 2019. Sama seperti yang pertama, aneka kegiatan seni budaya digelar di jalan sepanjang dua km itu, namun materi acara dikemas berbeda. Ada flasmob dan ekspose senjata. Kian sore pengunjung kian bertambah, semakin malam pun arus pengunjung yang memadati Malioboro tambah berjibun.        

“Kegiatan Malioboro Selasa Wagen merupakan terobosan kreatif yang cemerlang. Ruang publik temporer tercipta dengan luasan yang signifikan. Ini bisa menjadi wisata unggulan baru bagi kota Yogya,” kata Wuryanto yang juga menjabat Koordinator Daerah (Korda) Indonesia Creative Cities Network (ICCN) untuk Propinsi DIY. Menurutnya, Selasa Wagen potensial menjadi festival jalanan yang menjanjikan. “Bahkan ia akan menjadi salah satu ikonik yang memberikan ingatan kolektif baru terhadap kota Yogya,” tambahnya.       

Lucia Kurniawati. (fofo: nina)

Lucia Kurniawati, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelatihan Kepariwisataan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta akur dengan Wuryanto. “Selasa Wagen menguatkan pariwisata Yogya yang berfokus pada budaya. Budaya menjadi rohnya wisata Yogya.” tutur Lucia.  Pemerhati pariwisata ini memaparkan, wisatawan merasa belum ke Yogya bila tidak menginjakkan kaki di Malioboro. Sehari-hari tempat ini penuh orang, sesak pedagang, lalu lintas macet. “Wisatawan tidak menemukan kekhasan Yogya yang katanya istimewa dari sisi budaya bila hanya mendapati Malioboro yang ruwet,” tambahnya.

***

Yang ingin menyaksikan band performance di Malioboro pun bisa. (foto: nina)

Selasa Wagen menjadi spirit baru wisata budaya di Pedestrian Malioboro Yogyakarta.  Segala daya upaya mesti digali, inovasi baru dimunculkan dan dipupuk agar ia kian memancarkan pesonanya. Sederet titik-titik yang relevan untuk memekarkan keelokan itu dibeberkan Wuryanto. 

Pertama, durasi Selasa Wagen.  Selasa Wagen berlangsung selama limabelas jam (06.00-21.00), dalam tenggang waktu 35 hari sekali. Memberikan kesempatan lebih lama kepada wisatawan untuk menikmati Selasa Wagen menjadi penting. “Durasi waktu Selasa Wagen idealnya 24 jam,” usul Wuryanto. Untuk kepentingan itu diperlukan tata kelola yang profesional. Framing atau bingkai waktu pun mesti ditegakkan. Misal, anak-anak tidak diperkenankan melebihi jam tertentu apalagi jika Selasa Wagen jatuh pada hari aktif sekolah. Pengadaan sistem keamanan yang ramah dan profesional menjadi agenda berikutnya. Contohnya, petugas keamanan mengenakan kostum lokal, surjan atau kebaya, dengan desain yang luwes tapi berkarakter. Saat ini, petugas keamanan sehari-hari di Malioboro diemban oleh Jogoboro yang berkostum hitam-hitam. CCTV pun wajib dipasang dalam sebaran yang merata dengan gedung kontrol yang terletak di areal Malioboro. 

Senada dengan Wuryanto, seniman teater kawakan Butet Kartaredjasa sepakat menambah waktu Selasa Wagen. Namun, Butet mengusulkan jumlah harinya yang ditambah. “Jangan setiap tigapuluh lima hari sekali, kelamaan, tetapi dibuat lebih sering,” tutur aktor serba bisa ini saat menikmati Selasa Wagen (27/8)  bersama istri tersayang.

Kedua, pengembangan area publik sampai ke kampung yang melekat di sisi timur dan barat Malioboro. “Lihatlah kampung Ketandan yang bisa dipenetrasikan sebagai kawasan Cina Town-nya Yogya,” kata Wuryanto. Pengembangan ini akan menjadi narasi baru yang segar. Ia memperkuat karakter Malioboro sebagai urban heritage, sebuah kawasan wisata budaya yang merangkul masyarakat sekitar untuk turut berunjuk peran. Pada Selasa Wagen (27/8) kampung pecinan Ketandan mempersembahkan Barongsai tepat di gapura bagian depan yang langsung menghadap Malioboro.

Ketua Sanggar Sedulur Nyeni Yogyakarta, Sukoco Hayat DP, menyatakan persetujuan terhadap wacana pemekaran kampung di kiri kanan Malioboro sebagai kawasan penunjang wisata budaya. “Tembok-tembok terbuka di kampung seputar Malioboro sebaiknya dilukisi. Mural-mural yang tersebar merata di seluruh tembok kosong yang ada di gang-gang perkampungan itu akan menjadi daya tarik baru pendukung wisata budaya Malioboro,” kata Sukoco. Tak sembarang mural tentu saja, gambar-gambar yang bertemakan seni budaya menjadi ketentuan wajib. “Ini bisa menjadi sumber pesona baru sekaligus menambah spot foto,” tambahnya.

Ketiga, pengadaan management events Selasa Wagen dengan anggota para pegiat seni budaya. Di sini, Wuryanto menegaskan, kehadiran pengelola sebuah acara yang berkompeten akan memicu kreativitas. Management events ini merancang acara bukan sekedar menerima pendaftaran para pengisi acara.

Dua kali sudah acara Selasa Wagen digelar. Masyarakat yang hendak mengisi acara di panggung-panggung atau pelataran pedestrian, mendaftarkan diri ke Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengelolaan Kawasan Malioboro. “UPT mengkoordinasikan, berapa jumlah pendaftar lalu kita sesuaikan dengan tempat yang ada,” papar Drs Ekwanto, kepala UPT.

***

Drs Ekwanto. (foto: nina)

Semua agenda Selasa Wagen, menurut penuturan Ekwanto, masih dalam taraf uji coba. Plus dan minusnya dicatat dan dikaji. Hasil telaah itu akan menjadi pijakan untuk menggulirkan kebijakan selajutnya. 

Ekwanto mengaku mendapatkan protes dari para PKL di Malioboro. Sebab, pada hari Selasa Wage yang telah disepakati bersama bahwa PKL libur, masih ada PKL yang diam-diam berjualan. “Mereka telah kami amankan,” kata Ekwanto tanpa menjelaskan lebih lanjut seperti apa bentuk pengamanan itu, di mana mereka diamankan dan sanksi apa yang mereka dapatkan. Pejabat di lingkungan Dinas Pariwisata Yogyakarta ini hanya memberikan informasi tambahan bahwa ada yang membekingi PKL nakal itu.   

Lucia Kurniawati menanggapi sebagai suatu hal yang wajar bila  pada Selasa Wage kegiatan ekonomi menurun di pusat perdagangan Malioboro. Tak hanya PKL yang blong transaksi karena memang tak ada aktivitas jual beli, toko-toko pun megalami penurunan omzet. “Pembeli malas berjalan kaki dari tempat yang jauh,” ujar  Lucia.

Suroso, karyawan di sebuah barbershop di Malioboro Mall menyampaikan hal sama. Jasa potong rambut di tempatnya bekerja, sepi transaksi di hari Selasa Wage. “Cari makan juga susah, karenanya setiap hari Selasa Wage saya membawa bekal,” ucap Suroso. Membawa bekal ia lakukan setelah mendapati fakta bahwa di hari Selasa Wage, warung-warung makan di gang-gang sekitar Malioboro ramai. “Mau beli lotek (semacam gado-gado khas Yogya) satu bungkus saja harus antre lama sekali,” tambahnya.        

Yuni, pedagang angkringan di salah satu gang sisi timur Malioboro bersaksi bahwa dirinya tak mengalami panen pada hari Selasa Wage. “Biasa saja pembeli di sini, saya tak menambah dagangan. Orang-orang itu jalan-jalan, bukan untuk makan-makan. Hanya karyawan toko pelanggan saya,” papar Yuni.

Ismadi, tukang becak asal Parakan, Temanggung. (foto: nina)

Ismadi, tukang becak asal Parakan, Temanggung, Jawa Tengah memberikan kesaksiannya. Pada event Selasa Wagen (27/8) sampai dengan pukul 16.30 ia telah mengantongi Rp 70.000.  “Hari-hari biasa, dapat limapuluh ribu susah sekali. Paling-paling empat puluh ribu,” kata Ismadi yang mengaku mengoperasikan becak milik seorang juragan.

Panen raya di event Malioboro Selasa Wagen diperoleh Jogja Bike. Jasa persewaan sepeda itu beromzet enam kali lipat dibanding hari-hari biasa. “Omzet kami mencapai sekitar enam juta rupiah,” kata seorang personil Jogja Bike. Jasa sewa sepeda ini terselenggara berkat kerja bareng Pemkot Yogya dengan PT Trijaya Komunika.

Damar Tanisya Dari Jogja Bike siap melayani pedestrian yg ingin menyewa sepeda. (foto: nina)

Mudah sekali proses untuk mencarter kereta angin ini. Pelanggan harus menggunakan hape pintar untuk mengunduh aplikasi di Inabike melalui Play Store. Ikuti proses dan lakukan top up minimal Rp 10.000. Saldo akan berkurang Rp 5.000 untuk satu jam pertama atau kurang dari satu jam. Setelahnya, per menit pemakaian sepeda dihargai Rp 69. Tak hanya untuk nggowes di Malioboro, pelanggan bisa mengayuh keliling kota, asalkan sepeda dikembalikan lagi di tempat semula. Titik-titik parkir sepeda tersebar dari perempatan Tugu hingga seputaran Titik Nol. Untuk sementara, Jogja Bike belum bisa melayani pengguna I-phone.

***

Ibarat cermin, hasil uji coba pedestrian Malioboro akan menjadi bahan pertimbangan para pengambil kebijakan. Tampaknya akan ada kebijakan baru. Ekwanto memberikan informasi bahwa Selasa Wagen akan mengalami perubahan waktu. “Agenda Selasa Wagen akan digeser ke Selasa-Selasa lainnya entah Pahing, Pon, Kliwon atau Legi. Bahkan mungkin Sabtu atau Minggu bersamaan Car Free Day (CFD),” jelas Ekwanto. Ketua UPT Pengelolaan Kawasan Malioboro ini menegaskan bahwa pergeseran waktu itu masih dalam koordinasi intensif antara Dishub Kota Yogya, Dishub DIY, Polresta Yogya serta Dinas Pariwisata. Perubahan waktu itu akan dilaksanakan, kemungkinan, setelah dua atau tiga kali lagi event Selasa Wagen mendatang.        

Alasan yang mendasari rencana pergeseran waktu adalah mengembalikan Selasa Wage kepada cita-cita semula yakni mengistirahatkan Malioboro dari segala bentuk rutinitas. Seluruh elemen masyarakat Yogya melakukan bersih-bersih. Ide awal, Selasa Wage adalah hari sirep atau sepi tak ada kegiatan PKL di Malioboro. “Selama dua kali event Selasa Wagen kami malah panen sampah,” ucap Ekwanto. Dijelaskan, pada event seni budaya yang akan digeser waktunya di hari lain itu PKL boleh berjualan. Ini akan memberikan dampak positif terhadap kegiatan ekonomi di Malioboro.      

Data Pendapatan Asli Daerah (PAD) Yogyakarta dari sektor pariwisata menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Ekwanto menyatakan event seni budaya di CFD sebagai ganti Selasa Wagen tentu akan lebih menggerakkan roda perekonomian, mengingat PKL tetap bisa beraktivitas. Seorang pedagang makanan lesehan di Malioboro mengaku beromzet lebih satu juta rupiah per hari. Sementara Lucia menyatakan bahwa industri pariwisata tidak berdiri sendiri. Ia memberikan multiplier effect kepada aktvitas ekonomi yang terkait seperti transportasi, penginapan, kuliner, oleh-oleh, dan jasa-jasa lainnya.

Malioboro memiliki nama besar dan sejarah panjang. Ia telah merekam peristiwa politik, sosial dan budaya yang berkarakter kuat. Pedestrian kota berbasis seni budaya di tempat ini mampu menjadi destinasi wisata unggulan tak hanya di lingkup nasional, bahkan dunia. Menurut Wuryanto, ada tiga hal yang tak boleh ditinggalkan dalam pengelolaan Pedestrian Malioboro yakni tata ruang, tata kelola, dan manajemen.

“Khusus tata kelolanya dibuat open mainded, luwes, demokratis namun tegas berkarakter,” katanya. Ia menyarankan agar tata kelola ini diserahkan kepada badan khusus yang berperan lebih menonjol dan diberi otoritas penuh. Sementara Pemerintah dibatasi pada perannya sebagai pelindung dan penyedia fasilitas.         

Belum lama ini Presiden Joko Widodo menyebut sepuluh destinasi wisata unggulan, empat di antaranya masuk kategori prioritas untuk tahun 2020: Candi Borobudur, Labuan Bajo (NTT), Mandalika (NTB) dan Danau Toba (Sumatra Utara). Bukan tidak mungkin, ke depan Pedestrian Malioboro akan disebut presiden dalam Rapat Kabinet yang membahas destinasi wisata unggulan kesebelas dan seterusnya. Tak menutup kemungkinan pula, akan ada jalan bebas hambatan atau jalur Mass Rapid Transit (MRT) yang menghubungkan New Yogyakarta International Airport (NYIA) langsung ke pelataran Pedestrian Malioboro, seperti penumpang kereta api yang menginjakkan kakinya di Stasiun Tugu Yogyakarta tepat di sisi utara Malioboro. (Ernaningtyas)

Video Selasa Wagen:

Galeri Selasa Wagen:

Tall bike parkir di pinggir Jalan Malioboro. (foto: nina)
Yuni, pedagang angkringan di sisi timur Jalan Malioboro. (foto: nina)
Penikmati “Selasa Wagen” juga bisa bergaya ala prajurit Serangan Umum 1 Maret, lengkap dengan senjata laras panjang. (foto: nina)
Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *