Connect with us

Kesehatan

Kemenkes Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Hantavirus

Published

on

Alur penyebaran hantavirus. (Foto RSPI)

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat kesiapsiagaan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging, termasuk Hantavirus. 

Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes, Obrin Parulian, mengatakan kasus penyakit infeksi emerging masih menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan nasional maupun global. Ia menegaskan, Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan meskipun risiko penyebaran Hantavirus secara global dinilai rendah.

“Kasus penyakit infeksi emerging sampai saat ini masih menjadi tantangan tersendiri yang sangat serius bagi sistem kesehatan kita, termasuk juga di tingkat global,” ujar Obrin dalam webinar pembaruan kasus penyakit infeksi emerging, di RSPI Sulianti Saroso Jakarta, Rabu (13/5/2026), dilansir InfoPublik.

Menurutnya, kasus di kapal pesiar MV Hondius diketahui disebabkan oleh Hantavirus tipe HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome). Berdasarkan penilaian risiko WHO 2026, potensi penyebaran virus tersebut secara global memang rendah, namun pada kasus MV Hondius tingkat risikonya dikategorikan sedang.

23 Kasus Hantavirus

Obrin menjelaskan, di Indonesia penyakit virus Hanta ditemukan 23 kasus terkonfirmasi tipe HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome). Temuan tersebut menunjukkan sistem surveilans nasional telah mampu mendeteksi penyakit tersebut. “Ini menunjukkan dari sisi surveillance kita patut berbangga mampu menemukan kasus ini, mengingat penyakit virus Hanta belum ada obat spesifik dan juga belum ada vaksinnya,” katanya.

Ia menambahkan, tingkat kematian atau case fatality rate Hantavirus dapat mencapai 50 persen tergantung jenis virus yang menginfeksi. “Karena itu, ini tetap harus menjadi perhatian dan kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, terutama mengingat Indonesia memiliki banyak pintu masuk internasional yang berisiko menjadi jalur importasi kasus,” ungkapnya. 

Obrin menyebut pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran besar mengenai pentingnya kesiapsiagaan sistem kesehatan. Menurutnya, fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki standar pelayanan dan respons cepat dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging menjadi kebutuhan esensial.

“Kita betul-betul harus menerapkan kesiapsiagaan sistem kesehatan kita. Dalam sistem ketahanan kesehatan nasional, terdapat empat tahapan operasional penting yang harus diperkuat, yakni prevensi, deteksi, respons, dan recovery atau pemulihan,” jelasnya. 

Tahap prevensi dilakukan melalui penguatan surveilans terintegrasi dan riset klinis untuk meningkatkan kemampuan pencegahan, diagnosis, dan tata laksana kasus. Tahap deteksi mencakup kemampuan menemukan kasus berbasis sindrom maupun laboratorium.

Sementara tahap respons dilakukan melalui penatalaksanaan kasus secara tepat, termasuk rujukan pasien dan spesimen laboratorium bila diperlukan. Adapun tahap recovery mencakup pemulihan fungsi pelayanan kesehatan yang terdampak situasi wabah atau pandemi. “Keempat tahapan tersebut sangat krusial dan membutuhkan dukungan kerja sama multisektor, baik sektor kesehatan, akademisi, pemerintah daerah, maupun masyarakat,” ujarnya.

Sebagai bentuk kewaspadaan, Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit telah menerbitkan surat kewaspadaan penyakit virus Hanta kepada seluruh fasilitas kesehatan di Indonesia.

Dalam arahannya kepada fasilitas kesehatan, Obrin menekankan pentingnya penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) dengan benar, terutama setelah kontak dengan pasien suspek Hantavirus.

Ia juga meminta fasilitas kesehatan memperkuat kapasitas deteksi dan respons sesuai pedoman yang berlaku, termasuk menyiapkan standar prosedur operasional penatalaksanaan pasien penyakit infeksi emerging.

Selain itu, fasilitas kesehatan diminta segera melaporkan setiap kasus suspek secara berjenjang kepada dinas kesehatan setempat dan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit agar sistem kewaspadaan dapat segera diaktifkan. Khusus rumah sakit, Kemenkes meminta pembaruan data ketersediaan fasilitas dan alat kesehatan dilakukan secara berkala melalui sistem rumah sakit online.

Obrin juga mengingatkan pentingnya edukasi yang benar kepada masyarakat untuk mencegah kepanikan akibat informasi yang tidak akurat terkait Hantavirus. “Tadi malam saya masih cross-check dengan teman-teman di RSPI bahwa yang diisolasi di sana negatif virus Hanta. Jadi negatif, hanya dilakukan pemantauan karena kontak erat dengan kasus dari MV Hondius,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat menerapkan protokol kesehatan, menghindari kontak langsung dengan tikus sebagai reservoir virus, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi Hantavirus. (*/di)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *