Aji Krisna: Angklung, Cinta, dan Wanita

 Aji Krisna: Angklung, Cinta, dan Wanita
Aji Krisna Yuliantara (foto: isw)

Jayakarta News – Menyukai budaya kekinian bagi kawula muda adalah hal lumrah, acap disebut sebagai kehendak zaman. Pada seni musik, misalnya, mereka atau anak-anak milenial biasanya suka band dengan lagu-lagu barat mutakhir. Genre musiknya bisa pop, jazz, rock, blues, klasik, dan lainnya.

Namun, apa yang sangat digandrungi Aji Krisna termasuk kecenderugan langka. Aji yang baru lulus SMA ini sejak SD hingga sekarang tak bisa dipisahkan dengan musik angklung. Bisa dijuluki artis anglung? “Ya, bisa begitu,“ kata putra bungsu dari empat bersaudara pasangan Dani Yuliantara dan Yeti ini.

Mungkin bisa dibilang wajar jika anak Priyangan menggeluti seni lokal daerahnya, angklung. Tapi Aji tak sekadar menekuni sebagai bagian dari kegiatan kurikuler di sekolah. Dengan minat, dengan emosi dan segenap perhatian jiwanya, langkah ke depannya pun dipilihnya yang terkait dengan komunitas musik anglung. Termasuk pilihan tempat studi. Ingin terus bisa menggeluti musik angklung meski sudah mahasiswa.

Pria kelahiran Bandung, 15 Juli 2000 ini selain ingin masuk jurusan Oseanografi atau ilmu kelautan ITB, alasan lainnya karena di ITB komunitas pemain angklung tetap eksis. Aji ingin menjadi bagian dari komunitas itu. “Saya pernah main musik angklung di ITB dan saya menjadi dirigennya. Juga main di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung,”  ujar Aji lagi.

Manurut Aji, angklung yang terbuat dari bambu dapat memainkan berbagai jenis musik, tak hanya lagu-lagu tradisional yang selama ini melekat dengan musik anklung, tapi juga bisa dangdut, pop, bahkan klasik. “Saya dulu tidak tahu musik klasik, tapi lewat angklung saya mengenalnya dan lalu menyukainya,“ papar alumnus SMA Pasundan, Bandung ini.

Walau tidak mengenal atau belum tahu lagu apa yang akan dimainkan dengan angklung, asal ada notasi baloknya, partiturnya, pasti bisa meskipun dengan nada rumit. Tentu, kata Aji, para pemain anglung dapat mendengarkan irama atau lagu aslinya terlebh dulu supaya alunan nada-nadanya lebih pas dan mengena. Dan tak lupa harus tahu nada dasarnya.

Dalam kelompok musik angklung di sekolahnya, Aji biasa pegang nada C, D, dan A. Atas pengalaman dan juga teman-teman grup angklungnya yang terdiri 45 orang, dia maupun temannya tidak akan pegang nada-nada angklung yang dimainkan bersamaan. “Suaranya ga enak, jadi lemah,“ tutur Aji yang kerap berperan sebagai dirigen dalam resital musik angklung.

Menjadi dirigen tidak harus memakai jas, kadang juga busana batik. Sementara para pemain angklung dalam pementasan seringkali mengenakan busana tradisional.

Aji Krisna saat menjadi dirigen bagi kelompok musik angklungnya. (foto: ist)

Tim angklungnya cukup kompak, baik dalam urusan berlatih maupun pentas, meski di antara anggota kini ada yang sudah bekerja. Kebanyakan anggota tim sudah saling mengenal keberadaan masing-masing karena bertemu sejak SD, lalu mereka masuk ke SMP yang sama, dan mereka kemudian pilih SMA yang sama.

Kebiasaannya bermain angklung tak hanya dilandasi hobi, tapi bagi Aji Krisna, musik angklung ini seperti membawa semangat dan inspirasi dalam kegiatan sehari-harinya. “Saya suka karena suaranya alami. Musik alami. Mungkin karena terbuat dari bambu ya,“ ucap Aji yang mencoba melukiskannya.

Ya, lantunan musik, utamanya angklung yang apabila kemudian tercipta sangat syahdu, tentu pendengarnya tak kan mampu melukiskan/membahasakannya. Karena musik adalah bagian dari tiga “nama” di dunia yang tak mudah dipahami/dimengerti. Ketiga nama itu konon adalah musik, cinta, dan wanita. (isw

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *