• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Gerundelan Indra Tranggono di Mulut Para Perempuan

Gerundelan Indra Tranggono di Mulut Para Perempuan

July 29, 2019
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

Pastikan Kelancaran Distribusi Jagung SPHP, Dirut BULOG  Tinjau Langsung Pengapalan di Makassar

October 23, 2026
Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

Dubes Agus Priono Ungkap Banyak Pekerja Migran Indonesia di Suriname Datang secara Perseorangan

October 23, 2026
Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

October 23, 2026
Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

Warga Makassar Padati Lokasi Gerakan Pangan Murah, BULOG Salurkan 1,5 Ton Beras

October 22, 2026
Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

Rehabilitasi Irigasi di Bangli Berikan Manfaat bagi Petani, Perbaikan Saluran Terus Dioptimalkan

October 22, 2026
Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

Ketika Para Penjaga Nurani Bangsa Mendesak Gibran Mundur sebagai Wakil Presiden

October 22, 2026
Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

Letjen Iwan Setiawan, Dari Everest ke Kostrad”

October 22, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Sunday, October 25, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Feature

Gerundelan Indra Tranggono di Mulut Para Perempuan

by admin
July 29, 2019
in Feature
0
Gerundelan Indra Tranggono di Mulut Para Perempuan
523
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan Pementasan “Perempuan-Perempuan Pembebas” oleh Steja

Oleh Odi Shalahuddin
Lima perempuan yang terpenjara. (foto: odi shalahuddin)

Jayakarta News – Lima perempuan dengan permasalahannya masing-masing, berhadapan dengan negara, bermuara satu, pada nasib buruk: penjara! Keprihatinan ditunjukkan oleh seseorang yang bernasib baik, perempuan juga, yang dapat menduduki jabatan kepala penjara di penjara umum.  Keprihatinan yang berlanjut pada pembelaan, dengan cara melakukan pembiaran, ketika seorang narapidana dengan diam-diam merancang pelarian dengan model lama: menggali lubang dari sel tempat mereka menuju alam kebebasan terbuka. Selanjutnya mengajak para napi perempuan lainnya bersama-sama untuk kabur. Berhasil!

Namun nasib buruk kemudian menimpa perempuan beruntung itu, sang kepala penjara, yang terbongkar telah melakukan pembiaran, oleh anak buahnya sendiri, kepala sipir laki-laki yang sebelumnya selalu dipromosikan.

Demikianlah ringkas kisah “Perempuan-Perempuan Pembebas” karya Indra Tranggono, yang oleh Sinergi Teater Jogja (Esteje) dipanggungkan di Societet Taman Budaya Yogyakarta, 26 Juli 2019.

Tidak ada tokoh utama dalam kisah tersebut. Semua tokoh dapat menempatkan diri sebagai sosok penting dalam lakon ini, dengan masalahnya masing-masing. Maka, tentang siapa dengan nama apa, juga bukan soal penting. Terpenting adalah siapa yang mampu menampilkan diri, mengungkapkan masalah yang mampu menyentuh hati, menggugah nurani dan membuat siapapun yang mendengar kisah mereka dilanda kegelisahan, setelahnya.

Nunung Rieta sebagai Geza. (foto: odi shalahuddin)

Monolog dan Dialog

Bermonolog itu bebas. Bebas berkisah tentang dirinya, bebas menuangkan perasaan dan pikiran-pikirannya. Pada kasus ini bolehlah saya mengatakan sebagai gerundelan. Gerundelan keprihatinan sang pengarang atas situasi sosial-politik yang dalam praktiknya tidak mencerdaskan, tengah melanda negeri ini baik dari sisa masa lalu hingga terkini.

Mulut perempuan, menjadi alat yang efektif. Selain kerap menjadi korban, perempuan mampu bertutur dengan perasaan yang dapat menggugah pendengarnya, perempuan juga mampu mengungkapkan kemarahannya yang bisa jadi tak terkendali, jika sudah tergerak, perempuan dapat menjadi pejuang tak kenal lelah.

Maka, ini menjadi tantangan bagi sang sutradara, Luwi Darto, seorang perempuan, agar mampu menampilkan gerundelan-gerundelan ini menjadi suatu pertunjukan menarik yang mampu menjaga penonton dan pendengarnya tidak bergeser dari tempat duduknya, mampu membangun keprihatinan dan memunculkan empati kepada para perempuan yang telah menjadi korban, mampu membangkitkan kesadaran tentang adanya ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan, marah kepada negara yang abai atau tidak hadir di saat dan tempat yang dibutuhkan.

Mengenai para pemain, tentulah Luwi Darto tidak mengalami kesulitan. Semuanya adalah aktor-aktor yang memiliki pengalaman panggung. Atau seperti penegasan dari Indra Tranggono “Rata-rata mereka adalah lulusan ISI jurusan teater. Jadi secara teknis mereka cukup menguasai seni peran. Mereka juga cukup piawai dalam olah tafsir atas tokoh yang dimainkan,” ujarnya.

Maka bermonolog-lah mereka satu persatu. Lantaran ini bukan pesta monolog, melainkan pentas teater, dialog antar orang dapat ditempatkan sebagai variasi, guna mengarahkan atau mempertajam kisah mereka. Benang merah antara satu tokoh dengan tokoh yang lain dipertemukan bahwa mereka sama-sama sebagai korban yang mengakibatkan mereka terkerangkeng kebebasannya, berada dalam sel buruk yang busuk, dan berpotensi pula – sebagai perempuan – menjadi korban para sipir yang nota bene adalah laki-laki, yang bersifat seksual. Pertemuan juga dilekatkan pada harapan yang sama: kebebasan!

Hal ini sangat disadari oleh Luwi Darto. “Mengambil gaya monolog dan dialog, lakon ini digarap secara teaterikal, dengan basis realisme,” ujarnya. Kemudian dtambahkan bahwa pementasan ini memadukan bentuk realis dan non realis, demi menciptakan peristiwa dramatik. “Setiap adegan memiliki puncak dramatik. Puncak-puncak itu dianyam oleh persoalan dan alur hingga membentuk struktur dramatik.”

Saya kira Luwi Darto berhasil melaksanakan rencana-rencananya. Enam perempuan telah menunjukkan kemampuannya berakting, sesuai dengan peranan masing-masing, sebagai kepala penjara, Della, Shelly, Geza, Triska, Citra.

Pementasan “Perempuan-perempuan Pembebas”. (foto: odi shalahuddin)
Adegan dalam “Perempuan-perempuan Pembebas”. (foto: odi shalahuddin)

Pertunjukan

Adegan pembuka, lima narapidana di dalam sel yang diawasi oleh Kepala Sipir. Membangun gerakan-gerakan teatrikal. Selanjutnya, monolog oleh Kepala Penjara (diperankan oleh Candra Nilasari), mantan aktivis pergerakan, yang dapat menduduki kekuasaan tertinggi di dalam sebuah penjara, namun tiada kuasa pula untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Dia terperangkap pada zona nyaman yang telah didapatkannya.

Della (Estri Mega) muncul, menunjukkan kegeramannya sebagai seorang aktivis yang bergabung dengan sekelompok orang yang berjuang untuk mengubah sistem negara, dianggap makar, dan ia ditangkap dipenjarakan. Sementara patron-patron politiknya kabur ke luar negeri. “Mengapa hanya saya yang ditangkap? Negara harusnya menangkap pula mereka?” protesnya. Di tengah gerundelannya, hadir Shelly (Joana Dyah) dengan gerundelannya sebagai aktivis gerakan kiri baru, tersandung kasus pembunuhan, karena hakim senior yang konon akan membantunya, justru memperlakukan dia dengan buruk, nyaris memperkosa, dan pembelaan dirinya adalah menghujamkan pecahan botol ke dada sang hakim. Adegan berganti dengan monolog Geza (Rieta Nunung), istri dari seorang aktivis kiri, yang sosoknya telah menghilang. Tiada kabar apakah tertangkap, menghilang atau dihilangkan, tewas, tanpa proses hukum yang pasti. Tentunya kita dapat membayangkan, seseorang yang dirinya atau anggota keluarganya terlibat dalam organisasi terlarang, maka seluruh ‘hidupnya’ akan termatikan. Geza kemudian bergabung dengan organisasi kepercayaan yang membangun nilai-nilai untuk ketentraman jiwa bagi pengikutnya.

Sayang, ini dianggap sebagai ajaran sesat, dan para aktivisnya ditangkap atas desakan dari kelompok yang merasa memiliki kebenaran tunggal. Di tengah monolog Geza, muncul Triska (Luwi Darto) yang tengah mencari kucing kesayangannya. Pertanyaan yang terlontar, menghadirkan monolog Triska sebagai orang yang memiliki “kelebihan” untuk menerawang sesuatu. Anugrah tersebut membawanya pada situasi di mana ia menjadi tempat yang dimintai pertolongan oleh pihak kepolisian untuk membongkar kasus-kasus korupsi. Pelaku yang terkena kasus, memprovokasi bahwa Triska adalah penganut ajaran sesat yang juga menjadi “tukang santet” sehingga masyarakat marah dan membakar rumahnya. Adegan berganti, citra (Gea Mitha) seorang ibu muda yang harus dipenjara karena dinilai menyebarkan hoax.

Pembelaan dirinya, bahwa apa yang dikatakan adalah kebenaran, karena ia pernah menjadi bagian dari “kelompok kuasa” tersebut, tidak tergubris. Pada adegan Citra inilah dibuat jembatan dengan hadirnya tiga sipir yang kemudian diikuti oleh kepala sipir, yang kemudian melakukan pelecehan seksual dan hendak memperkosanya. Selanjutnya, empat perempuan hadir, menghibur dan berusaha menenangkan Citra. Pada saat itulah Triska membuka rahasinya bahwa ia telah mempersiapkan jalur pelarian untuk keluar dari penjara. Semua ikut, termasuk Citra yang semula ragu. Pelarian berhasil. Kepala Penjara puas. Ia merasa telah membantu para Perempuan itu untuk meloloskan diri.

Dokumen CCTV dan lainnya telah ia hapus dari komputernya. Sayang, kepala Sipir, dengan diam-diam telah meng-hack komputer kepala penjara. Ia telah mengambil data-data yang membuktikan keterlibatan Kepala Penjara yang mengakibatkan kaburnya para narapidana. Sang Kepala penjara ditangkap, kepala sipir naik pangkat menjadi kepala penjara. Kekuasaan perempuan berakhir dan kembali diganti oleh laki-laki.

Pentas “Perempuan-perempuan Pembebas”. (foto: odi shalahuddin)

Kolektivitas yang Tidak Terjaga

Luwi Darto sebagai sutradara tampaknya terlalu fokus pada permainan para pemerannya. Untuk ini, bisa dikatakan ia telah berhasil. Sayang, pada saat pementasan, Luwi Darto yang turut bermain, tidak terlihat totalitasnya.  Barangkali, situasi yang terjadi pada saat pementasan mempengaruhi konsentrasinya.

Hakekat kerja dalam pertunjukan teater adalah kerja-kerja kolektif. Betapapun baik permainan para pelakunya, jika tidak didukung dengan baik oleh bagian lain seperti tata suara, tata cahaya, tata busana dan make-up, dan properti, maka pertunjukan tidak dapat ditampilkan dengan baik atau tidak menghasilkan kerja kreativitas yang bermutu. 

Properti yang ditampilkan sangat sederhana. Tumpukan level yang membentang di tengah. Menyimbolkan kekuasaan yang hanya digunakan oleh Kepala Penjara dan Kepala Sipir. Sedang bagian tengah dimanfaatkan sebagai tembok sel yang dibobol untuk membuat jalur pelarian. Lalu ada jeruji yang terbagi menjadi dua untuk menggambarkan sel penjara. Dilengkapi properti kecil, seperti kardus-kardus, bola kristal, dan pistol bagi para sipir.

Kostum dan make-up bolehlah dikatakan berhasil dan mendukung karakter dari peranan yang dimainkan para pelaku.

Masalah yang menonjol dan sangat mengganggu jalannya pertunjukan adalah tata suara. Seluruh pemain dilengkapi dengan clip-on mic. Ini memang membuat rapi panggung dari mic-mic yang tergantung. Para pemain dapat bergerak bebas dengan suara yang dapat terdengar jelas. Barangkali itu asumsinya.  Dan barangkali tidak terbayang sebelumnya, jika pelaku berdialog dengan gerakan teatrikal dan ada sentuhan fisik yang kasar, yang kemudian menimbulkan suara kasar yang tidak enak terdengar. Belum lagi jika ada dialog para pelaku, satu clip-on mic tidak berfungsi, maka ketidakseimbangan suara yang terdengar akan sangat mengganggu. Kerapian dan kejernihan yang diharap, malah menjadi bencana. Apalagi, persoalan sudah muncul dalam adegan dialog pertama antara Della dan Shelly. Clip-on Mic Shelly tidak berfungsi. Tentang ini, ditambah lagi persoalan para pelaku yang berada di luar panggung, tidak mematikan clip-on-nya sehingga suara mereka sering muncul dan mengganggu jalannya permainan. Juga suara tukang yang tengah bekerja di luar gedung, terembes masuk ruang pertunjukan.

Satu kefatalan lagi, saat properti, jeruji dikeluarkan dan dimasukkan lagi karena belum saatnya. Kondisi panggung yang remang-remang membuat penonton dapat melihatnya dengan jelas. Apakah ini dipengaruhi oleh cahaya dari ruang monitor yang terang benderang sehingga tidak memaksimalkan tata lampu di panggung?    

Kekacauan ini pastinya diketahui oleh Luwi Darto, yang akhirnya mempengaruhi fokus permainannya sendiri. Apakah memang demikian?

Semoga saja kekcauan yang terjadi bukan lantaran keterbatasan dana. Ini merupakan tantangan  seperti dikatakan oleh Indra Tranggono dalam sambutan awalnya tentang meletakkan kekuatan daya kreatif di atas dominasi kuasa modal. Seiring menguatnya ekonomi neo-liberal, kehidupan berbeaya tinggi berdampak serius pada budaya, termasuk teater. Pertimbangan ongkos produksi tinggi, cenderung menjadikan masyarakat   gagap berteater. Ini bisa di atasi antara lain dengan kekuatan ide dan kreativitas yang mampu menekan dana.

“Perempuan-perempuan Pembebas”. (foto: odi shalahuddin)
“Perempuan-perempuan Pembebas”. (foto: odi shalahuddin)

Para Pemain

Secara umum, para pemain sudah menjalankan peranannya dengan baik. Nunung Rieta tampak menonjol permainannya. Ia sangat menjiwai peranan sebagai Geza, yang telah melewati masa-masa kehidupan berat sebagai seorang istri dari seorang aktivis politik kiri yang tidak tahu lagi keberadaannya. Ia yang menemukan jalan damai melalui kegiatan aliran tertentu yang mengedepankan cinta kasih, namun dianggap sesat, sehingga melemparkannya ke penjara. Kematangan jiwa telah diraihnya. Kelemahan yang tampak, ia masih terlalu serius dalam seluruh permainannya. Tatkala ia mendengar atau menghibur, selayaknyalah ada senyum, sebagai seorang tua menghadapi persoalan anak-anak muda. Permainan Seteng, sebagai seorang aktor lama, masih menunjukkan kehandalannya berperan sebagai seorang Kepala Sipir yang tegas dan licik untuk mencuri kesempatan atau peluang menaikkan posisinya. Humor yang tampaknya akan dibangun sebagai penyegar suasana oleh para sipir, kurang tereskplorasi. Khocil Birawa, misalnya, yang biasa berimprovisasi untuk mengundang tawa, kali ini sangat serius dan setia dengan naskah, walaupun sebenarnya terbuka peluang untuk itu. 

Ke Depan

Sebagai catatan atas naskah, sepertinya ini dibuat secara terburu-buru. Kendati lakon mengangkat persoalan penting yang perlu diperhatikan oleh negara, namun ada beberapa yang tidak sesuai dengan realitas. Sebagai contoh,  dialog citra kepada para sipir: “kalian mengaku mewakili negara? Tidak, tidak, negara tidak hadir…” kira-kira begitu.. Ini kesalahan fatal. Seorang yang berkonflik dengan hukum, keseluruhan prosesnya berhadap-hadapan dengan negara, dari mulai penangkapan hingga pemenjaraan. Ini satu-satunya kasus yang akan paling  memudahkan identifikasi apakah terjadi pelanggaran HAM atau tidak, dibandingkan kasus-kasus lain yang berhubungan dengan negara. Karena itulah, intrumen atau prosedur yang berlaku sangat ketat.  Berikutnya penangkapan kepala penjara yang dilakukan oleh sipir, yang sama sekali tidak memiliki kewenangan melakukan penangkapan. Akan lebih baik jika Kepala Sipir membawa aparat kepolisian, yang memang memiliki kewenangan menangkap seseorang.

Ke depan, kita masih berharap bahwa Steja akan hadir kembali dengan lakon yang semakin baik dan menunjukkan pertunjukan yang bermutu. Saya kira itu saja kesan saya sebagai seorang penonton. Semoga berkenan….

Yogyakarta, 28 Juli 2019

*) Odi Shalahuddin, penulis, pemerhati budaya, aktivis anak, tinggal di Yogyakarta

Tags: indra tranggonojayakartanewsstejateater yogyakarta
Share209Tweet131
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version