Etika Penting Setelah Bercerai, Jangan Membuka Aib Mantan

 Etika Penting Setelah Bercerai, Jangan Membuka Aib Mantan

Joyce Djaelani Gordon

Jayakarta News – Perceraian. Pasti membawa kisah sendiri bagi mereka yang mengalaminya. Namun, jika yang bercerai itu adalah tokoh atau artis, bisa membawa banyak cerita untuk media. Apalagi, kalau sang tokoh tidak sungkan menuturkan aib sang mantan. Ini akan menjadi “telenovela” berseri yang menarik. Makanan asik bagi media untuk disuguhkan ke publik yang memang rata-rata “lapar” akan kisah para seleb dan tokoh.

Membicarakan aib mantan, yang sebelumnya pernah dicinta, ini menggambarkan adanya kemarahan, adanya luka. “Kemarahan dan luka hati itu yang membuat orang membuka aib orang yang dulu pernah dicintainya,” ujar Joyce Djaelani Gordon kepada Jayakarta News.

Menurut Psikolog yang juga Direktur Pusat Perawatan Pecandu, YAKITA (Yayasan Harapan Permata Hati Kita), “Etikanya sebetulnya cukup mengatakan tidak ada kecocokan lagi, dibandingkan untuk membicarakannya di depan umum, kecuali dengan anggota keluarga dan pengadilan. Sebetulnya hal seperti itu kurang baik dibahas di media.”

Namun karena orang yang membahasnya adalah ‘tokoh’, padahal itu kehidupan pribadinya, maka yang terlihat seolah seperti pihak yang suka bergunjing. Bukan saja bagi orang tersebut, pihak media pun terlihat seperti suka bergunjing. “Pada saat yang bersangkutan sedang sakit hati, akhirnya jadi bicara panjang lebar. Di satu sisi orang perlu ‘berbagi’ atau sharing tapi media bukan tempat tepat untuk ‘sharing’ luka hati. Dan seringkali justru keluar dari kisah yang sesungguhnya juga,” papar Joyce lagi.

Bila terjadi demikian, menurut Joyce, ini sangat menyakitkan bagi anak-anak mereka. “Meski ada mantan istri, mantan suami, mantan mertua, ingat bahwa tidak ada mantan anak. Ia masih menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya. Bukan salah satu,” ujar Joyce melalui pesan WA-nya.

Kewajiban memandu anak mendewasa, adalah tanggung jawab kedua orangtua, meskipun sudah bercerai. “Jangan ceraikan anak dengan orangtuanya kecuali bila membahayakan anak.”

Untuk itu, ada etika yang seharusnya tidak dilanggar ketika perceraian terjadi. Menurut Joyce, “Upayakan untuk tidak saling membuka aib satu sama lain dengan mempertimbangkan bahwa semakin banyak bicara, akan banyak misinformasi dan gosip yang berkembang. Bila punya anak, hal ini juga akan sampai ke telinganya, dan bukan tak mungkin menyakitinya secara tidak perlu.”

Kecenderungan untuk merasa paling benar dan menjatuhkan pihak lain perlu dihindari. Bagaimanapun, kata Joyce lagi, “Pasangan yang anda ceraikan itu, juga merupakan orang yang paling anda cintai dahulu hingga dibawa ke perkawinan. Sakit hati yang terbesar, seringkali karena cinta yang juga besar dan harapan yang kandas. Dan perkawinan bisa berhasil atau kandas karena dua orang yang tidak menemukan kecocokan lagi.”

Sebagai seorang psikolog, Joyce mengingatkan bagi mereka yang bercerai, dan merasa perlu bicara untuk mengeluarkan rasa sakit hati, depresi, kekecewaan yang mendalam soal mantan pasangan, bicarakan dengan seorang konselor atau psikolog yang bisa menjaga rahasia. “Jangan tumpahkan ke sembarang orang yang bisa justru menyebarkan sembarangan dengan tambahan bumbu-bumbu yang tidak pada tempatnya.”

Hal yang juga penting, kata Joyce, “Bila anda tokoh yang dikenal, jaga agar tidak menjatuhkan orang lain secara publik. Kenali bahwa ada kemungkinan berita berkembang dengan bumbu yang merusak dan memperpanjang masalah yang kerap berujung dengan saling menjawab dan mencela. Tindakan ini tidak dewasa dan kalau ada yang bertanya, jawab saja ‘tidak ada komentar’, itu yang paling bijak dan paling menjaga perasaan seluruh keluarga besar dan anak.” (Melva Tobing)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *