Peningkatan Kapasitas di The Hague Academy

 Peningkatan Kapasitas di The Hague Academy

Saat kegiatan short course oleh pihak penyelenggara. (Foto: Ist)

Jayakarta News – Dalam banyak hal, Belanda masih menjadi pusat pendidikan. Sejak zaman Hindia Belanda, tidak sedikit putra bangsa yang belajar di sana. Sebagian besar pejuang kemerdekaan kita, pernah mengenyam pendidikan di Belanda.

Tradisi itu bahkan masih berlangsung hingga hari ini. Selain nama-nama perguruan tinggi yang kesohor di Leiden, Delf, Amsterdam, juga di Den Haag. Salah satu yang belakangan banyak jadi rujukan untuk belajar ilmu administrasi negara adalah The Hague Academy for Local Governance.

Selain kelas reguler, The Hague Academy juga menyelenggarakan training singkat (short course), seperti yang baru saja diikuti Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MA, dosen FISIP Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh, Aceh. “Saya berkesempatan mengikuti short course di The Hague Academi periode 26 Oktober – 9 November 2019,” ujar Said Achmad kepada Jayakarta News hari ini (21/11).

Dikisahkan, untuk bisa ikut kelas itu, ia harus melalui tahap seleksi antara lain melalui karya tulis (paper) yang berisikan tujuan belajar ke The Hagua Academy. Selain itu, harus lolos seleksi nuffic scholarship. “Pesertanya dari seluruh negara yang menerima beasiswa nuffic,” tambahnya.

Dalam acara tersebut keikutsertaan para  peserta ditargetkan ada peningkatan kapasitas sebagai sumber daya manusia, utamnay di beberapa negara berkembang, yang terdiri dari 16 peserta dari 11 negara. Peserta terdiri dari berbagai profesi mulai dari staf kepresidenan negara Afganistan, kemudian direktur kementerian kehakiman negara Albania, lalu pejabat UNDP Ethiopia, pejabat pemerintah Daerah Mindanao Philipina, pejabat program perdamaian republik rakyat Kongo, anggota DPR Kenya, Staf Kementerian Kehakiman Uganda, pejabat pemerintah Sudan Selatan dan Kolombia, serta perwakilan dosen dari Indonesia.

Said Achmad Kabiru Rafiie SE MBA sebelah kiri menggunakan jas hitam berfoto bersama para peserta short course. (Foto: Ist)
Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA, saat menerima sertifikat dari pihak penyelenggara short course. (Foto: Ist)

Kemudian Achmad mengatakan, “Dari Indonesia ada dua orang yang mengikuti training singkat di The Hague Academy for Local Governance di Ibu kota Belanda Den Haag. Pertama saya Said Achmad Kabiru Rafiie, SE, MBA dari UTU dan satu lagi Dr Mirza dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin,” tambahnya.

Dalam training ini, tema yang dibahas meliputi masalah pembangunan daerah pasca konflik, penguatan kapasitas pemerintah daerah, penguatan keamanan untuk memastikan investasi, serta kunjungan ke beberapa institusi pemerintah dan lembaga internasional di Belanda antara lain asosiasi pemerintah daerah Belanda di kota Den Haag.

Selain itu juga ke badan penangulangan bencana Leiden serta mahkamah agung. Kota Den Haag merupakan kota diplomatik dan tempat dilangsungkan Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949. Kemudian beberapa lembaga internasional yang juga dikunjungi yaitu parlemen Belanda, lembaga pengadilan internasional dan pengadilan arbitrase internasional, serta istana perdamaian.

Selama 18 hari berada di Belanda, banyak mendapat pembelajaran dari berbagai pakar dari berbagai ahli pemerintah, ekonomi, politik, hukum. Dalam kesempatan itu, Said Achmad Kabiru Rafiie menjelaskan tentang Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia untuk menyatukan 260 juta jiwa penduduk dari berbagai suku bangsa, dan agama di bawah ideologi Pancasila dalam menenun kebersamaan. Hal ini menjadi modal bagi bangsa Indonesia dan model bagi negara lain.

“Keikutsertaan dalam short course di The Hague Academy for Local Governance di Ibu kota Belanda Den Haag ini sesuai dengan kebutuhan kerja,” ujar Achmad. (Monang Sitohang)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *